Aku Tak Tahan Memiliki Isteri Matre

Cewek matre sebaiknya kelaut aja, kalimat tersebut seperti dalam lirik lagu. Namun apabila dipikir secara jernih kata-kata tersebut memang ada benarnya juga, karena memiliki pacar atau isteri yang matre alias mata duitan akan menyengsarakan para suami di kemudian hari.

Bagaimana tidak tugas seorang suami adalah mencari nafkah untuk isterinya, walaupun terkadang untuk mendapatkan rizki, suami harus banting tulang, namun oleh isteri matre rizki yang diperoleh suami tidak dihargai. Karena isteri yang matre hanya memandang segala sesuatu dari uang, seolah mendewakan uang. Pepatah mengatakan ada uang abang sayang tidak ada uang abang ditendang.
Umumnya para lelaki tidak menyukai dengan sifat isteri yang mempunyai sifat mata duitan atau matre, dan tidak sedikit juga kasus para suami selingkuh karena didorong isteri yang matre karena umumnya para suami merasa tidak nyaman dengan isteri matre.
Seperti kisah yang menimpaku, sebut saja namaku Joni (bukan nama sebenarnya) aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan pemerintahan Kabupaten Majalengka. Sebenarnya usia pernikahanku dengan isteriku sebut saja namanya Dewi bisa dibilang cukup lama, kami berdua sudah menikah selama 20 tahun dan telah dikarunia dua orang anak.
Pada awalnya saat aku pertama mengenal Dewi dan memutuskan untuk menikahinya justru sifatnya tidak mata duitan, dia aku kenal sebagai wanita yang sabar dan penuh pengertian. Bahkan dia tidak mempersoalkan penghasilanku sebagai seorang tenaga honorer, karena dulu saat menikah dengan Dewi statusku belum menjadi Pegawai Negeri Sipil masih tenaga kontrak yang berpenghasilan pas-pasan, bahkan terkadang honor yang aku terima setiap bulannya tidak mencukupi kebutuhan keluargaku selama sebulan.
Untuk menutupi biaya hidup, terkadang aku mengambil side job diluar pekerjaanku sebagai sebagai tenaga honorer yakni menjadi ojek atau sopir. Dan alhamdulilah walaupun penghasilanku kecil namun berkah buat keluarga, isteriku pun tidak mempermasalahkan seberapa besar penghasilanku dia ikhlas menerimanya.
Setelah 17 tahun kami berumah tangga justru sifat mantan isteriku berubah drastis kini dia seoalah menuntut lebih dariku. Sementara penghasilanku sebagai staf PNS di salah satu dinas tidak mungkin bisa berpenghasilan seperti pejabat atau pengusaha. Alasan isteriku karena kebutuhan sekarang meningkat seiring anak-anak sudah mulai dewasa sehingga membutuhkan uang banyak untuk biaya sekolah dan lain-lain. Padahal selama ini kalau aku perhatikan sebenarnya dengan penghasilan sebulan sudah cukup untuk kebutuhan sehari maupun biaya sekolah anak-anak, namun isteriku menuntut lebih.
Awalnya saat isteri sudah menuntut lebih aku sebagai seorang suami mencoba memahami dan mengerti akan keinginannya, tentu saja aku pun berusaha sekuat tenaga bekerja maksimal untuk bisa membahagiakan isteri dan anakku. Bila perlu kembali mencari side job agar mendapat penghasilan tambahan.
Alhamdulilah usahaku mencari side job dikabulkan oleh Allah, selain menjadi PNS aku kini mempunyai bisnis kontrakan. Ajuan pinjaman ke Bank Jabar akhirnya dikabulkan, kemudian dengan modal pinjaman tersebut awalnya aku membangun 5 unit kamar kontrakan di lahan kosong yang lokasinya tidak jauh dari rumahku, dan kini kontrakan selalu penuh tidak pernah kosong dan setahun kemudian kamar kontrakanku bertambah menjadi 7 unit kamar.
Tentu saja aku senang karena sekarang aku sudah mempunyai penghasilan tambahan walaupun tidak banyak, apalagi gaji perbulanku kini berkurang karena harus dipotong untuk membayar cicilan hutang ke bank. Namun tidak masalah karena secara keseluruhan penghasilanku bertambah, dan secara otomatis nafkah yang akau berikan kepada isteriku kini makin bertambah.
Terus terang setiap hari aku hampir tidak memegang uang, karena uang gaji bulananku sepenuhnya diserahkan kepada isteriku. Biarlah dia yang mengatur segala kebutuhan keluarga termasuk biaya pendidikan kedua anakku, sementara uang yang aku pegang cukup untuk bensin dan rokok saja setiap harinya dan itu pun aku harus meminta terlebih dahulu ke isteriku.
Namun, kenyataannya apa walaupun kini penghasilanku sudah bertambah ternyata kebutuhan isteriku masih saja kurang dan menuntutku untuk mencari nafkah lebih banyak lagi. Tentu saja aku marah mendengar omongan dari isteriku tersebut, aku pun sempat bertanya kepadanya butuh uang buat apa lagi karena selama ini kebutuhan yang diperoleh setiap bulanya sudah lebih dari kata cukup? Namun mantan isteriku menjawab pertanyaanku dengan penuh amarah, menurutnya selama ini dirinya selalu bersabar apakah sekarang tidak boleh apabila dirinya menuntut lebih dariku.
Sebenarnya aku sih tidak keberatan dengan permintaan isteriku tersebut, namun ya mesti bertahap tidak bisa dipaksakan karena rizki itu sudah ada yang mengaturnya. Kalau boleh jujur terus terang lama kelamaan aku sudah mulai tidak nyaman dengan sikap isteriku yang kini berubah matrealistis dan hedonis, setelah aku selidiki kenapa sifat isteriku berubah belakangan diketahui isteriku kini bergaul dengan teman-temannya ibu-ibu komplek sebelah yang bisa dibilang terlalu gelamor.
Aku sempat mencoba menasehati isteriku agar merubah pola hidupnya salah satunya bergaul dengan ibu-ibu tetangga komplek. Bergaul tentu boleh saja akan tetapi alangkah bijak apabila kita tidak harus mengikuti gaya hidupnya, karena gaya hidup mereka tidak sesuai dan berbeda dengan keadaan ekonomi kita. Mengikuti kehidupan mereka sama saja dengan istilah besar pasak daripada tiang, dimana penghasilan yang diperoleh tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Pantas saja selama ini nafkah yang aku peroleh selalu saja kurang dimata isteriku, yang terpenting aku sudah menasehati isteriku.
Karena tugas seorang suami nomor satu itu memang bukan mencari nafkah, tugas seorang suami sesuai urutannya adalah mendidik istri, mendidik anak, mengelola rumah tangga, baru yang terakhir mencari nafkah. Dalam agama, nafkah itu sebagai penopang kepemimpinan keluarga.
Setelah tiga tahun lamanya aku mencoba memahami dan mengikuti kemauan isteriku, sementara isteriku sudah tidak aku nasehati akhirnya kesabaranku di ujung batas. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang matang akhirnya akupun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan isteriku alias bercerai.
Alasan perceraiku memang tidak seperti kebanyakan orang yang bercerai karena faktor kehadiran ketiga, justru dasar perceraianku dengan isteriku ini gara-gara sifat isteriku yang berubah menjadi matre alias mata duitan. Bahkan usia perkawinanku yang sudah menginjak 20 tahun lebih juga tidak bisa menyelamatkan keluargaku dari perceraian, keputusanku sudah bulat dan mungkin aku sudah tidak jodoh lagi dengan isteriku.
Banyak yang bilang, uang bukan segala-galanya. Tapi ketika tak punya uang, orang mau jadi apa saja dan melakukan apa saja. Istilah ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang ditendang sudah jelas-jelas mendiskreditkan kaum perempuan, tapi memang begitulah faktanya. Karena dimata isteri yang matre ini suami yang tak mampu menghasilkan uang untuk keluarganya sudah pasti dikelompokkan sebagai suami yang tak bertanggung jawab. Dan sudah jadi cerita umum bahwa kebanyakan istri jadi pada akhirnya tidak respek, tidak hormat, dan tidak peduli lagi pada suami.
Tidak sedikit contoh kasus yang menyebutkan karena memiliki isteri yang matrealistis dan hedonis ini mengakibatkan para suami tertekan di rumah tangganya, bahkan apabila suami tersebut seorang PNS dan pejabat tidak menutup kemungkinan menjadi salah satu faktor untuk mendorong suami untuk melakukan korupsi demi bisa menutupi kebutuhan mewah isterinya.
Sejak bercerai dengan isteriku setahun lalu, kini aku sudah mendapat pengganti hidup. Alhamdulilah isteri sekarang lebih mengerti termasuk soal penghasilan seorang suami. Belajar dari pengalaman aku kini lebih menekankan kepada isteriku untuk bisa hidup lebih sabar dari hal-hal duniawi.
Kepada kaum perempuan terutama isteri agar jangan menyepelekan hal ini, sikap dan pemahaman akan uang dalam rumah tangga harus dipertimbangkan sebaik-baiknya. Jangan sampai hanya gara-gara uang yang kurang membuat suami tidak nyaman dirumah, karena apabila suami punya banyak uang tapi suami terbang dengan wanita lain. Dan jika uang sudah mengalahkan kesetiaan, bisakah dan kuatkah anda menerima konsekuensinya ?.***

15,077 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/aku-tak-tahan-memiliki-isteri-matre/
Twitter

One thought on “Aku Tak Tahan Memiliki Isteri Matre

  • 13 Agustus 2017 at 2:29 AM
    Permalink

    Ceraikan saja istri seperti itu, bikin resek dunia aja, buang aja ke orang tuanya, biar tahu rasa.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *