Aku Tersiksa Karena Istriku

Di dalam sebuah rumah tangga peran suami adalah sebagai imam dalam keluarga dan isteri tentunya harus manut dan patuh terhadap suami. Namun tidak sedikit isteri yang tidak mau diatur oleh suaminya, cerewet, ia mengatur segala urusan keluarga, pokoknya peran isteri  sangat dominan karena segala sesuatu di dalam rumah tangga harus melalui hasil persetujuannya.

Tentu saja memiliki isteri dengan tipe seperti ini sangat menyiksa batin, bahkan harus diakui bagi kaum lelaki sikap isteri yang dominan ini tak jarang membuat “gerah” dan tidak nyaman. Hal ini wajar posisi seorang suami sebagai nahkoda atau pemimpin dalam rumah tangga, kini harus diambil alih oleh isterinya.

Seperti kisah yang aku alami sebut saja namaku Uus (bukan nama sebenarnya) usiaku sudah menginjak kepala empat sejak tiga bulan lalu. Sementara isteriku sebut saja Indah ia merupakan seorang guru dan sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), usianya terpaut tiga tahun lebih muda dariku. Sementara profesiku sendiri bukan seorang pegawai pemerintahan melainkan aku seorang pegawai swasta.

Usia perkawinanku dengan Indah sudah 10 tahun lebih, memang sejak pertama kali menikah sikap dominasi Indah di dalam keluarga sudah mulai nampak dengan banyaknya permintaan. Bahkan sejak masa pacaran dan pertama kali berkenalan dengannya, Indah ini dikenal sebagai sosok perempuan yang aktif dan agresif mungkin wajar saja apabila ia sekarang di dalam rumah tangga sangat mendominasi.

Mungkin awalnya aku merasa tidak mempermasalahkan sikap isteri yang dominan dan suka ngatur didalam keluargaku, aku mencoba untuk bersabar dan memahami sikap isteriku tersebut. Namun ternyata sikap lemah dan sabar yang aku perbuat nampaknya disalah artikan olehnya, sehingga tidak hanya mengatur sana-sini saja ia pun tak jarang membentak anak-anak dan bahkan aku sebagai suaminya saja sering dibentak.

Sebenarnya diamku bukan berarti tidak berani kepada isteriku, hanya saja aku menghargai dia sebagai perempuan, aku selalu mengalah karena isteriku seorang perempuan lagipula sikap yang kerasnya itu  sudah aku ketahui sejak pertama bertemu.

Contohnya saja soal materi, sebagai seorang suami tentunya wajib memberikan nafkah kepada isterinya. Hasil jerih payahku selama sebulan hampir tidak pernah tersisa aku serahkan semuanya kepada isteriku, bahkan untuk membeli kebutuhanku sebagai seorang laki-laki seperti rokok dan beli bensin untuk kendaraanku sehari-hari aku harus minta dulu sama isteri. Jujur aku tidak mempersoalkan hal tersebut, karena itu sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan semua nafkah kepada isteri dan anak-anakku.

Namun yang terkadang aku kesal dengan sikapnya manakala penghasilanku sebulan yang disetorkan kepadanya jumlahnya berkurang tidak seperti biasanya, pastinya dia langsung marah-marah ia langsung menanyakan kenapa nafkahnya berkurang? Pasti ini untuk foya-foya atau bahkan uangnya untuk wanita lain?

Jujur pertanyaan-pertanyaan tersebut membuatku merasa sangat tidak nyaman sebagai seorang suami, bagaimana tidak dengan profesiku sebagai wiraswasta tentu saja penghasilanku tidak menetap setiap bulannya. Setiap bulan apabila dirata-ratakan aku memberikan uang gajiku kepada isteriku sebesar Rp 3 juta per bulannya, namun terkadang dalam sebulan pendapatanku bisa lebih banyak bahkan tidak jarang juga pendapatanku kurang. Ya maklumlah pekerjaanku berbeda dengan isteriku yang merupakan seorang pegawai yang setiap bulannya sudah pasti mendapatkan nilai gaji atau penghasilan yang tetap.

Akibat dari persoalan tersebut isteriku jadi berpikiran macam-macam, apabila penghasilanku dalam sebulan berkurang pasti dia marah-marah dan curiga yang begitu besar ia menuduhku mempunyai wanita lain dan lain-lain. Tentu sikap kecurigaan yang berlebih isteriku tersebut menorehkan luka yang perih bagi hati dan perasaanku sebagai seorang suami.

Selain itu, sikap isteriku yang membatasi bergaul dalam kehidupan sehari-hari dinilai terlalu berlebihan dimana ia sangat memprotek diriku baik itu mulai dari hobi maupun pergaulan dengan teman-temanku. Sesaat apabila isteriku sedang diracuni rasa curiga yang berlebihan tersebut mendadak berubah menjadi sosok yang menakutkan, dalam sehari kami berdua bisa jadi tidak saling tegur sapa bahkan selama tiga hari kami pernah saling diam satu sama lain.

Bagaimana tidak setiap ada masalah dan berdiam diri satu sama lain, justru akulah yang selalu mengalah walaupun kesalahan tersebut dimulai dari isteriku. Sikap isteriku yang keras kepala ini terkadang sudah melampui batas kesabaran dimana tak jarang ia seolah menyuruhku untuk menceraikannya apabila dia tidak setuju dengan sikap dan keputusannya. “Kalau mas sudah tidak mau diatur olehku lagi, silahkan mas boleh pergi dan mencari wanita lain yang lebih cocok,” kata isteriku.

Perkataan tersebut sering kali disampaikan isteriku, posisi seolah dialah yang paling berkuasa dalam rumah tangga. Tentu saja suasana rumah tangga kami jauh dari kata harmonis yang ada justru menegangkan hal ini tidak baik dalam hubungan suatu rumah tangga terutama pada psikologis kedua anakku yang masih kecil karena kami berdua sering bertengkar, untuk itu aku lebih memilih banyak diam saat berada di rumah.

Terkadang isteriku dalam memperlakukanku tak ubahnya sebagai seorang tawanan saat berada di dalam rumah, aku seolah terpenjara dengan segala macam aturan yang dikeluarkan oleh isteriku. Sebenarnya bukan hanya aku yang merasakan hal tersebut, kedua anakku yang masih kecil merasa tidak nyaman saat berada disamping ibunya justru kedua anakku sangat nyaman saat berada disampingku.

Sebenarnya awalnya aku pun mendukung dengan sikap isteriku yang cerewet dan mendominasi segala urusan keluarga, karena patut diakui tipe isteriku yang keras dan tegas ini sangat bagus terutama dalam mengkontrol keuangan keluarga. Namun sayang sikap dominasi isteriku sudah kelewat batas dan sudah tidak masuk akal, sehingga hal tersebut membuatku merasa tidak betah dirumah dan tidak nyaman. Terus terang rasa nyaman baru aku dapatkan saat berada ditempat pekerjaanku, dimana aku merasa lepas dan bebas bertemu dengan teman-teman kerjaku.

Memang secara materi, nafkah yang aku peroleh sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan penghasilan isteriku sebagai guru setiap bulannya. Jujur aku merasa minder apabila sudah berbicara nafkah yang dihasilkan, mungkin inilah salah satu faktor isteriku terlalu dominan di dalam keluargaku dimana istriku menganggap suaminya tidak lebih pandai darinya dari segi mencari penghasilan.

Sebenarnya sikap dominan yang ditunjukan isteriku tidak masalah sepanjang ia masih bisa menghargaiku sebagai suaminya, karena bagaimanapun dalam ajaran agama Islam kedudukan isteri terhadap suaminya harus patuh dan tidak boleh melebihi suaminya. Karena perlu disadari bahwa harta yang berharga dan kebahagian bukan saja terletak pada materi karena sukses finansial bukanlah segalanya.

Dampak lainnya dari sikap isteriku yang terlalu dominan juga terbawa dalam urusan nafkah batinku terhadap isteri. Lama kelamaan aku seolah hilang gairah melakukan hubungan seksual dengan isteriku, tentu saja keadaan seperti ini membuat hubungan keluargaku menjadi dingin dan beku, tidak ada kebahagian lagi yang ada hanya kejenuhan kekecewaan yang pada akhirnya pasangan tidak saling memperdulikan lagi dan lebih menikmati tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Itu sangat aku rasakan sekali, dimana aku sudah merasa tidak nyaman dan terkadang aku ingin mencari hiburan diluar rumah dengan wanita lain yang lebih mengerti dan menghormatiku sebagai seorang lelaki. Bahkan terlintas dalam pikiranku untuk mengakhiri hubungan rumah tangga dengan isteriku, alasanku tentu sangat kuat karena aku sudah tidak mendapatkan lagi kebahagian dan tidak dihormati oleh isteriku sendiri.

Namun niatku untuk bercerai selalu kandas manakala aku melihat kedua anakku, kasihan mereka masih kecil dan memerlukan kasih sayang kedua orangtuanya.

Jadi, sulit bagi suami untuk melepaskan wanita yang bisa membuat hidupnya lebih berwarna tersebut. Jadi, sekarang istri sebaiknya mulai menyadari kalau sikap mendominasi suami itu tidak baik bagi keutuhan rumah tangga. Aku hanya bisa berharap dan berdoa agar sikap dominasi isteriku bisa berubah, karena bagaimanapun sehebat apapun sosok seorang isteri didalam rumah tangga tidak bisa mengganti sosok bapak bagi anak-anaknya.

Sebenarnya kasus yang menimpa keluargaku tidak harus terjadi, apabila peran suami dan isteri ini bisa saling melengkapi dan menghargai, Sebagai pasangan suami istri seharusya berprinsip seperti satu paket saling melengkapi baik saat sulit maupun senang. Dengan demikian tidak ada rasa terjajah dan menjajah karena masing-masing sadar dengan kemampuan dan keterbatasannya.***

 

597 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/aku-tersiksa-karena-istriku/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *