Berpacaran Mau Dinikahi Menolak ………

Terlanjur sayang, mungkin itulah perasaan yang sulit dihilangkan oleh aku terhadap wanita yang satu ini. Walaupun perbedaan usia yang terpaut sangat jauh namun aku merasa dia merupakan wanita yang pantas aku sayangi dan lebih dari itu aku ingin memperistrinya. Namun ketika aku ajak untuk menikah dia selalu menolaknya.

Aku sebenarnya memahami alasan kenapa ia menolak diajak untuk menikah, namun aku sendiri sudah sangat siap dengan resiko yang bakal terjadi akibat dari perbuatanku. Ia menolak menikah denganku karena ia tidak mau menyakiti perasaan istriku yang menurutnya sudah bersikap sangat baik terhadap dirinya dan sudah dianggap sebagai orangtuanya sendiri.

Tapi menurutku ini sudah terlanjur terjadi, antara aku dan dia telah terjalin hubungan yang sudah terlalu jauh. Aku tidak ingin berbuat dosa lagi dengan melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan tali pernikahan. Aku ingin resmi menjadi suami istri agar tak berbuat dosa lagi tapi hingga saat ini ia tetap tak mau menerima tawaranku untuk menikah. Inilah sepenggal kisah yang ingin aku berbagi dengan pembaca Sinarmedia.

Sebut saja namaku Edi (bukan nama sebenarnya pasti), kini usiaku tidak muda lagi , anak-anakku telah lulus kuliah dan ada pula yang telah menikah, jadi sudah bisa ditaksir berapa usiaku. Walau usiaku tak muda lagi sebagai lelaki normal aku masih punya rasa ketertarikan kepada wanita. Secara tidak sengaja aku menjalin hubungan spesial dengan seorang wanita yang usianya terpaut sekitar 30 tahunan sebut saja namanya Mawar.

Hubungan asmaraku dengan mawar memang tidak disengaja. Perkenalanku dengannya  berawal saat anakku yang bungsu yang ketika itu masih kuliah sering membawa teman-temannya bermain ke rumahku. Diantara teman-temannya itu salah satunya adalah Mawar. Tidak ada perasaan apa pun ketika anakku pertama kali mengenalkan Mawar kepadaku.

Diantara teman-teman anakku, Mawar merupakan orang yang paling sering datang ke rumah dan bahkan menginap. Walaupun begitu, jarang sekali aku ngobrol dengan Mawar karena aku juga tahu diri hingga selalu menjaga jarak dengan hampir semua teman-teman anakku. Namun Mawar memang berbeda dengan teman-teman anakku yang lainnya. Meski ia tampak lebih dewasa, tapi aku melihat di wajahnya seperti punya beban berat yang harus ia tanggung.

Pada suatu hari tanpa disengaja ketika aku pulang kerja, aku mendapati Mawar sendirian tengah berada di rumahku. Menurutnya ia telah janjian ketemu di rumah dengan anakku namun anakku belum sampai di rumah masih di perjalanan. Karena tidak ada teman ngobrol maka aku mengajak ngobrol Mawar yang tengah sendirian duduk di ruang tamu karena kebetulan pula istriku sedang tidak ada di rumah.

Dalam percapakan itu aku bertanya tentang alamat rumahnya, siapa ibu bapaknya dan apa pekerjaannya. Ketika ditanya tentang orang tuanya, wajah mawar telihat sedih hingga membuat aku penasaran untuk bertanya. Mawar menceritakan bahwa ia datang dari pelosok desa di Majalengka dan pekerjaan orang tuanya hanyalah buruh tani.

Ia juga bercerita bahwa ia kuliah di Majalengka juga memaksakan diri karena ingin memiliki masa depan untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia juga bercerita bahwa kalau selama ini ia sering menginap dan makan di rumah teman-temannya untuk menghemat biaya dari orang tuanya  yang tidak seberapa. Ia juga berniat mencari pekerjaan di Majalengka sambil kuliah.

Dari sekian banyak cerita yang ia sampaikan, aku cukup terhenyak ketika ia menjelaskan bahwa ia sebenarnya bukan gadis lagi tapi sudah bestatus janda dan telah memiliki anak satu. Menurutnya ia memilih bercerai dari suaminya karena suaminya menganggur dan berperilaku buruk suka mabuk-mabukan dan bermain wanita.

Diakhir ceritanya ia juga menyatakan kebingungannya untuk membayar uang kuliah yang harus segera ia bayarkan, sementara orang tuanya belum memiliki uang, apabila tidak segera membayar maka ia tidak bisa mengikuti ujian.

Mendengar ceritanya maka aku  menasehatinya seperti kepada anak sendiri dan aku sampaikan bahwa apabila ada kesusahan apapun termasuk masalah biaya kuliah jangan sungkan-sungkan untuk meminta kepadaku. Dengan berlinang air mata Mawar menyampaikan ucapan terimakasih atas niat baikku, air matanya semakin deras mengucur ketika aku memberikan sejumlah uang untuk membayar kuliah. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih.

Untuk mempermudah komunikasi aku memberikan nomor HP kepada Mawar, agar apabila butuh apa-apa atau ada kesulitan apapun bisa dengan mudah menghubungiku. Demikian pula Mawar memberikan nomor kontak kepadaku.

Setelah saling tukar nomor HP, kurang lebih dua bulan Mawar tak pernah terlihat lagi main ke rumahku entah kenapa apakah ia takut atau malu. Namun setelah kutanyakan kepada anakku ternyata mawar juga jarang masuk kuliah katanya anaknya sedang sakit.

Setelah mengetahui  anaknya sakit, aku menanyakan langsung kepada Mawar melalui SMS. Ternyata memang benar bahwa ia jarang masuk kuliah karena anaknya sakit panas dan harus dirawat di rumah sakit. Namun karena tidak mempunyai biaya maka  anaknya hanya diobati di rumah saja. Sebenarnya ia tidak meminta bantuan namun karena kasihan aku meminta nomor rekening dia untuk aku kirimi uang. Awalnya ia menolak dengan alasan takut merepotkan orang lain namun setelah dijelaskan bahwa aku merasa berdosa apabila sudah mengetahui kesulitan orang lain tapi aku tidak menolongnya. Maka iapun mengirimkan nomor rekening bank  sambil mengucapkan terimakasih berkali-kali.

Dua minggu setelah aku mengirimi uang, tiba-tiba aku menerima SMS dari mawar yang isinya mengucapkan terima kasih atas bantuanya hingga anaknya bisa dirawat di rumah sakit dan kini telah sembuh kembali. Namun ia ingin ketemu karena ingin mengucapkan rasa terimakasihnya secara langsung dan akhirnya kami janjian ketemu di salah satu rumah makan di Majalengka.

Dalam pertemuan di rumah makan itu ia nampak grogi dan banyak diam, namun setelah aku menyatakan bahwa jangan sungkan-sungkan untuk  berbicara denganku ia mulai berani berbicara lebih jauh tentang dirinya. Bahkan ia juga curhat bahwa saat itu ia tengah dikejar oleh laki-laki yang katanya ingin menikahinya namun ia tidak mau karena masih trauma dengan pernikahan yang pertamanya.

Setelah pertemuan yang pertama itu kami jadi sering bertemu dan dalam pertemuan akhirnya terjadi saling curhat  masalah masing-masing namun Mawar yang lebih sering curhat. Karena sering bertemu hubungan kami semakin dekat dan Mawar sudah tak sungkan-sungkan lagi meminta uang untuk kebutuhan hidupnya dan selalu aku penuhi. Bahkan untuk biaya kuliah hingga ia diwisuda pun semuanya aku yang tanggung.

Setelah selesai diwisuda Mawar bercerita bahwa ia tengah melamar pekerjaan di Bandung dan akan melakukan test wawancara. Karena kebetulan aku lagi ada tugas ke Bandung maka aku sampaikan untuk berangkat ke Bandungnya bersama-sama dan Mawar mengiyakan.

Karena Mawar tidak mengenal Bandung maka aku antarkan ia ke perusahaan dimana ia akan menjalani test wawancara dan setelah selesai nanti dijemput lagi. Mawar baru memberi khabar bahwa test wawancaranya baru akan selesai sore hari dan aku diminta untuk menjemputnya. Sesuai perjanjian pada sore harinya aku menjemputnya, namun aku katakan bahwa aku masih satu malam lagi dan tidak bisa mengantarkannya pulang.

Mawar mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri asal diantarkan ke terminal bis. Sambil bergurau aku menyampaikan tawaran untuk menginap saja di Bandung biar pulangnya bersama-sama lagi. Tawaranku ternyata disambut baik dan Mawar akhirnya bersedia menginap di Bandung. Sesampainya di hotel aku sempat akan memesan satu kamar lagi buat Mawar tapi kata dia  gak usah pesan kamar lagi sayang-sayang buang uang sudah cukup satu kamar saja.

Bercampur perasaan yang tidak menentu antara  suka dan bingung  malam itu adalah malam yang menjadi cikal bakal  permasalahan yang aku hadapi sekarang ini. Walaupun usiaku tak muda lagi aku adalah lelaki normal yang masih mempunyai keinginan dalam memenuhi kebutuhan biologis. Melihat seorang perempuan cantik, muda yang tidur disebelahku maka terjadilah malam itu hubungan layaknya suami istri. Mawar menyatakan bahwa ia ikhlas melakukannya.

Benar kata pepatah bahwa jangan pernah mencoba nanti ketagihan, dan benar saja setelah kejadian yang pertama itu maka diikuti oleh kejadian–kejadian berikutnya. Sudah beberapa kali Mawar aku ajak nginap di hotel  walaupun ia sudah diterima bekerja di Bandung.

Ada perasaan bersalah terhadap apa yang aku lakukan ini maka pada suatu hari aku sampaikan niatku untuk menikahinya. Aku katakan bahwa dari pada berbuat  dosa terus maka sebaiknya hubungan kita diresmikan oleh satu ikatan tali pernikahan. Namun Mawar menolak dengan alasan bahwa ia mendapat pesan dari orangtuanya agar kalau ia menikah maka lelaki yang menikahiku bukan suami orang .

Menurut Mawar ia sudah merasakan bagaimana sakitnya ketika suaminya berpaling ke wanita lain  apalagi lekaki yang mengajak nikah itu adalah bapak temanku sendiri dan ibunya sudah pernah sangat dekat denganku. Maka tidak bisa dibayangkan bagimana sakitnya wanita yang suaminya direbut sama wanita lain.

Aku memahami perasaan Mawar, tapi setelah apa yang aku alami selama bertahun-tahun kebersamaan dengan dia maka sangatlah sulit bagiku untuk melupakannya. Aku mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh istriku yang sudah kunikahi selama puluhan tahun dari Mawar hingga aku nekat untuk menikahinya dengan segala resikonya.

Aku berniat untuk menikahi Mawar secara diam-diam dan secara pelan-pelan nantinya akan kusampaikan apa yang sudah aku lakukan kepada istriku. Niat itu sudah aku sampaikan kepada salah satu anakku walaupun tidak secara jelas  siapa wanita yang akan kunikahi itu. Namun anakku bisa memahami dan menyetujui aku untuk menikah lagi.

Namun masalah tidak selesai, kini aku terjebak antara hubungan yang tidak pasti, Sementara aku sudah terlanjur sayang terhadap Mawar dan iapun tidak pernah menolak ketika aku ajak kemanapun pergi tapi disisi lain ia menolak untuk dinikahi dengan beberapa alasan yang sudah disampaikannya.***

711 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/berpacaran-mau-dinikahi-menolak/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *