Damai Dalam Pemilu Itu Indah

apep
Oleh: H. Asep Eka Mulayana

Tahun 2014 adalah tahun politik yang luar biasa bagi bangsa ini. Periode tahun politik memang selalu berulang setiap lima tahun. Namun kali ini terasa sangat berbeda dengan sebelumnya. Tepatnya, prosesi pemilihan presiden dan wakil presiden-lah yang membuat tahun politik tahun ini menjadi luar biasa.

Bulan April 2014, negeri ini merayakan pesta demokrasi yaitu pemilihan legislatif. Proses memilih anggota DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota serta anggota DPD, berjalan lancar dan aman. Berbagai potensi ancaman yang dikhawatirkan akan muncul dan mengganggu jalannya pemilu legislatif di masyarakat berhasil dihilangkan.

Namun demikian, beberapa pengamat memberikan penilaian bahwa pemilihan legislatif pada 2014, merupakan penyelenggaraan pemilu paling buruk dalam sejarah pemilu di Indonesia. Hal ini tidak lepas dari peran media yang mengekspos beberapa proses penyelenggaraan pemilu yang janggal, bahkan melanggar aturan.

Bukan sekali dua kali media memaparkan perihal praktek politik uang, jual beli suara bahkan pencoblosan massal yang dilakukan di beberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara). Tak salah jika sebagian pengamat yang lain berpendapat mungkin peyelenggaraan pemilu sebelumnya lebih buruk, hanya tidak terekspos di media. Meskipun dengan berbagai permasalahan, pada akhirnya KPU Pusat telah menetapkan hasil pemilihan legislatif tepat waktu. Dalam kondisi aman dan damai.

Penetapan pemenang pemilu legislatif oleh KPU bak pemantik yang menyulut bensin, dengan cepat membakar dan memanaskan suhu politik di Negeri ini. Bahkan sebelum KPU menetapkan hasil pemilu legislatif, suhu politik sudah meningkat tajam. Hal ini disebabkan parpol-parpol mulai berhitung dan mengutak atik kemungkinan koalisi jelang pemilihan presiden. Puncaknya, kekuatan politik benar-benar terpisah menjadi dua kutub saat penetapan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang menetapkan hanya ada dua pasangan calon.

Dalam sejarah pemilihan presiden secara langsung, hanya ada dua kontestan pilpres adalah hal baru bagi bangsa ini. Sebelumnya, tidak pernah terjadi head to head atau posisi saling berhadapan. Kondisi ini semakin meningkatkan kerawanan. Masyarakat sangat mudah terprovokasi. Mudah termakan issue dan hasutan. Sebab, jika terjadi kampanye hitam atau kampanye negative terhadap salah satu pasangan calon, dengan mudah disimpulkan bahwa hal itu dilakukan oleh pasangan calon lawannya. Padahal munkin saja tidak.

Tak ayal, media apapun bisa menjadi sarana saling serang. Pemilihan presiden kali ini juga berbeda sebab media dunia maya telah ber-evolusi dengan cepat. Jejaring sosial di dunia maya memberikan kontribusi yang besar dalam perubahan cara berpolitik. Hal-hal kecil yang terjadi pada calon presiden maupun calon wakil presiden, dalam hitungan menit dapat tersampaikan ke seantero negeri. Menggelinding bak bola salju menjadi hal besar yang diperbincangkan. Masa kampanye menjadi momentum yang mengkhawatirkan. Tidak tahu pihak mana yang memulai. Tidak tahu pihak mana yang benar atau salah. Kedua belah pihak saling mengklaim bahwa jagoan yang diusungnya lebih layak. Tampak sekali pemberitaan di media, khususnya media televisi dan media cetak berpihak. Tanpa perlu disebut namanya, kita tahu, bahwa dua stasiun televisi seperti melakonkan Tom and Jerry, kisah permusuhan kucing dan tikus yang selalu saling serang.

Tiba saatnya hari pemilihan. Alih-alih suhu menurun dan suasana mendingin. Hantu bernama quickcount muncul sekonyong-konyong. Quickcount atau hitung cepat malah membuat suasana semakin gaduh. Meskipun menjelang lebaran, kata quickcount saat ini lebih popular dibanding kata discount. Lagi-lagi peran media elektronik, dalam hal ini media televisi yang memberikan kontribusi besar pada kegaduhan ini. Penulis tidak dalam konteks memberikan penilaian lembaga survey atau peyelenggara quickcount mana yang lebih kredibel atau harus dipercayai atau sebaliknya, harus dicurigai. Selama hal itu dibuat atas teori manusia, maka tidak ada jaminan absolut bahwa itu benar. Atas dasar ilmu pengetahuan, bertahun-tahun kita meyakini bahwa Pluto adalah planet kesembilan dalam tata surya kita. Belakangan atas dasar ilmu pengetahuan pula, ‘kasta’ Pluto diturunkan. Pluto tidak bisa disebut sebagai planet. Sekali lagi, tidak ada kebenaran yang absolut menyangkut teori atau metodologi yang lahir dari pemikiran manusia, apalagi ketika kepentingan turut berbicara. Satu-satunya lembaga yang seharusnya kita percayai adalah KPU (Komisi Pemilihan Umum).

KPU sebagai satu-satunya lembaga penyelenggara pemilihan umum adalah konsesus nasional. Netralitas dan independensi KPU seharusnya cukup bagi kedua belah pihak untuk dapat menerima keputusan nanti. Bagaimanapun hasilnya. Langkah-langkah yang seharusnya kita lakukan adalah memastikan semua aturan ditegakkan, serta mengawal prosesnya dengan seksama. Ajakan dan seruan Presiden agar kedua belah pihak mengawal bersama-sama adalah ajakan yang sangat menyejukkan.

Damai dalam pemilu itu indah. Tinggal satu tahap lagi. Seyogyanya semua elemen bangsa ini kembali kepada jatidiri bangsa berlandaskan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Kita berbeda pilihan, namun kita tetap satu Indonesia. Keutuhan NKRI adalah harga mati. Seharusnya perbedaan itu menjadi berkah bagi kita semua. Siapapun yang terpilih semoga dapat membawa berkah bagi negeri ini. Tetaplah damai, semoga Alloh SWT menyertai kita.***

(Penulis adalah pemerhati politik, tinggal di Majalengka)

527 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/damai-dalam-pemilu-itu-indah/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *