Dampak Industri Terhadap Lingkungan Hidup

Oleh : Ligar Novi Ayuniar

Salah satu pertimbangan lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah akibat semakin menurunya kualitas lingkungan hidup yang mengancam kelangsungan perikehidupan manusia dan mahkluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisnten oleh semua pemangku kepentingan.

Lingkungan Hidup yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yaitu kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain.

Seperti disebutkan diatas bahwa semakin menurunya kualitas lingkungan hidup salah satunya disebabkan oleh kegiatan industri. Adanya kegiatan industri bermaksud untuk mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam, namun pada kenyataannya pemanfaatan kekayaan alam tersebut berlebihan untuk menghasilkan materi yang berlebih pula, hal ini dapat mengurangi daya dukung lingkungan bahkan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup manusia.

Kegiatan industri memberikan dampak positif diantaranya adalah mengurangi pengangguran, menambah devisa negara, meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah. Kegiatan industri juga memberikan dampak negatif, dampak tersebut dapat berupa dampak tidak langsung dan dampak langsung terhadap lingkungan hidup. Dampak tidak langsung diantaranya adalah urbanisasi, perilaku, kriminalitas, dan sosial budaya.

Urbanisasi. Adanya daya tarik industri membuat masyarakat desa yang semula bekerja dibidang pertanian menjadi tertarik berpindah kerja di bidang industri. Dengan berbekal keahlian yang seadanya, sehingga hanya bisa menjadi tenaga kerja atau buruh kasar. Karena hanya bekerja sebagai buruh kasar maka gaji yang didapat pun pas-pasan, dan hanya cukup untuk hidup sehari-hari. Sehingga lingkungan tempat tinggal pun seadanya, mengakibatkan lingkungan kumuh dan kotor, hal ini menyebabkan kualitas lingkungan hidup dan kenyamanan menurun.

Perilaku. Seperti yang kita ketahui bahwa perilaku masyarakat di desa yaitu hidup saling tolong menolong, suasana tenang, damai, tentram dan tidak diburu-buru waktu. Hal ini membuat hubungan antar masyarakat di desa terjalin dengan baik. Berbeda apabila setelah pindah di kota, seperti yang kita tahu suasana kehidupan dikota selalu dikejar waktu, macet, bising, jarang sekali adanya pemandangan alam yang dapat dinikmati setiap hari, menyebabkan manusia menjadi mudah stres dan tegang ditambah karena adanya tekanan dari pekerjaan. Sehingga perilaku manusia yang semula ramah bersahabat menjadi kasar, acuh tak acuh dan individualisme.

Kriminalitas. Kegiatan industri di pabrik memerlukan keahlian secara khusus, sehingga tenaga kerja yang tidak punya keahlian khusus atau tidak punya ijazah akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Disisi lain masyarakat kota yang konsumtif memberikan gambaran bahwa hidup itu serba enak dan mudah. Sementara pencari kerja tidak tahan dan tidak mau bekerja keras, yang diinginkan hanyalah kerja ringan tetapi bisa menghasilkan hidup yang mewah untuk bersenang-senang. Hal ini yang menyebabkan mereka mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras yaitu dengan tindakan kriminal seperti pencurian, perampokan, dan penodongan.

Sosial Budaya. Orang yang bekerja dibidang industri umumnya dibatasi waktu karena mengejar target, sehingga hal ini menyebabkan ketegangan jiwa. Ketegangan jiwa ini menyebabkan stres yang dapat berlanjut menjadi hipertensi, sakit jantung atau penyakit lainnya. Terkadang untuk menurunkan stres sebagian orang menghibur diri di diskotik, kafe, berjudi, bahkan ada pula yang melampiaskannya dengan cara minum-minuman beralkohol yang dapat berlanjut pada kekerasan. Selain itu juga pertunjukkan di televisi seringkali tidak sesuai dengan budaya dan menjurus ke arah pornografi, yang dapat menjurus ke arah prostitusi. Sehingga dengan berkembangnya tempat-tempat hiburan tersebut akan memberikan dampak pada sosial budaya masyarakat sekitar.

Sedangkan dampak langsung yang terjadi akibat adanya kegiatan industri yaitu adanya pencemaran. Berdasarkan UU nomor 32 tahun 2009, pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Pencemaran tersebut disebabkan oleh adanya limbah industri. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Limbah ini dapat berupa limbah cair, padat ataupun gas.

Limbah Cair. Sebagai contoh, limbah cair yang masuk ke adalam perairan umum secara langsung (tanpa diolah) dapat mencemari perairan, dan ini dapat berpengaruh terhadap siklus kehidupan manusia. Limbah cair tersebut biasanya memiliki efek termal, yang nantinya dapat juga mengurangi kadar oksigen terlarut. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kehidupan biota yang ada di perairan tersebut. Salah satu solusi dalam mengatasi limbah cair tersebut adalah dengan pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Limbah cair terlebih dahulu dimasukan kedalam IPAL yang kemudian apabila telah memenuhi baku mutu lingkungan maka limbah tersebut dapat dialirkan ke perairan umum.

Salah satu kasus yang terjadi akibat dari pencemaran air yaitu tragedi Minamata di Jepang. Tragedi Minamata ini terjadi akibat adanya pencemaran merkuri di teluk Minamata. Limbah merkuri dibuang di teluk Minamata dalam skala besar oleh sebuah perusahaan kimia. Merkuri tersebut mencemari ikan-ikan yang hidup di teluk Minamata, yang kemudian penduduk memakan ikan-ikan itu dan akhirnya penduduk menjadi terkontaminasi dan sakit. Bahkan burung-burung dan hewan peliharaan pun ditemukan sakit karena terkontaminasi. Dari tragedi ini menyebabkan banyaknya orang yang meninggal dan menderita karena terkontaminasi merkuri.

Limbah padat. Selain limbah cair, janis limbah pabrik selanjutnya adalah limbah padat. Limbah padat adalah buangan hasil industri yang tidak terpakai lagi dan berbentuk padatan yang berasal dari suatu proses pengolahan atau berupa sampah yang dihasilkan dari kegiatan industri, serta dari tempat umum. Limbah padat apabila dibuang ke dalam perairan pastinya akan mencemari dan dapat menyebabkan kematian mahluk hidup yang berada di perairan tersebut, sementara apabila dibuang di wilayah daratan tanpa adanya proses pengolahan, maka dapat mencemari tanah di wilayah tersebut. Contoh limbah padat tersebut adalah plastik, kertas, dan kabel. Upaya dalam mengatasi limbah padat ini yaitu dengan cara mengupayakan pengolahan limbah sebaik mungkin, mengubur limbah-limbah yang bersifat organik, dan menggunakan kembali limbah-limbah pabrik yang masih bisa didaur ulang.

Limbah gas. Selain limbah cair, dan limbah padat, ada juga limbah gas. Limbah gas ini dapat menyebabkan adanya pencemaran udara. Contoh limbah gas ini adalah kebocoran gas, dan asap pabrik sisa produksi. Limbah gas ini dapat membahayakan kesehatan manusia, kesehatan hewan, tumbuhan, mengganggu estetika, kenyamanan, dan juga merusak properti. Dampak terhadap kesehatan yang akan ditimbulkan yaitu pencemaran yang ada di udara dapat masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, apabila tidak ditangani dengan serius yang nantinya dapat berakibat pada ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Limbah gas ini dapat mengganggu estetika contohnya dapat merubah warna (menjadi kusam) cat bangunan yang ada disekitar industri tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak limbah gas ini yaitu dengan cara memfilter limbah gas yang akan dibuang, dan juga menanam pohon yang bertujuan untuk menetralisir udara yang telah tercemar tersebut agar tidak terlalu berbahaya.

Perlu adanya pengendalian dalam menangani pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, hal ini dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup meliputi pencegahan, penanggulangan, dan Pemulihan. Instrumen pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan terdiri atas: KLHS, tata ruang, baku mutu lingkungan hidup, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, amdal, UKL-UPL, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan hidup, peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis lingkungan hidup, analisis risiko lingkungan hidup, audit lingkungan hidup, dan instrumen lain sesuai kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.

KLHS dibuat oleh pemerintah dengan tujuan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program. KLHS juga menjadi dasar dalam setiap perencanaan tata ruang wilayah yang bertujuan yaitu untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat. Perencanaan tata ruang wilayah ditetapkan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Berdasarkan yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Pasal 20, penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui baku mutu lingkungan hidup. Baku mutu lingkungan hidup tersebut meliputi: baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu air laut, baku mutu undara ambien, baku mutu emisi, baku mutu gangguan, dan baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan pada Pasal 21 menjelaskan bahwa untuk menentukan terjadinya kerusakan lingkungan hidup, ditetapkan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, yang meliputi kriteria baku kerusakan ekosistem dan kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim, yang ketentuan lebih lanjutnya diatur pada peraturan pemerintah.

Seperti yang dijelaskan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki amdal. Dokumen amdal tersebut memuat mengenai pengkajian dampak rencana usaha dan/atau kegiatan, Evaluasi kegiatan disekitar lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan, saran masukan serta tanggapan masyarakat terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan, prakiraan terhadap besaran dampak serta sifat penting dampak yang terjadi jika rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dilaksanakan, evaluasi secara holistik terhadap dampak yang terjadi untuk menentukan kelayakan atau ketidaklayakan lingkungan hidup; dan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Dokumen amdal tersebut disusun oleh pemrakarsa dengan melibatkan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud yaitu masyarakat yang terkena dampak, pemerhati lingkungan hidup, dan yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses amdal. Masyarakat juga dapat mengajukan keberatan terhadap dokumen amdal.

Selain amdal, suatu kegiatan industri juga harus dilengkapi dengan izin lingkungan. Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha atau kegiatan. Apabila izin lingkungan dicabut maka izin usaha atau kegiatan pun dibatalkan. Suatu usaha atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup, ancaman terhadap ekosistem dan kehidupan, atau kesehatan dan keselamatan manusia juga wajib melakukan analisis risiko lingkungan hidup. Analisis risiko lingkungan hidup tersebut meliputi pengkajian risiko, pengelolaan risiko, dan/atau komunikasi risiko. Selain itu juga pemerintah mendorong penanggungjawab usaha untuk melakukan audit lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan kinerja lingkungan hidup. Audit lingkungan tersebut dilakukan secara berkala. Usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan audit lingkungan yaitu usaha dan/atau kegaitan tertentu yang berisiko tinggi terhadap lingkungan hidup, dan/atau penanggungjawab usaha dan kegiatan yang menunjukkan ketidaktaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Sekian gambaran dampak industri terhadap lingkungan hidup yang dapat saya tuliskan, saran yang dapat saya sampaikan yaitu untuk mengurangi dampak industri yang berlebih terhadap lingkungan hidup maka industri tersebut perlu melengkapi dan mematuhi persyaratan atau dokumen-dokumen sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.*** ( Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungn, Universitas Dipenogoro )

98 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/dampak-industri-terhadap-lingkungan-hidup/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *