Dana Penanggulangan Bencana Alam Majalengka Minim

Majalengka,(Sinarmedia).-

Dari 497 kabupaten/kota se-Indonesia, Kabupaten Majalengka berada di peringkat 16 di tingkat nasional dan peringkat 7 di Jawa Barat sebagai kabupaten rawan bencana alam. Namun  ironisnya alokasi anggaran ayng digelontorkan untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sangat minim yakni sekitar 1,3 milyar pertahun.

Minimnya anggaran untuk penanggulangan bencana tersebut dikhawatirkan berdampak kepada tidak maksimalnya penanganan bencana alam yang kerap terjadi di Kabupaten Majalengka. Seperti diketahui pada awal tahun 2017 saja sudah terjadi beberapa kali bencana alam banjir dan longsor akibat curah hujan tinggi dan cuaca ekstrim.

Anggota DPRD dari fraksi PPP Dede Aif Musofa menyayangkan kecilnya anggaran untuk penanggulangan bencana alam di Kabupaten Majalengka tersebut. Hal itu menunjukkan kurangnya kepedulian pemerintah kabupaten terhadap bencana alam. Menurutnya anggaran sebesar Rp1,3 milyar untuk  BPBD  diantaranya untuk  menanggulangi bencana alam tidak rasional.

“Itu merupakan anggaran total belum terpotong oleh biaya keperluan dinasnya sendiri seperti biaya wajib pegawai, operasional dan biaya lainya,“ paparnya saat dihubungi Sinarmedia.

Berdasarkan pengamatannya sejumlah bencana alam yang terjadi di tahun kemarin tidak bisa tertangani oleh BPBD seperti jembatan Nunuk Kecamatan Maja, satu putus total dan satunya lagi nyaris putus hingga saat ini belum terselesaikan.

Diketahuinya pemda telah menyiapkan dana cadangan yang sebelumnya sebesar Rp1,5 milyar kini menjadi Rp2 milyar mengingat ada sisa anggaran tahun sebelumnya yang tidak terserap. Menurutnya, jika melihat dari bencana yang terjadi pihak eksekutif jangan tanggung menganggarkan karena bencana alam tidak bisa diprediksi apalagi Kabupaten Majalengka adalah salah satu daerah rawan bencana alam peringkat ke 16 ditingkat nasional dan peringkat ke 7 ditingkat provinsi.

Tidak hanya itu pihaknya juga mempertanyakan sikap eksekutif atas rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang bencana alam yang sudah disepakati bersama legislatif yang hingga kini pihak eksekutif belum kunjung ketuk palu.

“Itu sudah berjalan hampir satu tahun, saya jadi heran ada apa dengan eksekutif,“ katanya.

Sementara itu kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DR H Toto Sumiato melalui Elon Sukalam Kabid Rekonstruksi dan Piping Ma’arif Kabid Kesiapsiagaan Bencana membenarkan bahwa tahun ini anggaran BPBD hanya Rp1,3 milyar ada sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya.

“Kami hanya memberikan bantuan yang bersifat “urgent” yang sekiranya memerlukan biaya besar seperti rekontruksi, rehab dan lainnya akan dikoordinasikan dengan instansi terkait seperti BMCK, BPMD, Disdik, PPSDA dan intansi terkait lainnya,“ paparnya.

Terkait sejumlah kerusakan yang terjadi akibat bencana alam tahun kemarin yang belum kunjung diperbaiki diakui pihaknya sudah dikoordinasikan dengan intansi terkait dan seharusnya sudah selesai.

“Ya seharusnya sudah selesai,“ ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.

Selain memberikan bantuan dan pelatihan terhadap warga yang tinggal di lokasi rawan bencana alam pihaknya membuat RAB atas setiap kejadian bencana alam untuk diajukan ke intansi terkait bilamana tidak mampu atau anggarannya tidak ada pihaknya bisa mengajukan ke Provinsi Jabar atau pemerintah pusat dengan ketentuan melampirkan laporan kejadian bencana alam, RAB dan lampiran berkas lainnya yang ditandatangani oleh Bupati.

Terhitung sejak bulan Januari hingga sekarang sedikitnya telah terjadi enam puluh bencana alam             yang  terjadi di 15 kecamatan diantaranya Majalengka, Argapura, Banjaran, Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugih, Malausma, Ligung, Sindangwangi, Leuwimunding, Kadipaten, Rajagaluh dan Panyingkiran.

Bencana alam yang terjadi berupa longsor, pergerakan tanah, banjir dan angin puting beliung. Saat ini umumnya bencana alam yang terjadi didominasi oleh bencana longsor dan kedua oleh bencana alam pergerakan tanah yang terjadi di Desa Sidamukti Kecamatan Majalengka, Desa Jatiserang Kecamatan Panyingkiran, Desa Pajajar Kecamatan Rajagaluh, Desa Padarek Kecamatan Lemahsugih, Desa Leuwikujang Kecamatan Leuwimunding dan Desa Cimangguhilir Kecamatan Bantarujeg.

Atas kejadian tersebut mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak ringan, sedang dan berat, sejumlah tembok penahan tanggul (TPT) ambruk, beberapa ruas jalan amblas, tempat ibadah rusak dan merusak salah satu bangunan sekolah dasar.

“Berdasarkan data yang kami himpun sejak bulan Januari sampai saat ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana alam yang terjadi kebanyakan merusak rumah dan sarana infrastruktur,“ Jelasnya.(S.04).

281 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/dana-penanggulangan-bencana-alam-majalengka-minim/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *