Dr. H Iman Pramudya Subagja, MM Dididik Mandiri Sejak Masih Kecil

MEMIMPIN sebuah dinas di tingkat kabupaten dengan sumberdaya manusia (SDM) yang sangat berlimpah tentu bukan hal mudah. Selain harus memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni, ia juga harus mempunyai kesabaran dan kekuatan mental yang tangguh. Juga harus memiliki “seni” dan “strateginya” tersendiri.
Apalagi bila yang dipimpin itu adalah kalangan pegawai negeri sipil (PNS) yang sebagian besar berprofesi sebagai guru atau pengajar dari mulai tingkat dasar hingga ke para guru di tingkat sekolah menengah pertama. Belum lagi mereka yang memegang posisi dan tugas di bidang birokrasi pendidikannya. Tentu, tugas itu sangat memerlukan pemikiran dan tenaga yang sangat ekstra. Seperti itulah yang akan dihadapi bila diserahi tugas dan tanggung jawab sebagai pucuk pimpinan di institusi atau dinas pendidikan di tingkat kabupaten.
Tugas dan tanggung jawab seperti itulah yang kini diemban Dr. H Iman Pramudya Subagja, MM. sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Majalengka. Hari-harinya adalah kesibukan luar biasa terkait dengan upaya menyinergikan seluruh sumberdaya yang ada, bersisian dengan mengatur segala sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah.
“Ketika saya ditugaskan sebagai Kadisdik Kabupaten Majalengka, terus terang pada awalnya saya merasa enggan. Saya merasa khawatir,” kata Iman Pramudya kepada Sinarmedia yang mewawancarainya pada Jumat petang (11/5) di kantornya.
Kenapa ia enggan atau bahkan merasa khawatir? Menurutnya, ia enggan dan khawatir karena sejumlah alasan. Pertama, katanya, institusinya adalah dinas yang menghimpun sangat banyak PNS dengan latarbelakang keilmuan yang rata-rata mapan dan bahkan tidak sedikit yang berpikir tajam. Dari seluruh PNS di Kabupaten Majalengka, 2/3-nya berada di lingkungan kantor disdik, kebanyakan sebagai guru. “Ini tentu bukan hal yang sederhana. Diperlukan kemampuan manajerial yang luar biasa tentunya,” katanya.
Kedua, lanjutnya, institusinya merupakan pengguna anggaran terbesar di lingkungan Pemerintah Kabupaten Majalengka. Disdik menggunakan sebanyak 1/3 dari seluruh Anggaran Pendapat dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Majalengka yang kebanyakan digunakan untuk gaji guru dan pegawai lainnya.
Ketiga, katanya, institusinya memiliki banyak persoalan terkait dengan banyak permasalahan khususnya dalam bidang pendidikan. “Dunia pendidikan selalu menjadi sorotan publik karena fungsi dan tugasnya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Kinerja institusi dan birokrasi pendidikan kerap menjadi fokus perhatian masyarakat,” katanya.
Atas dasar ketiga alasan tersebut, Iman Pramudya pada mulanya merasa enggan dan khawatir menduduki jabatan puncak di Disdik Majalengka. “Saya khawatir tidak bisa mengelola dengan baik segala aset yang dimiliki itu. Bukan karena sebab lain, tapi lebih merupakan sikap hati-hati dan mawas diri,” ungkapnya.
Meski begitu, tak ada kata “menolak tugas” bagi Iman Pramudya. Ia terima tugas dan tanggung jawab itu sebagai sebuah tantangan yang harus dituntaskannya secara baik, benar dan berhasil. Tentu pula ia harus menyiapkan banyak persiapan terkait “kebutuhan profesional” yang terkait dengan manajemen birokrasi pendidikan dan segala hal yang berada di sekitarnya. Ia siap melaksanakan semua tugas, kewajiban dan kewenangan yang dimilikinya dengan tekad membawa institusinya sebagai dinas yang berhasil dan lebih maju.
Karier panjang Iman di pemerintahan bukan dalam bidang pendidikan. Kedua orangtuanya memang guru, namun ia sendiri tidak pernah menjadi guru. Sejak tahun 1986 hingga menjelang akhir tahun 2015, karier Iman tidak pernah bersentuhan dengan manajemen pendidikan. Puluhan tahun itu Iman berada pada posisi sebagai pemangku jabatan struktural di luar bidang pendidikan.
Mungkin karena pengalaman itulah maka ketika ia melakukan serah terima jabatan dari kadisdik sebelumnya kepada dirinya, ada seorang pucuk pimpinan organisasi profesi yang meragukan kemampuannya. “Pernyataan meragukan itu diungkapkan langsung orang tersebut di muka umum saat memberikan sambutan. Secara manusiawi saya tersinggung. Tapi saya simpan ketersinggungan itu dan selanjutnya saya jadikan keraguan dia itu sebagai tantangan dan motivasi agar saya mampu mengemban tugas dan tanggung jawab secara baik, benar dan berhasil,” ungkapnya.
Nyata saja. Satu demi satu ia berhasil mengurai beragam masalah yang membelit kantor dinasnya. Satu demi satu pula ia tunjukkan prestasi hebat yang dihasilkan sejumlah orang yang berada dalam lingkup kantor dinasnya seperti guru teladan tingkat nasional/internasional, siswa berprestasi hingga tingkat internasional dan sebagainya.
Iman pun “meratakan jalan” di lingkup dinasnya dari segala hal yang kontra-produktif dengan nilai-nilai dan target yang ingin dicapai kantornya. Satu demi satu masalah diselesaikan, beriringan dengan upaya meminimalisir munculnya masalah-masalah baru.
Kini ia sedang memprioritaskan perhatiannya pada soal infrastruktur (sarana-prasarana) lembaga-lembaga pendidikan. “Sangat banyak persoalan terkait infrastruktur sekolah-sekolah di daerah kita. Ini yang sedang kita prioritaskan penyelesaiannya,” katanya.
Iman mengaku harus sangat banyak menyediakan waktu bagi ketercapaian tugas dan tanggung jawabnya sebagai kadisdik. Karenanya ia meluangkan banyak waktu hingga di luar jam dinasnya. “Saya melayani semua hal yang berkaitan dengan institusi pendidikan dan birokrasinya siang dan malam. Saya siap saja. Hal itu karena tidak cukup waktu menyelesaikan segala tugas hanya di jam-jam dinas,” kata lelaki santun dan familiar beristrikan Ika Dhamayanti itu.
Hidup Sederhana
Dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, Iman memulai hari-harinya dengan kesederhanaan pula. Bahkan boleh dibilang ia sempat mengalami kehidupan yang kurang menyenangkan secara ekonomi saat kecil. Ia bersama empat kakak-adiknya harus hidup sangat sederhana bahkan mendekati menderita karena kedua orangtuanya bukanlah orang berada.
“Kedua orangtua saya adalah guru. Guru zaman itu kan berapa sih penghasilannya. Karenanya kami hidup sangat sederhana. Pendapatan orangtua sangat pas-pasan. Kami pernah mengalami keprihatinan cukup panjang. Saya mengalami makan dengan nasi-jagung, atau menikmati telur dadar sebutir dibagi empat,” kata Iman mengenang masa kanak-kanaknya.
Ayahanda Iman, Slamet Yakin Prawiradireja, dan ibundanya, Kartini, memelihara banyak ayam negeri guna menutupi segala kebutuhan akibat kurangnya penghasilan bila hanya mengandalkan gaji keduanya sebagai guru. Karenanya Iman dan keempat kakak-adiknya juga membantu mengurus ayam-ayam itu dan menjualkan telur-telurnya ke warung-warung di sekitar tempat tinggalnya.
“Saya juga membantu dan menjualkan es mambo yang dibuatkan ibu sesudah pulang dari sekolahnya. Saya dan saudara-saudara mengisi atau mengirim es-es mambo itu ke warung-warung untuk dijualkan,” katanya.
Karena mereka hidup sangat sederhana bahkan cenderung menderita, maka kedua orangtuanya selalu menerapkan disiplin dan pola hidup yang mandiri kepada anak-anaknya. Sejak kecil Iman telah terbiasa melakukan banyak pekerjaan meski masih dalam lingkup dan lingkungan rumah mereka sendiri. Mereka melakukan semua kebutuhannya secara mandiri.
Karena kebiasaan hidup mandiri itu pula, lelaki kelahiran Kota Majalengka pada 9 September 1961 itu, tidak menemukan masalah ketika harus belajar ke Kota Bandung usai menyelesaikan pendidikannya di SDN 2 Majalengka (lulus 1973), SMPN 1 Majalengka (lulus 1976) dan SMAN Majalengka (lulus 1980). Bertahun-tahun lamanya ia hidup di Kota Bandung dalam rangka kuliah.
Setahun pertama ia belajar di IKIP Bandung hingga memperolah gelar Diploma 1 (D1). Tahun berikutnya mengikuti testing lagi pada Program Studi Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung hingga tahun 1988. Jauh setelahnya, pada tahun 2000, ia meraih magister manajemen SDM dari STIE Ganesha Jakarta. Dan pada April 2018, Iman Pramudya meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung.
Kariernya dimulai sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 1986. Setelah menduduki jabatan di sejumlah dinas, kemudian ia menjadi Camat Sindangwangi (2001-2002), Camat Sumberjaya (2002-2005), Camat Dawuan (2005-2006) dan menjadi Camat Jatiwangi (2006-2007). Kemudian menjadi Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setda Kab. Majalengka (2008-2009), Kepala Bagian Sarana Setda Kab. Majalengka (2009-2010), Kepala BPBD Kab. Majalengka (2010), Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Perindag Kab. Majalengka (2010-2014), Asisten Pembangunan Setda Kab. Majalengka (2014-2015) dan menjadi Kepala Dinas Pendidikan Kab. Majalengka (2015 hingga sekarang).
Selain banyak menduduki jabatan struktural di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka, Iman Pramudya pun aktif di beberapa organisasi. Ia pernah menjadi Wakil Sekretaris DPD KNPI Kab. Majalengka (1992-1996), Ketua Kwartir Cabang Pramuka Kab. Majalengka (2015-2020), Ketua Dewan Penasihat Angkatan Muda Siliwangi Kab. Majalengka (2017-2020) dan menjabat Dewan Penasihat PGRI Kab. Majalengka (2018-2023).
Iman Pramudya sempat memperoleh penghargaan. Penghargaan itu berupa Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden RI pada tahun 2007.
Iman mengaku menjalani kehidupan dengan filosofi seperti air, mengalir saja. Sepanjang kariernya ia mengaku tidak pernah meminta-minta jabatan. Soal karier, katanya, silakan atasan atau pimpinannya yang menentukan. “Mereka lebih tahu kemampuan kita. Tugas saya hanya bekerja sebaik-baiknya, patuh dan loyal pada atasan, dan juga menjaga kepercayaan pimpinan sebaik-baiknya,” kata ayah dari Muhamad Lutfi Ramadhan itu.
Iman mengatakan ada tiga amanat orangtuanya yang selalu ia ingat dan resapi. Pertama, orangtuanya menasihati agar ia selalu taat dan patuh pada pimpinan. Kedua, laksanakan kepercayaan dari pimpinan sebaik-baiknya, dan ketiga, kalau ada kesempatan teruslah belajar hingga setinggi-tingginya. “Tiga amanat itu yang selalu saya renungkan dan laksanakan sejak dulu hingga sekarang,” ujarnya. (Arif/SM)

114 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/dr-h-iman-pramudya-subagja-mm-dididik-mandiri-sejak-masih-kecil/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *