Dulu Aku Dihina Tapi Kini Dibanggakan

Masih banyak orang tua yang masih berpandangan bahwa untuk memilih lelaki calon pendamping hidup anak perempuanya masih mengukur pada kemapanan dari calon lelakinya. Bahkan tidak sedikit para orang tua juga yang masih berpegang teguh penilaian latar belakang lelakinya mulai dari bebet, bibit dan bobotnya.

 

Apabila ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, masih jarang orang tua yang merestui anak gadisnya untuk dipersunting kalau tidak terpaksa oleh keadaan. Seperti kisah yang aku alami beberapa tahun lalu, sebut saja namaku Indra (bukan nama sebenarnya), aku sekarang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) menjadi tenaga pengajar di salah satu sekolah di wilayah Sumberjaya.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 2007 silam, dimana aku mempunyai seorang pacar sebut saja namanya Dewi (bukan nama sebenarnya), sebenarnya aku mengenal Dewi sudah cukup lama selain aku pernah satu sekolah waktu masih duduk dibangku SMP, tempat tinggalku dengan Dewi pun tidak lah terlalu jauh kami hanya beda satu desa dan masih di wilayah Kecamatan Sumberjaya. Walaupun aku sudah mengenal Dewi sejak lama namun kami tidak berpacaran hanya  sebatas pertemanan.

Karena sering bertemu, singkat cerita aku dan Dewi pun sepakat untuk menjalin hubungan berpacaran karena pada waktu itu Dewi sedang menjomblo alias tidak punya pacar dan aku pun memang belum pernah punya pacar sebelumnya. Namun hubunganku tidak bertahan lama hanya beberapa bulan saja, karena pada waktu itu orang tua Dewi tidak menyetujui saat mengetahui anaknya berpacaran denganku.

Orang tua dewi tidak merestui anaknya berhubungan dengan orang miskin sepertiku. Maklum saja aku ini berasal dari keluarga sederhana dan bapakku hanyalah seorang petani, selain itu pada waktu itu pekerjaanku sebagai guru honorer, yang belum mempunyai jaminan penghasilan tetap saat menjalani hubungan rumah tangga kelak. Walaupun orang tuaku seorang petani, namun aku bangga kepadanya karena mereka sangat memperhatikan pendidikanku sehingga aku berhasil menyelesaikan gelar sarjana di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung.

Itulah salah satu alasan kenapa aku belum pernah punya pacar semasa remajaku, aku takut dengan kondisiku baik perempuan maupun orang tuanya tidak mau menerimanya dan ternyata kekhawatiranku selama ini benar adanya.

Namun walaupun orang tua Dewi tidak menyetujui untuk berpacaran apalagi sampai meminangnya, aku tidaklah marah dan aku terima semuanya dengan lapang dada, mungkin karena aku sudah siap sebelumnya akan menghadapi hal seperti ini. Tentu sangatlah wajar apabila kedua orang tua Dewi tidak merestuiku, mungkin mereka khawatir akan kebahagiaan anaknya, karena aku belum mapan dan mandiri dan kedua orang tuaku hanyalah seorang petani.

Aku masih ingat betul saat orang tua Dewi menyuruhku untuk menjauh dan tidak lagi menjalin hubungan dengannya, karena pada waktu itu alasan utama orang tua Dewi adalah mereka telah mempunyai calon untuk Dewi yang notabene dari keluarga ningrat selain itu calon menantunya sudah mapan.

Sejak kejadian tersebut aku aku berusaha untuk move on, dan alhamdulillah, aku tidak mengalami kesulitan untuk bisa melupakan kenangan bersama Dewi maupun omongan pahit dari orang tua Dewi. Mungkin Dewi bukanlah jodoh bagiku, dan mengenani penolakan yang dilakukan orang tua Dewi aku jadikan motivasi hingga saat ini.

Singkat cerita impianku menjadi PNS akhirnya dikabulkan Allah SWT, pada tahun 2008 aku diterima menjadi PNS. Ditahun yang sama aku mendengar kabar bahwa Dewi akan melangsungkan pernikahan dengan pria pilihan orang tuanya sebut saja Andi (bukan nama sebenarnya). Walaupun aku mendapatkan undangan dari Dewi, namun aku sudah putuskan untuk tidak datang ke pesta pernikahanya. Alasanku cukup simpel yakni aku tidak mau kehadiranku akan membuka kenangan masa lalunya begitu pun denganku, biarlah kita berdua ini menjalani kehidupannya masing-masing.

Tujuh tahun kemudian, aku dipindah tugaskan dari sekolah tempatku mengajar semula. Ternyata sekolah baruku tempatku mengajar berada di desa tempat tinggalnya Dewi, teman sekaligus mantan kekasihku dulu. Aku sudah benar-benar melupakan nama Dewi di dalam pikiranku, sehingga walaupun sekolah tempat mengajarku tidak jauh hanya beberapa meter saja dari rumah orang tuanya aku tidak ingin mengetahui kabarnya.

Sampai suatu ketika aku dipertemukan dengan Dewi, dari kejauhan aku melihat Dewi berjalan kesekolahku sambil menuntun seorang anak kecil ke sekolahku. Setelah aku cari tahu ternyata dia mengantar anaknya sekolah, saat bertemu pun aku mencoba biasa saja hanya sebatas bersalaman dan menanyakan kabar.

Jujur tidak bisa dipungkiri dalam hatiku merasa bahagia saat bertemu dengan Dewi, setelah hampir delapan tahun lamanya tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi. Ya walaupun Dewi sudah mempunyai suami setidaknya aku bahagia. Walau sudah menikah dan mempunyai anak Dewi terlihat masih nampak cantik dan tidak banyak perubahan. Sementara kini usiaku sudah menginjak kepala tiga lebih namun masih belum memiliki pendamping hidup, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kedua orang tuaku.

Aku bertekad akan selalu memprioritaskan untuk membahagiakan kedua orang tuaku sementara soal pernikahan belakangan, aku sendiri dalam hal mencari pendamping hidup aku tidak mempunyai target, dan biarkan semuanya mengalir apa adanya. Memang sempat beberapa kali kedua orang tuaku menyuruhku untuk cepat-cepat mencari pasangan hidup agar aku ada yang ngurus. Orang tuaku tidak mempunyai kriteria untuk calon menantunya kelak, bagi kedua orang tuaku siapa saja wanita yang menjadi pilihanku mereka akan menyetujuinya.

Karena hampir setiap hari ketemu dengan Dewi akhirnya tanpa terelakan akhirnya kami berdua sering terlibat obrolan. Walau obrolannya hanya sebatas biasa-biasa saja yakni seputar anak dan seputar sekolah.

Belakangan diketahui ternyata Dewi kini berstatus janda karena sudah bercerai dengan suaminya setahun yang lalu. Sejak bercerai dengan suaminya ia kembali tinggal dengan kedua orang tuanya bersama seorang anaknya. Dan terlepas status Dewi janda atau tidak, namun aku tetap menjaga jarak dengannya karena aku tidak mau menjadi obrolan oleh ibu-ibu yang lainnya.

Entah kenapa setelah mengetahui Dewi berstatus janda, jujur dalam hatiku kecilku tidak dipungkiri semakin tumbuh rasa bahagia ini. Bahkan hasrat untuk mencari pendamping hidup yang dahulu sempat menghilang kini mulai muncul kembali, apakah memang Dewi ini ditakdirkan untuk berjodoh denganku.

Dan pertanyaanku apakah masih mau baik Dewi maupun kedua orang tua Dewi menerimanya, karena dahulu sempat dengan tegas menolakku. Kemudian untuk menjawab pertanyaanku tersebut aku memberanikan diri untuk meminta waktu mengobrol dengan Dewi atau mencari nomor telepon genggamnya agar aku bisa leluasa menjalin komunikasi dengannya.

Setelah berhasil memperoleh nomor teleponnya akhirnya kami pun mencoba kembali mengobrol, walaupun awalnya sempat kaku namun lama kelamaan kami berdua pun seolah terlarut dalam obrolan kerinduan yang selama ini terpendam satu sama lain.

Dewi pun kemudian menceritakan kisahnya setelah tidak lagi menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain Andi yang merupakan pilihan orang tuanya. Sebenarnya hati kecilnya tidak sepenuhnya menerima Andi sehingga hal tersebut yang mengakibatkan hubungan dengan mantan suaminya tidak bertahan lama selain itu memang Andi juga suka berlaku kasar dan ternyata belakangan diketahui mempunyai wanita idaman lain. Akhirnya Dewi mantap menceraikan suaminya, dan sudah setahun hidup menjadi single parent membesarkan anaknya.

Setelah kami berdua sering bericerita akhirnya memantapkan niatku untuk kembali mempersunting Dewi menjadi isteri, kali ini rintangan yang dihadapiku adalah apakah aku akan mendapat restu dari kedua orang tua Dewi.

Singkat cerita aku pun memberanikan diri untuk kembali melamar Dewi kepada kedua orang tuanya, dan ternyata saat aku sampaikan keinginanku kedua orang tua Dewi langsung menangis. Mungkin dia merasa malu dan bersalah atas apa yang pernah dilakukannya kepadaku delapan tahun yang lalu, dan mereka pun menerimaku.

Tak lupa keinginanku mempersunting Dewi aku sampaikan juga kepada kedua orang tuaku, dan sesuai dugaanku mereka langsung saja menyetujuinya namun mereka juga tetap mengingatkan agar aku tak lupa memikirkan masak-masak untuk wanita pilihannya. Sebagai orang tua mereka selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

Aku pun kemudian melangsungkan pernikahan dengan Dewi, kini sudah 6 tahun menikah dengannya dan dikarunia seorang anak laki-laki dan kami berdua pun hidup bahagia hingga sekarang. Salah satu hikmah dari kisah ini adalah agar para orang tua tidak menilai calon menantunya dari fisiknya dan latar belakangnya saja, karena belum tentu pilihan orang tua akan dapat membahagiakan anaknya. ***

764 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/dulu-aku-dihina-tapi-kini-dibanggakan/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *