Encon Rahman, Guru SD dengan Segudang Prestasi Hebat

KESENANGANNYA berpikir dan menulis, membuahkan prestasi sangat membanggakan. Kebanggaan itu bukan hanya untuk diri dan keluarganya, tapi juga untuk Kabupaten Majalengka, khususnya untuk institusi pendidikan di Kabupaten Majalengka.
Kegiatan menulis yang sudah digelutinya sejak masih bersekolah di sekolah menengah pertama, memberikan banyak berkah dalam bentuk tercukupinya banyak kebutuhan saat bersekolah hingga kuliah. Ia banyak menghasilkan tulisan bertema pendidikan dan sastra seperti sajak, cerita pendek (cerpen), cerita bersambung (cerbung) dan sebagainya. Bahkan honorarium cerbungnya yang dimuat di sebuah surat kabar harian terkenal di Jawa Barat bisa digunakannya untuk membeli 10 gram emas yang lantas dipersembahkannya kepada seorang gadis yang jadi pujaan hatinya, Susi Ani.
“Honor cerbung saya berjudul ‘Misteri Vila Merah’ saya belikan 10 gram emas. Emas itu kemudian saya persembahkan kepada gadis itu saat saya menikahinya. Itu hanya salah satu saja berkah dari kesenangan saya menulis di banyak media, ya di koran, di majalah atau di media-media pendidikan di lokal maupun nasional,” ungkap Encon Rahman, S.Pd.
Honorarium dari tulisan yang diterbitkan itu juga yang mencukupi kebutuhannya saat bersekolah hingga kuliah, baik untuk kebutuhan makan sehari-hari maupun biaya-biaya lainnya. Usai menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Pasundan (Unpas) Bandung pada tahun 2002, Encon Rahman yang kini menjadi guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Mekarwangi Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka itu, kebiasaan menulis dan berpikirnya terus digeluti.
Pada tahun 2002 hingga 2006, Encon Rahman mengikuti Program Santri Karya di Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid Bandung di bawah asuhan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Di pesantren itu Encon Rahman tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga giat belajar mencari ilmu sebanyak-banyaknya seraya terus memupuk kemampuannya menulis.
Hingga akhirnya pada tahun 2006 nasib baik merengkuhnya. Tahun itu ia mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS), sebagai calon guru. “Alhamdulillah, saya lulus dan selanjutnya diangkat menjadi guru SD, dan langsung ditempatkan di SDN 1 Mekarwangi. Hingga sekarang saya sudah 12 tahun mengabdikan diri di sekolah ini,” kata warga Desa Ciomas Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka itu saat berbincang dengan Sinarmedia di kantor sekolahnya, Selasa (8/5).

Karya Tulis Ilmiah dan PTK
Kegemarannya berpikir dan aktivitas intelektualnya justru lebih berkembang lagi semenjak menjadi guru. Encon Rahman tidak mau diam. Selain terus menulis banyak topik khususnya terkait dengan masalah-masalah pendidikan, otaknya pun terus diputar untuk mencari model-model baru terkait dengan teknis pembelajaran bidang studi tertentu demi kemajuan para siswa di sekolahnya.
Hasilnya sungguh sangat membanggakan. Sejak tahun 2011, Pak Guru Encon berhasil menciptakan sebanyak 486 karya tulis ilmiah (KTI), menciptakan enam buah buku pelajaran dan dua buah buku bertema sosial. Bukan hanya itu, Guru Encon juga berhasil menciptakan sebuah cara atau model belajar cepat dan menyenangkan sebagai penelitian tindakan kelas (PTK) terkait pelajaran matematika. PTK dimaksud diberinya judul “Penggunaan Jari Tangan Menyanyi untuk Meningkatkan Keterampilan Materi Bilangan Romawi untuk Kelas IV di SDN 1 Mekarwangi”.
Prestasi membanggakan itu lantas mengantarnya menjadi peserta guru berprestasi (gupres) di tingkat Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016. Dalam ajang ini Encon Rahman berhasil menjadi juara pertama. “Hikmah dan berkah juara pertama tingkat provinsi ini saya diberangkatkan ke Tanah Suci untuk umrah,” katanya.
Pada tahun yang sama, yakni tahun 2016, Encon Rahman juga berhasil menjadi juara pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Keberhasilannya di tingkat nasional ini kemudian memberinya kesempatan melakukan studi-banding ke Australia.
Prestasi Encon Rahman belum berhenti di situ. Prestasi dan PTK ciptaannya membawa Encon Rahman memperoleh penghargaan tingkat internasional. Di tahun 2017 itu Encon mendapatkan medali Princess Mahacakri Award yang dikeluarkan Kerajaan Thailand.
Sebelumnya juga banyak prestasi membanggakan yang diraih Encon Rahman. Diperoleh keterangan, pada tahun 2012 ia jadi juara III tingkat nasional pada Lomba Kreativitas Guru (LKG). Di tahun yang sama (2012) Encon juga berhasil menjadi juara II Simposium Bermutu Tingkat Nasional . Pada tahun 2013 Encon menjadi finalis Inovasi Pembelajaran (Inobel) Tingkat Nasional, dan pada tahun 2015 Encon menjadi juara I Anugerah Mahkamah Konstitusi Tingkat Nasional.
“Guru berprestasi ini merupakan puncaknya lomba untuk guru, sebab banyak lomba lain yang digelar tapi lebih bersifat variatif. Kalau Guru berprestasi ini menggabungkan semua lomba yang terkait dengan guru dan kiprah pendidikan. Kita tahu Kementerian Dikbud itu banyak memiliki lomba yang sangat beragam,” katanya.
Disebutkan Encon, penilaian juri terkait lomba guru berprestasi ini terdiri dari empat kategori dengan bobot persentase yang beragam. Kriteria-kriteria tersebut terdiri dari penilaian administrasi sebanyak 20 persen, penilaian presentasi makalah atau PTK sebanyak 30 persen, tes tulis sebanyak 25 persen dan tes wawancara sebanyak 25 persen.
Menurutnya, kini tidak boleh lagi mengikuti beragam perlombaan semacam itu setidaknya untuk sekitar lima tahun mendatang. Karenanya kini Pak Guru Encon sedang fokus menulis dan membuat buku sebanyak-banyaknya. “Saya kini sedang banyak menulis dan ingin terus menulis sebanyak-banyaknya,” kata ayah dua anak, Firqon Alfarizi Rahman dan Muhammad Amirul Mukminin, itu.
Terkait metode pembelajaran matematika yang disebutkannya sebagai “Model Jari Tangan Menyanyi” itu, Encon menyebutkan metode itu adalah mutlak hasil kreativitasnya. Disebutkannya, model itu awalnya diilhami oleh pembelajaran dalam bidang kepramukaan, lantas diciptakannya metode belajar matematika yang bisa diterima para muridnya dengan mudah dan menyenangkan.
Dikatakan pria kelahiran Majalengka 5 April 1972 anak dari pasangan Darmin (ayah) dan Ecoh (ibu) itu, dalam bilangan Romawi itu ada rumus tertentu, dan rumus inilah yang kemudian dinyanyikan para siswanya agar lebih mudah dimengerti dan dihapal. Encon membuat alat peraga berupa guntingan gambar jari kedua belah tangan untuk menyebutkan dan menghapal angka-angka Romawi seperti I (untuk angka Latin 1), V (untuk angka Latin 5), X (untuk angka Latin 10), L (untuk angka Latin 50), C (untk angka Latin 100), D (untuk angka Latin 500) dan M (untuk angka Latin 1000). “Alat peraga itu tinggal digerakkan para siswa sambil bernyanyi. Model ini belum ditemukan di mana-mana. Itulah sebabnya para juri kemudian memberikan apresiasi sangat bagus pada PTK ini,” kata guru yang setiap hari menempuh jarak 15 kilometer pulang-pergi dari rumah hingga ke sekolahnya itu.
Encon menyebutkan kini ia sedang mempersiapkan langkah hukum untuk melindungi hak cipta tas karyanya itu. “Saya sedang mempersiapkannya. Mungkin tak lama lagi saya akan segera mendaftarkan karya saya ini mendapatkan HAKI-nya,” katanya.
Model Ruang Kelas
Pada kunjungan Sinarmedia ke sekolah tempat Encon mengajar, diperoleh gambaran para siswa menempati ruang belajar yang disusun secara menarik. Para siswa duduk di kursinya masing-masing secara berkelompok. Ada tidak kelompok pada setiap kelasnya.
Meja dan kursi belajar disusun menggunakan pola atau denah diskusi kelompok kecil. Pada hari-hari tertentu, masing-masing anggota kelompok ini akan diputar secara bergantian. Jadi tidak ada siswa yang hanya bertetangga duduk dengan satu siswa saja, mereka akan diputar. Karenanya teman duduknya akan berganti-ganti.
Diperoleh keterangan, penyusunan tempat duduk seperti itu juga dimaksudkan agar anak-anak mudah saat berdiskusi dengan sesama siswa. “Kami di SD ini banyak menggunakan pola belajar dengan cara diskusi, selain tentunya juga dengan model para siswa mendengarkan guru memberi pelajaran,” kata Encon Rahman.
Tas-tas sekolah siswa disusun sangat rapi di dinding secara berjejer. Sementara langit-langit kelas dipenuhi oleh gantungan gambar-gambar hasil kreativitas para siswanya. Begitupun dengan alat-alat belajar lain seperti papan tulis dan lembar-lembar prestasi belajar siswa, tertempel dengan rapi di dinding kelasnya masing-masing.
“Model ini merupakan oleh-oleh saya dari Australia. Kami terapkan di sekolah ini dengan penyesuaian-penyesuaian tertentu diadaptasi dengan kemampuan sekolah kami,” kata Encon.
Menurut Encon, masih banyak hal lain yang harus disiapkan sekolahnya untuk mencapai keberhasilan belajar-mengajar yang lebih maksimal lagi. Dirinya beserta kepala sekolah dan para pengajar lain akan terus berusaha menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi para siswa khususnya.
“Meski sekolah kami berada di kaki gunung, namun kami tetap ingin menjadikan sekolah kami sebagai sekolah berprestasi. Buktinya sudah ada, tidak sedikit para siswa kami yang berhasil mencapai prestasi membanggakan baik di tingkat kecamatan maupun yang lebih tinggi darinya,” ungkap Encon Rahman. (Arif/SM)

72 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/encon-rahman-guru-sd-dengan-segudang-prestasi-hebat/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *