Guru Aop Dibebaskan Dari Hukuman

Masih ingatkah anda pada Aop Saopudin, sekitar dua tahun lalu nama guru honorer di SD Panjalin Kidul V Sumberjaya itu mendadak menjadi populer di Kabupaten Majalengka bahkan hingga di tingkat nasional. Ia menjadi terkenal gara-gara  dipolisikan oleh salah seorang orangtua siswa akibat melakukan razia potong rambut  di sekolahnya.
Razia potong rambut yang dilakukannya dengan maksud untuk menegakkan disiplin ternyata berbuntut panjang. Akibat memotong rambut siswanya ia sempat terancam pasal berlapis oleh jaksa penuntut umum di Pengadilan yaitu undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan pasal 335 ayat (1) ke 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.
Namun dengan pertimbangan majelis hakim akhirnya Pengadilan Negeri (PN) Majalengka dalam amar putusannya    No. 257/Pid.B/2012/PN.Mjl tanggal 2 Mei 2012 menutuskan bahwa Aop Saopudin hanya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dengan dijatuhi pidana penjara 3 bulan dengan masa percobaan 6 bulan.
Walau tidak harus  menjalai hukuman mendekam dalam jeruji besi, Aop dengan didukung para guru lainnya tak terima divonis bersalah. Ia kemudian melakukan banding ke Pengadilan Tinggi Bandung untuk mencari keadilan. Namun upayanya tidak berhasil karena keputusan PT Bandung tidak sesuai harapan, keputusannya malah menguatkan keputusan PN Majalengka.
Merasa yakin tetap tidak bersalah, Aop dengan mendapat kawalan dan dukungan dari para guru mencari keadilan ke tingkat yang lebih tinggi yakni mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA), bahkan bukan hanya Aop pihak jaksa penuntut umum juga turut mengajukan Kasasi karena tidak puas dengan putusan pengadilan Tinggi. Namun upaya Aop tidak sia-sia hasilnya “guru ilegal” itu  dibebaskan dari segala tuntutan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Majalengka dan yang dikuatkan oleh putusan  Pengadilan Tinggi Bandung.
Berdasarkan keputusan Mahkamah Agung nomor 1554 K/PID/2013, Aop dibebaskan dari segala dakwaan karena MA membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Bandung No.226/PID/2013/PT.BDG  tanggal 31 Juli 2013  yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Majalengka no 257/Pid.B/2012 /PN.Mjl tanggal 2 Mei 2013.
Dalam keputusannya MA menyatakan bahwa Aop Saopudin, S.Pd.I bin Kamaludin tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. MA juga memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat martabatnya.
Mahkamah Agung berpendapat apa yang dilakukan Aop adalah sudah menjadi tugasnya dan bukan merupakan suatu tindakan pidana dan terdakwa tidak dapat dijatuhi pidana atas perbuatan tersebut karena bertujuan untuk mendidik agar menjadi murid yang baik dan disiplin.
Menanggapi keluarnya keputusan MA tersebut, Aop saat ditemui Sinarmedia menyatakan kegembirannya yang tidak terhingga. Dengan mata berkaca-kaca Aop mengungkapkan bahwa keputusan MA itu merupakan kehendak Allah Swt untuk menunjukan kepada kita bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
“Pokoknya kebahagian ini sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujar Aop.
Menurut Aop kepusan MA itu bukan kemenangan bagi dirinya saja tapi merupakan kemenangan bagi semua guru di Indonesia, jangan karena ingin mendidik malah dihukum, ini merupakan preseden buruk bagi dunia pendidikan.
Ia berharap peristiwa yang menimpa dirinya tidak terulang kembali pada guru-guru yang lain yang  telah tulus ikhlas mendidik anak malah mendapat hukuman. Diakuinya, ia mengetahui adanya putusan MA tersebut hari Senin (28/10) dari teman-temanya sesama guru. Ketika mengetahui keputusannya sesuai yang diharapkan ia langsung melakukan sujud syukur. Ia juga banyak menerima telepon ucapan selamat  dari teman-temannya sesama guru.
Menurut Aop, berdasarkan keterangan dari teman-temannya, sujud syukur atas putusan MA tersebut juga akan dilakukan oleh para guru saat acara peringatan hari guru atau hari ulang tahun PGRI 25 November yang akan datang.
Aop mengucapkan terimakasih kepada rekan-rekannya sesama guru yang selama ini terus memberikan “suport” agar terus memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai guru. Ia mengakui sempat  “down” karena terkena masalah ini terlebih lagi setelah ia sempat disebut sebagai guru ilegal.
Kini Aop masih melakukan aktifitasnya mengajar di SD Panjalin Kidul V Kecamatan Sumberjaya, ia  mengaku masih trauma atas kejadian itu hingga membuatnya sangat hati-hati dalam turut serta menegakkan disiplin di sekolahnya. Tidak banyak yang ia harapkan, ia hanya  ingin dihargai dan diakui sebagai guru seperti yang ia cita-citakan.(S.07).

1,400 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/guru-aop-dibebaskan-dari-hukuman/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *