H. Aan Suhanda 10 Tahun Pimpin PDAM

Kurang lebih tiga bulan lagi tepatnya bulan Desember 2014, Direktur Utama ( Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Majalengka H. Aan Suhanda, M.Si. akan mengakhiri masa tugasnya. Ia harus meninggalkan tugasnya memimpin PD. PDAM karena usianya sudah  mencapai 60 tahun. Bagaimana kiprahnya selama  10 tahun memimpin PDAM dari rugi hingga mencapai untung Rp. 1,5 Miliar per tahun berikut hasil wawancara Sinarmedia dengan H. Aan Suhanda di ruang kerjanya belum lama ini.

AanPDAMsmall
H. Aan Suhanda, M.Si.

Menjadi komandan di salah satu perusahaan yang tengah “kolep” tentunya bukanlah sesuatu yang menggembirakan dan pastinya tidak mudah, selain kerja keras juga diperlukan ketegasan dan kejujuran dalam membangun dan mengelola perusahaan agar mengalami kemajuan. Itulah yang terjadi saat awal-awal H. Aan Suhanda dipercaya  memimpin PDAM di tahun 2004 silam.

Berat itulah kata yang terucap dari seorang H. Aan Suhanda saat diberi amanah untuk memimpin PDAM ketika itu. Beban dipundaknya semakin berat manakala mendapati kenyataan PDAM Majalengka ketika itu nyaris bangkrut dan “disengseurikeun” oleh pihak luar karena pengelolaannya yang amburadul.

Namun dengan semangat dan kepercayaan diri yang  tinggi serta diimbangi oleh pengalamannya dalam masalah “perairan”  ia menyanggupi  amanah tersebut dengan lapang dada. Ia hanya butuh waktu dua tahun untuk menunjukan keberhasilannya  membalikkan kenyataan dari yang tadinya PDAM mengalami kerugian berbalik  hingga memperoleh keuntungan.

Pada saat pertama kali ia memimpin PDAM ia dihadapkan pada berbagai permasalahan diantaranya  manajemen yang buruk, sumur-sumur PDAM tidak terpelihara dan disisi lain tidak ada rasa tanggung jawab diantara karyawan dan terakhir tidak ada efisiensi. Akibatnya perusahaan selalu mengalami kerugian.

Langkah awal yang dilakukannya ketika ia mendapat tugas di PDAM ia berangkat ke Jakarta ke Kementrian PU dengan membawa dokumen yang ada untuk menyampaikan tentang kondisi PDAM yang ada dan langkah-langkah yang akan dilakukannya untuk menyelamatkan PDAM dari keterpurukan.

Menurut Aan, kondisi PDAM Majalengka ketika itu mendapat cemoohan dari pusat dan PDAM dari daerah lain. Namun menurutnya comoohan itu oleh dirinya dijadikan motivasi dalam memimpin PDAM Majalengka hingga seperti sekarang.

Selain diwarisi utang yang besar ketika itu PDAM majalengka juga dihadapkan pada menajemen  yang acak-acakan. Menurutnya PDAM ketika itu betul-betul asal jalan  tidak melakukan pengembangan  jaringan. “Bagaimana mungkin kita mendapatkan hasil, sementara, air yang  kita jual tidak  mengalir dengan lancar,” ujar Aan.

Dengan mendapat dorongan dan bantuan dari pusat diimbangi dengan pembenahan manajemen hanya dalam dua tahun telah memperlihatkan hasil. Berdasarkan hasil audit independen dan BPK, PDAM Majalengka dinyatakan sebagai perusahaan yang sehat.

Kiat sukses

Tidak ada kesuksesan tanpa adanya kerja keras, sosok H. Aan Suhanda dikenal oleh karyawannya merupakan sosok pekerja keras dan tegas baik dalam ucapannya maupun dalam tindakannya. Namun dibalik kekerasanya ada sifat kelembutan dalam hatinya hingga  menjadi sosok kebapakan hingga banyak disenangi oleh bawahannya.

Sifat keterbukaannya  atau transparansi  dalam mengelola perusahaannya membuat anak buahnya menyimpan kepercayaan penuh  dan berbuah kekompakan hingga akhirnya menimbulkan kebersamaan  dalam pekerjaan untuk menyukseskan program-program  yang telah  dicanangkan oleh atasannya.

“Saya ini bicaranya seperti ini sudah adat, tapi saya bermaksud baik,“ ujarnya sambil tersenyum.

Aan menceritakan bahwa, sebelum bertugas di Majalengka sebelumnya ia pernah bekerja di PDAM Kuningan. Dedikasinya di PDAM sudah ia perlihatkan saat bekerja disana. Ia menceritakan sempat tidak pulang pada saat hari raya idul fitri karena masih ada tugas, hingga malam takbiran ia masih di hutan.

Di lain cerita, ia mengisahkan ada atasannya setingkat Kabid sementara ia jabatannya Kasi  diperintahkan untuk memperbaiki saluran air PDAM yang mampet sementara mereka diberi target harus merampungkan pekerjaan itu  pada jam 7 malam. Pada saat ia pulang dari hutan ia mendapati para pegawai PDAM menjelang magrib dengan tenaga yang loyo masih juga belum tuntas menyelesaikan pekerjaannya.

Walaupun bukan tugasnya, Aan ketika itu mendatangi mereka dan ketika ditanyakan kepada mereka sudah makan atau belum makan, kemudian  ia menyarankan untuk makan terlebih dahulu. Dan benar saja setelah diberi makan mereka bekerja semangat hingga target selesai pada jam 7 malam tercapai. Inti dari cerita itu bahwa kita tidak boleh memperkerjakan orang dalam keadaan perut kosong  dan harus menghargai orang kecil.

Setelah mengalami  kemajuan, banyak orang bertanya dan pihak Kemen PU selalu meminta dirinya untuk menyampaikan kisah suksesnya memimpin PDAM kepada PDAM  dari wilayah lain. Menurutnya hanya ada tiga hal kiat sukses yang dilakukannya dalam mengelola PDAM yakni K3 (Kuantitas, Kualitas dan Kontiunitas).

Menurutnya, karena PDAM itu yang dijual itu adalah air maka harus tetap dijaga Kuntitasnya, dijaga Kualitasnya dan dijaga pula Kontiunitasnya. Bagaimana mungkin PDAM dapat hasil kalau ketiga hal tersebut tidak diperhatikan.

Selama kepemimpinannya, ia telah berhasil mengembangkan jaringan ke beberapa wilayah yang selama ini tidak tersentuh PDAM. Selain itu ia juga berhasil mengoptimalkan aliran air di perkotaan di Majalengka yang selama ini banyak dikeluhkan karena airnya sering tidak ngocor. Ia mengaku pernah mendapat surat “cinta” dari para pelanggan PDAM yang mengucapkan terimakasih  karena  air PDAM yang lama tidak mengalir dapat  “ngocor “lagi setelah diperbaiki.

Keberhasilan Aan dalam memimpin PDAM selain berhasil mengembangkan jaringan , meningkatkan pendapatan dan membangun kantor baru, ada hal yang membuatnya berlega hati adalah meningkatkan kesejahteraan  karyawannya. Sebagai gambaran pada saat ia masuk PDAM, salah sorang karyawan  yang sudah bekerja di PDAM selama 13 tahun gajinya hanya Rp.700 ribu namun sekarang mereka bisa mencapai Rp.4,5 juta lebih per bulan.

Menurut Aan masih banyak hal yang belum sempat  ia kerjakan namun karena waktu untuk memimpin PDAM akan segera berakhir maka ia berharap penggantinya kelak dapat meneruskan program-pogram yang belum sempat dilaksanakan. Ia yakin pengganti dirinya akan melakukan yang terbaik untuk kemajuan PDAM Majalengka.(Red).

606 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/h-aan-suhanda-10-tahun-pimpin-pdam/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *