H. Maman Suherman,Membangun Majalengka Dengan Niat Ibadah

Salah satu kunci sukses dalam menjalankan bisnisnya adalah berbagi, dengan berbagi  terbukti telah membawa dirinya menjelma menjadi seorang pengusaha sukses mengelola perusahaan berskala nasional bahkan sudah go internasional. Dia adalah H. Maman Suherman seorang putra daerah kelahiran Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi yang telah membuktikan dan meyakini bahwa berbagi dengan orang yang kurang mampu adalah faktor utama dalam menunjang kesuksesan dalam menjalankan usahanya.

Kini dua pabrik  yang bergerak dibidang “sparepart” (suku cadang) pabrik telah ia dirikan di Cilegon dan Tanggerang Provinsi Banten. Selain untuk memenuhi pesanan dalam negeri hasil karya anak bangsa itu telah diekspor ke luar negeri diantaranya ke Jepang untuk memenuhi permintaan salah satu  perusahaan otomotif terkenal di negeri yang terkenal dengan rajanya industri mobil itu.

Saat ngobrol santai dengan Sinarmedia di salah satu pabriknya di Cilegon Banten, H. Maman yang berpenampilan low profile ini dengan ramah menceritakan kisah perjalanan hidupnya  dalam merintis usahanya yang penuh liku mulai dari kecil hingga menjadi besar seperti sekarang ini.

Menurut pria kelahiran Majalengka 16 April 1970 itu, berbagi adalah salah kunci suksesnya dalam berbisnis. Selama ini ia menjalankan prinsip berbagi dengan sesama dan terbukti hingga saat ini usahanya masih tetap kokoh berdiri bahkan pada saat terjadi krisis ekonomi ia tidak terpengaruh adanya krisis moneter yang pernah melanda negeri ini.

Ditegaskannya, jangan takut berbagi akan menjadi miskin, karena sesuai dengan janji Allah dengan berbagai maka rejeki kita akan ditambah bukan dikurangi. Hanya masalahnya sekarang adalah banyak pengusaha yang tidak mau berbagi menyisihkan sebagian keuntungannya buat orang-orang yang tidak mampu.

“Kalau matematika jelas kalau dikurangi itu akan berkurang, tapi hukum Allah berbeda, Allah sudah tentukan bahwa barang siapa yang menjalankan perintah Allah maka akan dilipat gandakan dan itu pasti tidak perlu ragu itu sudah janji-Nya, ada saja rizki yang akan kita peroleh,” ujarnya.

Menurutnya, karena hikmah dari berbagi itu perusahaanya tidak pernah kena dampak oleh krisis moneter yang pernah melanda negeri ini, syaratnya memang pengusaha harus mau menginfakkan dan mensodaqohkan hasil dari usahanya karena ada sebagian  hak orang lain yang kita peroleh hingga keuntungan itu bukan untuk diri sendiri saja.

“Pengusaha itu harus mau berbagi menginfakkan dan mensodaqohkan sebagaian keuntungan dari usahanya, karena rizki yang kita pereoleh didalamnya ada hak orang lain,” kata H Maman yang mengaku sudah menjalankan prinsip berbagi ini sejak ia masih “susah“  karena bisnisnya belum maju seperti  sekarang ini.

Ketika masih dalam kondisi prihatin H Maman sudah berupaya berbagi dengan orang lain karena ia sudah sangat merasakan bagaimana pahitnya menjadi orang miskin. Sejak kecil ia sudah merasakan keprihatinan karena ia bukan berasal dari keluarga mampu.

 

Membangun Usaha

Mendirikan dan mengelola perusahaan tentunya bukan pekerjaan mudah apalagi tidak dibekali oleh modal uang yang besar dan kemampuan atau skil yang mumpuni.Tapi tidak demikian bagi seorang H Maman yang benar-benar merintis usahanya dari bawah, ternyata bukan uang besar yang telah menjadikan sebagai pengusaha besar yang sukses.

Sebelum menjadi pengusaha besar, ia mengaku pernah bekerja sebagai tukang cuci mobil di Bandung tepatnya di Jalan Lingkar Selatan sekitar tahun 1989. Hingga kini ia masih menjalin silaturahmi dengan orang yang telah membantunya hidup di kota Bandung itu sebagai wujud rasa terima kasihnya.

Dari kota Bandung yang bertahan hanya enam bulan ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di pabrik hingga tahun 1990. Merasa tak bisa berkompetisi di Jakarta karena persaingan usahanya sudah sangat ketat sementara ia dari kampung halamannya Majalengka tidak berbekal modal uang dan ijazah akademisi hingga ia memutuskan pindah ke daerah sentra industri besar tapi penduduknya masih sedikit dengan pertimbangan kompetisinya lebih mudah dan pilihannya adalah Cilegon.

Ia mengaku hanya punya uang Rp1,4 juta saat akan memulai usaha suku cadangnya yang kini telah menjadi besar. Uang hasil kerjanya di salah satu pabrik di Jakarta itu ia jadikan modal usaha membeli peralatan kantor  seperti, mesin tik, faksimile, kursi, meja dan peralatan lainnya.

Baru mulai tahun 1991 usahanya sudah mulai berjalan secara kecil-kecilan dengan mendekati pihak Krakatau Steel. Walau dikelola oleh dua orang, perusahaannya terus berkembang karena mendapat kepercayaan dari para konsumennya. Untuk menjaga kepercayaan tersebut dan tak mau disebut perusahaan tidak “bonafide” ia kadang merental mobil untuk datang ke pabrik-pabrik besar  karena waktu itu ia belum memiliki mobil.

Menurut nya, leader marketing harus percaya diri  kita harus bisa meyakinkan bahwa kita itu ada walaupun sebenarnya kita tidak ada. Modal keberanian, diplomasi, argumentasi di pabrik dipentingkan karena kita memasarkan produk yang dibuat diberi jaminan dan mampu menggaransi.

Seiring berjalannya waktu perusahaan yang dirintisnya mulai mendapat kepercayaan dari perbankan dengan diberikan fasilitas kredit. Kini perusahaannya sudah bisa bersaing bukan hanya di tingkat nasional tapi sudah di tingkat internasional dengan adanya pesanan barang dari luar negeri termasuk pesanan dari Jepang.

Dagang Rujak

Masa kecil H. Maman dihabiskan di Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi dengan segala keterbatasan ekonomi. Setelah menyelesaikan pendidikan SD di SD I Jatisura ia melanjutkan pendidikannya di SMP 2 Jatiwangi dan masih ingat dan sulit terlupakan masa-masa sulit itu karena untuk membayar uang bangunan ke sekolah saja ia meminjam uang ke ke BKPD Kecamatan sebesar Rp45 ribu yang kebetulan ada orang baik hati memberikan pinjaman selama 3 tahun.

Pinjaman tersebut ia lunasi dalam rentang waktu tiga tahun dari hasil kerja kerasnya berjualan es dan rujak setelah usai sekolah. Selama sekolah di SMP ia berjualan rujak atau es demi mendapatkan uang untuk membayar utang yang digunakan biaya sekolah.

Perjuangan hidup Maman kecil memang pahit tapi dijalaninya dengan ikhlas dan tawakal. Kondisi ekonomi keluarga menjadikan ia harus bekerja keras untuk bisa membiayai sendiri sekolahnya. Untuk itu mulai dari kelas 1 SMA Muhamadiyah Burujul  hingga kelas 3 SMA ia bekerja sebagai pelayan di salah satu toko oli di Jatiwangi.

Masa kecilnya yang penuh keprihatinan menjadikan pelajaran berharga bagi dirinya hingga menjelang dewasa ia menjadi pribadi yang  tangguh dan bermental baja. Prinsipnya ia tidak mau bergantung pada seseorang atau kepada saudaranya sekalipun,  ia ingin hidup mandiri.

Mengabdikan diri

Secara pribadi, H Maman mengaku ekominya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya hingga kalaupun ia berminat menjadi Bupati bukan untuk mencari kekayaan bahkan mungkin gajinya apabila menjadi Bupati tidak akan diambilnya.

“Jadi niat saya maju menjadi calon Bupati itu untuk mengabdi di tanah kelahiran, untuk ibadah,” bukan untuk mencari uang ,” tegasnya.

Menurutnya, ada banyak hal yang harus diperbaiki di Kabupaten Majalengka misalnya terkait  masalah pembangunan infrastruktur, perijinan, kemiskinan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Ditegaskannya, pembangunan infrastruktur di Kabupaten Majalengka saat ini harus diakui cukup pesat, namun sayang dibalik itu kualitas pembangunannya sangat rendah hal ini mengindikasikan adanya kebocoran  yang cukup besar. Untuk itu kebocoran-kebocoran yang menyebabkan pembangunan berkualitas rendah itu harus dicari penyebabnya apakah di pengusaha atau di penguasa.

Ia setuju dengan digenjotnya pembangunan infrastruktur tapi tentunya harus diberengi dengan pembangunan non infrastruktur seperti pembangunan pemberdayaan ekonomi masyarakat agar angka kemiskinan  di Kabupaten Majalengka dapat terus dikurangi.

Diakuinya, ia juga sempat mendengar dari beberapa pihak tentang adanya kesulitan dalam memperoleh ijin untuk berinvestasi di Majalengka. Menurutnya, ada beberapa hal  yang harus diperhatikan dalam upaya menarik investor diantaranya dengan mempermudah pengurusan perijinan dan ada kepastian terkait RDTR dan RTRW hingga pengusaha dapat mengetahui di wilayah mana mereka akan berinvestasi.

Diakuinya pula, ia banyak kenal investor besar maka apabila dipercaya menjadi Bupati ia akan bawa para investor itu untuk menanamkan investasinya di Kabupaten  Majalengka. Dengan banyaknya investasi yang masuk maka diharapkan akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dengan semakin terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Investasi harus murah dan dipermudah dan lebih penting lagi perusahaan harus berdomisili di Majalengka, jangan pabriknya ada di Majalengka tapi perusahaannya ada di Jakarta,” paparnya.

H Maman menyayangkan maraknya pembangunan  mini market seperti Alfamart dan Indomaret di Kabupaten Majalengka yang seolah tidak terkendali. Keberadaan waralaba-waralaba yang tidak terkendali tersebut telah mematikan pasar-pasar tradisional yang pastinya kalah bersaing dengan pasar moderen.

“Seorang kepala daerah, mestinya melindungi dan menghidupkan pasar tradisional bukan malah mematikan pasar tradisional dengan mengijinkan berdirinya pasar-pasar moderen, karena pasar tradisonal pasti kalah bersaing,” ujarnya.

Menurutnya, apabila pasar moderen harus dibangun tapi konteknya mesti melibatkan para pedagang dari pasar tradisional. Yang  harus dilakukan pemerintah adalah membangun  pasar tradisional yang  bersih mungkin serapi mungkin, dengan sewa ruko semurah-murahnya dan dicicicil hingga perekomian bisa begulir dari mikro ke makro hingga UMKM berjalan maka akan  aman.

“Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengelola pemerintahan selagi niatnya untuk mengabdi, tapi kalau kepentingan untuk menjadi kaya itulah yang celaka,” tegasnya.

Salah satu  niatnya apabila menjadi Bupati adalah ingin menggaji para ustad dan penunggu mesjid. Menurutnya apabila para ustad dan guru agama diperhatikan maka SDM generasi muda sebagai generasi penerus akan mempunyai moralitas dan ahlak yang bagus.

“Yang terpenting adalah memiliki moral dan aqidah bagus, apapun terjangannya tidak akan mudah dipatahkan, tapi kalau aqidahnya rusak maka akan rusaklah negeri ini, maka modal utamanya dalam membangun adalah pembentukan moral akhlakul karimah,” jelasnya.***

452 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/h-maman-suhermanmembangun-majalengka-dengan-niat-ibadah/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *