H Sanwasi Tak Pernah Bermimpi Menjadi Calon Bupati, Sejak Kecil Ingin Jadi Guru

PERJALANAN hidup seseorang memang tak pernah bisa diprediksikan atau diduga sebelumnya. Bercita-cita menjadi orang yang sukses boleh jadi iya, tapi tidak sedikit yang lantas mendapatkan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya. Bagi sebagian kalangan, hidup memang tidak seperti yang diharapkannya. Namun bagi kalangan lainnya, hidup bisa dinikmati lebih dari yang sekadar diharapkan. Itulah sebabnya banyak orang menyebut hidup itu sesungguhnya misteri.
Salah seorang calon Bupati Majalengka bernomor-urut 3, H Sanwasi, juga tidak pernah membayangkan bahwa di suatu hari nanti dalam rentang panjang hidupnya ia akan berkesempatan menjadi calon orang nomor satu di Majalengka. Sejak kecil, masa remaja hingga menginjak dewasa, Sanwasi yang di kampung halamannya akrab disapa Aan itu berkeinginan kuat ingin menjadi guru atau orang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
Nyatanya demikianlah keadaannya. Garis hidup H Sanwasi kemudian secara linear dihabiskan dalam rentang pengabdian di dunia pendidikan dalam waktu yang sangat panjang. Lelaki ramping dengan kumis melintang kelahiran Talaga (Majalengka) 04 Maret 1960 itu memulai pengabdiannya kepada negara dan bangsa sebagai guru sekolah dasar (SD) pada tahun 1972. Kemudian Kepala SD (1994), Kepala Cabang Dinas P dan K (1996), Kasi PLS Dinas P dan K (1999), Kasubag Bina Penkes (2000), Sekretaris Bawasda (2003), Kabag TU Bawasda (2005), Kabag TU Dinas Pendidikan (2005), Sekretaris Disdikbudpora (2008), Kepala Disporabudpar (2009), Kepala Dinas Pendidikan (2010), Asisten Administrasi Setda (2014), Plt. Sekretaris Daerah (2015), Kepala BKD (2015) dan Inspektur Kabupaten (2016-hingga sekarang).
Sejarah pendidikannya tidak jauh berbeda dengan apa yang ditempuh orang lain. Pendidikan dasarnya ditamatkan di sekolah dasar (SD) di desanya, Sunia Kecamatan Banjaran, pada 1972. Kemudian melanjutkan ke SMPN Talaga (1975), dan selanjutnya ke SPGN Majalengka (1979). Gelar D3-nya diperolehnya di Uninus Bandung pada 1985, gelar S1 diperoleh di kampus yang sama pada 1986, S2 dari STIE Widyajayakarta (2001) dan gelar S3 diraihnya dari Uninus pada 2014.
Lelaki beristrikan Hj. Euis Yuliar Hendrawati itu kini maju dalam Pilbup Majalengka. Bersama pasangan calon wakil bupati, H.Taufan Ansyar, H Sanwasi tandang menawarkan beragam program, visi dan misinya yang akan dilaksanakannya jika terpilih dalam kontestasi pilkada yang akan digelar pada 27 Juni 2018 mandatang.

Anak Petani
Berlatarbelakang sebagai anak petani di Desa Sunia, Sanwasi lantas menjejakkan kakinya di birokrasi pemerintahan di Majalengka. Sejak awalnya kehidupannya berkutat pada keinginan menjadi guru, sebelum kemudian berkat dorongan banyak orang ia ikut sebagai kontestan pilkada.
“Sejak kecil saya ingin menjadi guru atau orang yang selalu berdekatan dengan proses belajar. Di desa saya, seperti juga di desa-desa lainnya, saat itu menjadi guru adalah sebuah cita-cita sangat terhormat dan membanggakan. Itulah sebabnya kemudian saya memilih masuk SPG, bukannya ke SMA, selepas bersekolah di SMP,” katanya kepada Sinarmedia, Selasa (20/3) di rumahnya.
Masa kecilnya dilalui secara wajar, tidak berbeda dengan yang dialami anak-anak di kampung halamannya: Bermain, bersekolah dan membantu para orangtua mereka. Begitupun halnya dengan Sanwasi kecil saat itu. Usai bersekolah dirinya pun ikut membantu pekerjaan orangtuanya, salah satunya adalah mencari rumput (ngarit) untuk pakan beberapa ekor kambing yang dipelihara orangtuanya, yakni Asari (ayah, meninggal di Mekkah saat berhaji tahun 2008) dan Eha (ibu).
Sanwasi melakukan kegiatan ngarit itu sejak berada di kelas 3 SD. “Ngarit baru terhenti ketika saya mulai belajar di SMP,” ujarnya.
Menurut Sanwasi, tinggal dan belajar di desanya yang berada di kaki Gunung Ciremai saat itu tentu tidak semudah seperti digambarkan masa-masa sekarang. Terutama menyangkut jarak yang harus ditempuh dari rumah hingga ke sekolah. Ia terpaksa harus menempuh jarak 4,5 kilometer dengan berjalan kaki setiap harinya agar bisa mengikuti pelajaran di SMP Talaga. Bila karena suatu sebab (seperti agak sakit) Sanwasi terpaksa digendong pergi ke sekolah oleh orangtuanya.
Begitu juga dengan kepemilikan barang-barang pribadi seperti sepatu, tas atau buku-buku. “Saya hanya punya sepasang sepatu. Agar bisa tetap berwarna putih, saya kerap melaburi sepatu tersebut dengan kapur. Ya memang begitu zaman itu,” katanya mengenang masa lalu.
Sanwasi mengaku sebenarnya dia bukanlah anak tunggal. Namun karena dua adiknya meninggal saat masih kecil, Sanwasi hidup seperti seorang anak tunggal. Meski sendirian, ia tidak merasakan diperlakuan manja secara berlebihan oleh orangtuanya. “Biasa saja, gimana ya, tidak diogo begitu. Dua adik saya meninggal saat masih usia dini, yang pertama meninggal saat berusia tujuh hari, seorang lagi meninggal saat berusia sembilan bulan,” ungkap Sanwasi.
Pada sekitar tahun 1985-an Sanwasi bersua dengan mojang kelahiran Bandung 06 Agustus 1964, Euis Yuliar Hendrawati, saat dirinya kuliah di Jurusan Pendidikan Luas Sekolah (PLS) Universitas Islam Nusantara (Uninus). Euis adalah mahasiswi di kampus yang sama meski berbeda angkatan dan jurusan dengan Sanwasi. Setelah keduanya mengikat janji suci dalam ikatan rumahtangga, mereka dikarunia tiga orang anak, yakni Bangga Esa Ramadona (dilahirkan di Cianjur pada 01 Mei 1987), Bina Bagja Zul Ilham (dilahirkan di Majalengka pada 08 Juli 1992) dan Yogia Mugi Dirohmat (dilahirkan di Majalengka pada 19 Februari 1999).
Lantas bagaimana penilaian sang istri terhadap suami tercinta? Dengan nada sumringah, Hj. Euis bertutur mantap, ”Bapak itu orangnya sangat tegas, cerdas dan disiplin. Namun yang paling menonjol adalah sifat Bapak yang sangat suka kerja keras. Bapak memang seorang pekerja keras. Kalau sudah kerja sepertinya tidak tahu waktu.”
Menurut Hj. Euis, sering suaminya pulang kerja setelah gelap malam. Bahkan tidak jarang pula suaminya pulang kantor setelah waktu salat Isya. “Sering jam sembilan atau sepuluh malam Bapak baru palng dari kantor,” katanya seraya menatap suaminya dengan sinar mata penuh cinta dan bangga. (rif/sinarmedia)

116 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/h-sanwasi-tak-pernah-bermimpi-menjadi-calon-bupati-sejak-kecil-ingin-jadi-guru/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *