Haruskah Aku Merebut Suami Orang ???

Pada awalnya sejak aku memutuskan menikah pada tahun 2009 lalu, tak pernah terbayang sedikit pun akan mengalami kisah penuh lika liku hidup berumah tangga yang bisa dibilang getir dan menyedihkan dan akhirnya menjadi janda.

Karena dalam pikiranku saat menikah dengan lelaki yang kita cintai begitu pun sebaliknya akan bahagia namun nyatanya itu bukan jaminan. Walau aku dan pasanganku menjalani masa berpacaran yang cukup lama tidak menjamin rumah tangga akan rukun dan bahagia.
Seperti kisah hidup yang aku alami sekarang, sebut saja namaku Rini (bukan nama sebenarnya) aku tinggal di Sumberjaya. Bahkan kisah pilu yang aku alami semasa berumah tangga meninggalkan trauma yang terus membayangiku hingga sekarang.
Padahal pernikahanku sebenarnya dilatar belakangi cinta kasih yang tulus antara aku dan suamiku sebut saja Erik (bukan nama sebenarnya). Kenapa kusebut demikian, karena aku dan Erik sebelum memutuskan menikah telah menjalani masa pacaran selama tiga tahun lamanya sejak kami masih duduk di bangku sekolah SLTA.
Tentunya dengan masa pacaran yang lama kami berdua sudah mengenal satu sama lain, baik perilaku, sifat dan kebiasaan masing-masing. Memang pada awalnya rumah tanggaku berjalan bahagia apalagi setelah setahun menikah aku langsung dikarunia momongan, suamiku sangat gembira saat mengetahui anak yang kulahirkan seorang laki-laki. Ia semakin bersemangat dalam bekerja, ia juga makin sayang dan perhatian kepadaku, betapa bahagianya aku pada saat itu seolah sempurna sekali rumah tanggaku.
Singkat cerita, setelah 5 tahun aku menikah sikap suamiku perlahan-lahan mulai berubah kepadaku, dulu suamiku yang kukenal perhatian kini mulai dingin, dulu dia romantis kini mulai kasar hingga pernah aku alami kekerasan fisik dari suamiku. Bahkan kepada sang buah hati dulu ia sangat senang dengan kehadirannya kini mulai acuh, dan jarang sekali mengasuhnya.
Mungkin pada saat itu aku berfikir suamiku sedang jenuh dengan keadaan, maklum pekerjaan sebagai pedagang belakangan sedang sepi sementara kebutuhan anak yang sudah mulai masuk sekolah semakin banyak menjadi beban pikiran baginya. Padahal sejak pertama aku memutuskan menikah dengan Erik, aku tidak mempermasalahkan soal materi karena aku selalu mensyukuri rizki yang aku terima. Dan alhamdulillah selama 5 tahun berumah tangga dengan Erik secara ekonomi aku tidak pernah merasa kekurangan.
Sempat beberapa kali aku berusaha memotivasi untuk mengembalikan semangat suamiku seperti sediakala, namun walaupun sudah 3 bulan terakhir aku berusaha namun hasilnya nihil. Bahkan perubahan sikap dari suamiku makin hari makin terlihat, ia biasanya siang atau sore hari sudah ada di rumah kini sering terlambat pulang dan bahkan ia pernah tidak pulang ke rumah dengan alasan menginap di rumah saudaranya.
Saat aku menanyakan kepada suamiku, justru suamiku langsung marah dan menjadi ringan tangan, ia seolah menjadi temperamental. Sejak saat itu aku putuskan untuk lebih banyak diam, lebih sabar dan mencoba menuruti keinginan suamiku. Dan yang paling tampak dalam perubahan suamiku adalah, ia semakin jarang menggauliku. Keadaan yang sangat berbeda saat kami pertama menikah, biasanya ia selalu bersemangat dalam urusan ranjang. Dalam seminggu bisa 2 sampai 4 kali namun kini dalam sebulan aku pernah tidak dijamahnya.
Memang dalam sebuah rumah tangga hal ini merupakan tidak lazim, wajar apabila aku menaruh rasa curiga terhadap suamiku apakah jangan-jangan suamiku mempunyai wanita idaman lain (WIL) diluar sana.
Sampai akhirnya aku mengetahui penyebab perubahan sikap suamiku, bagaimanapun serapat-rapatnya kita menyembunyikan bangkai baunya akan tercium juga begitu pun rahasia yang disimpan suamiku memiliki wanita lain akhirnya ketahuan juga. Belakangan wanita tersebut sebut saja Rina (bukan nama sebenarnya) sudah dinikahi secara sirih oleh suamiku,
Erik tak kusangka dan tak kuduga ternyata telah menikah kembali dengan seorang perempuan yang usianya lebih muda dariku, janji setia yang pernah dia ucapkan kepadaku setiap malam seolah hanyalah bualan manis.
Setelah diselidiki perempuan tersebut merupakan kenalanya saat berdagang dipasar, dan perempuan tersebut juga merupakan selingkuhanya sejak masih duduk dibangku sekolah dan baru aku ketahui sekarang setelah aku melabraknya.
Tentu saja saat mengetahui hal itu, dunia seakan kiamat, aku sepertinya tak akan mampu untuk bertahan hidup lebih lama. Namun setelah berhari-hari mengalami guncangan, aku kembali sadar bahwa aku memiliki seorang anak yang harus kurawat dan kubesarkan.
Setelah peristiwa itu, dan setelah aku pertimbangkan secara matang akhirnya aku mengajukan gugatan cerai kepada suamiku. Memang pada saat itu Erik tidak mau dan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga denganku. Namun aku tak sudi suamiku membagi dua cinta kasihnya dengan perempuan lain, singkatnya aku tak mau dipoligami, jika ia masih ingin berumah tangga denganku ia harus menceraikan istri keduanya. Dan ternyata Erik lebih memilih istri keduanya karena tidak menceraikannya, namun lama kelamaan akhirnya Erik pun menceraikanku.
Hancur, sedih, dan menyakitkan perasaanku pada saat itu, namun aku berusaha meyakinkan diri bahwa hal itu mungkin jalan terbaik yang harus kutempuh. Masa pacaran yang begitu indah dan kesetiaan dan cinta yang telah ku berikan ternyata tidak cukup untuk Erik berpaling dari wanita lain semuanya sia-sia.
Tak terasa sudah setahun aku hidup menjanda, menjadi single parent bukanlah hal yang mudah apalagi aku tidak mempunyai pekerjaan. Setelah bercerai dengan suamiku pulang ke rumah kedua orang tuaku namun aku memilih untuk tinggal di rumah nenekku, walau pun pada saat itu kedua orang tua memaksaku untuk pulang. Setiap harinya untuk mencukupi biaya kebutuhan anakku hanya mengandalkan pemberian dari nenekku dan kedua orang tuaku, maklum aku hanyalah ibu rumah tangga.
Bagaimanapun aku merasa malu apabila biaya hidupku ditanggung oleh nenekku dan kedua orang tuaku, akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di pabrik garmen diwilayah Sumberjaya. Saat aku bekerja itulah aku mempunyai kenalan beberapa pria, dengan usiaku yang masih 25 tahun, dan penampilan fisiku banyak mengatakan masih seperti ABG sehingga banyak pria yang mau berkenalan denganku ada juga yang masih bujangan. Bahkan diantara mereka terang-terangan menyampaikan rasa suka dan berniat melamarku.
Diantara pria yang aku kenal ada satu pria yang begitu perhatian kepadaku, bahkan tidak hanya kepadaku dia juga sangat perhatian kepada anakku. Tak jarang ia membelikan mainan buat anakku, dan pernah saat anakku sakit ia ikut mengantarnya ke dokter.
Sebenarnya pria tersebut, sebut saja Karno (bukan nama sebenarnya) bukanlah orang asing dalam hidupku dia tak lain mantan guru les semasa SMA dulu, memang usianya denganku terpaut jauh hampir 10 tahunan. Namun karena lebih tua dariku justru dia lebih dewasa dan lebih mengayomiku. Jujur dengan kebaikan yang telah diberikan Karno kepadaku aku merasa nyaman dan timbul benih-benih rasa cinta kepadanya.
Sebenarnya Karno sudah secara terang-terangan menyampaikan perasaannya kepadaku, dan bahkan ia sempat mengutarakan keseriusannya untuk menikahiku. Namun bukanya aku senang dengan niat tulus dari Karno tersebut, justru sebaliknya aku merasa sedih. Karena aku tahu bahwa Karno sudah memiliki isteri, dan memang pernikahan dengan isterinya walaupun sudah 10 tahun belum dikarunia anak sehingga hubungan dengan isterinya kurang harmonis.
Walaupun hubunganku dengan Karno bisa dibilang dekat, namun aku tidak bisa mengumbar kedekatanku dihadapan publik karena takut ketahuan oleh isterinya dan menjaga pandangan dari masyarakat. Dan akhirnya kami berdua sepakat untuk menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, biasanya kami memafaatkan waktu ketemu saat aku bekerja terutama ship malam.
Jujur aku sudah terlanjur cinta kepada Karno, apalagi Karno bukan hanya baik dan perhatian kepadaku dan anakku dia juga rutin memberikan uang untuk kebutuhanku sehari-hari. Sehingga aku tidak kuasa untuk menolak ajakan dari Karno untuk bertemu dan menemaninya, disisi lain memang aku juga senang saat bertemu dan mengobrol selain nyambung kehadirannya memberikan rasa nyaman.
Karena alasan itulah, yang kemudian akhirnya membuat kami berdua terlena dan lupa bahwa hubungan kami semakin hari menjadi semakin intim. Bahkan kami berdua sebagai manusia biasa kerap terlarut kedalam hubungan terlarang, yang seharusnya tidak kami lakukan. Anehnya walaupun aku tahu apa yang dilakukanku adalah salah namun aku merasa tidak menyesal justru aku malah menikmatinya.
Ingin rasanya aku bisa menikah dengan lelaki yang aku cintai, selain untuk menghindari perbuatan zina yang kerap kami lakukan. Namun aku tak memiliki keberanian untuk melakukanya, karena itu artinya sama dengan merebut suami orang. di situ aku sadar betul, betapa sakitnya saat suami direbut perempuan lain.
Namun di sisi lain, aku sudah tak mampu lagi bertahan dengan kesendirianku, selain butuh perhatian dan kasih sayang, aku amat membutuhan perhatian nafkah batin dan nafkah lahir untuk menghidupi dan membesarkan anakku. Haruskan aku menjadi perebut suami orang, atau haruskan aku bertahan dengan kesedirianku dengan resiko anakku terbengkalai masa depannya, ataukah aku harus tetap menjalani hubungan terlarang ini. Entahlah, sebuah keputusan yang sulit.***

854 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/haruskah-aku-merebut-suami-orang/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *