Hati-hati Mengkonsumsi Air Isi Ulang

Majalengka,(Sinarmedia).-
Bisnis depot air isi ulang nampaknya merupakan bisnis yang cukup menggiurkan saat ini, pertumbuhan usaha depot air isi ulang kini tengah menjamur di kabupaten Majalengka. Bukan hanya di perkotaan di pedesaan pun kini depot air isi ulang mudah ditemukan. Berdasarkan data, kini terdapat sekitar 500 lebih depot air isi ulang yang ada di Kabupaten Majalengka.
Namun nampaknya kita mesti berhati-hati dalam memilih depot air isi ulang karena disinyalir banyak depot air isi ulang yang tidak memperhatikan higienis airnya hingga air yang dijualnya tidak layak untuk dikonsumsi. Pemerintah Kabupaten Majalengka nampaknya masih lemah dalam mengawasi usaha depot air isi ulang ini padahal hal ini menyangkut kesehatan masyarakat.
Hal tersebut dibenarkan oleh direktur PDAM Kabupaten Majalengka, H. Aan Suhanda. Diakuinya, bisnis air merupakan bisnis yang cukup menggiurkan, namun disisi lain harus dipertimbangkan juga tentang  kebersihan air yang dijualnya jangan hanya memikirkan keuntungan yang besar saja, sementara kebersihan airnya tidak dijaga karena air  yang kita minum sangat mempengaruhi kesehatan kita.
Ditetgaskan Aan, diperlukan pengawasan  yang ketat oleh pemerintah dalam  masalah air isi ulang tersebut karena dikhawatirkan banyak pengusaha depot air isi ulang yang nakal atau bahkan tidak mengerti tentang kebersihan air. Ditambahkannya, sepanjang pengetahuannya tentang air, bisnis air tidak bisa main-main dan diperlukan persyaratan sangat ketat karena harus melalui hasil pemeriksaaan laboratorium yang sangat ketat tidak hanya sekali tapi berkali-kali.
Aan juga tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya terhadap banyaknya usaha air isi ulang yang kurang mendapat pengawasan yang ketat. Sebagai orang yang lama berkecimpung dalam bidang perairan, ia miris melihat kenyataan  yang ada saat ini.
Adanya depot air isi ulang yang tidak memperhatikan kebersihan airnya dibenarkan oleh salah seorang warga Majalengka Toto. Menrut Toto ia sempat mencoba membeli air isi ulang seharga Rp. 4000 per galon, namun baru sehari disimpan  air dalam galon tersebut terlihat ada kotoran seperti lumut. Karena khawatir membahayakan air tesebut dibuang dan kembali kepada air isi ulang resmi.
Hal yang sama juga disampaikan penduduk Panyingkiran Jajang, ia mengaku enggan mengkonsumsi air minum isi ulang disebabkan pengolahannya yang tidak maksimal sehingga air tidak higines dan bakteri berbahaya yang terkandung di dalamnya bisa menyebabkan penyakit.
”Saya lebih memilih air minum yang sudah terjamin kualitasnya, sehingga tidak membahayakan kesehatan saya dan keluarga,”paparnya.
Berdasarkan pantauannya di beberapa depot air minum isi ulang yang pernah ditemuinya, pencucian tabung air minum tidak dilakukan didalam ruang tertutup dan disinari ultraviolet,tabung milik pelanggan hanya dibersihkan dengan menyemprotkan air tekanan tinggi kemudian disikat dengan bulu sikat yang berputar.
Bahkan terkadang air tersebut masih berasa tanah walaupun sudah direbus dan para pekerja tidak menerapkan prinsip sterilitas dalam pengemasan serta masih banyaknya depot yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan air ke laboratorium secara berkala.
Sementara ditempat terpisah Kepala Dinas Kesehatan  Majalengka, H. Rieswan Graha melalui Kasi Kesehatan Lingkungan (Kesling) Nanang Wardana mengatakan, ada sekitar 500 lebih depot air minum isi ulang yang beroperasi di Kabupaten Majalengka dengan pengawasan yang dilakukan hanya 2 kali dalam setahun.
Pengawasan yang dilakukan meliputi  sanitasi, ruangan, kandungan air dan lampu ultraviolet tidak termasuk alat atau mesin yang digunakan, bagi perusahaan yang sudah berjalan jika ditemukan adanya kandungan air yang tidak layak konsumsi akan dilakukan pembinaan dan bagi perusahaan baru tidak akan diberikan sertifikat layak sehat.
“Ada yang sampai 3 kali dilakukan uji lab tapi masih belum memenuhi syarat layak minum sehingga sertifikat layak sehat tidak kami berikan,“ paparnya.
Nanang mengakui, kendala di lapangan saat ini masih ada beberpa depot air minum isi ulang yang tidak mau diambil sampel airnya oleh pihak dinkes dan lebih memilih untuk uji lab di Cirebon atau tempat lainnya sekalipun biayanya lebih besar. Sementara terkait sanksi yang diberikan pihaknya hanya melakukan pembinaan dan tidak diberikan sertifikat layak sehat.
“Petugas kami lebih memahami uji kandung air karena sesuai dengan latar belakang pendidikannya dan biayanya pun lebih murah ketimbang laboratorim swasta, ada beberapa bakteri yang harus diperlakukan berbeda dengan bakteri lainnya,”ucapnya.
Lebih lanjut kata Nanang, para pengusaha depot air dikenakan retribusi seperti yang diatur dalam peraturan daerah (perda) No.8 tahun 2001. Dalam satu tahun Pemerintah Kabupaten Majalengka menargetkan PAD dari  air isi ulang ini  sebesar Rp.26 juta. (S.06)

512 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/hati-hati-mengkonsumsi-air-isi-ulang/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *