Irfan Bisa Lolos Dari Jerat UU Darurat

Majalengka ,(Sinarmedia).-
Anak Bupati Majalengka Karna Sobahi yakni Irfan Nur Alam (INA) yang menjadi terdakwa penembakan terhadap seorang pengusaha Bandung Panji Pamungkasandi nampaknya bisa bernafas lega.Berdasarkan keterangan para saksi dan saksi ahli dalam dua persidangan anak kedua Bupati Karna itu bisa lolos dari jeratan UU darurat No 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.
Selain itu berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan Irfan juga bisa bebas dari pidana pengeroyokan atau tindak pidana karena kealpaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 170 Ayat (1) KUHPidana Jo Pasal 360 Ayat (2) KHUPidana.
Dalam sidang kedua yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Majalengka dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli pada Kamis (19/12) terungkap terdakwa tidak memenuhi unsur menggunakan senjata api tanpa hak.

Sidang ini dipimpin oleh hakim ketua, Eti ‎Koerniati SH dimulai sejak pukul 10.00 hingga berakhir pada jam 17.45 WIB.

Saksi Ahli Pidana I Tajudin SH MH dari Fakultas Hukum Unpad menjelaskan bahwa perbuatan terdakwa tidak memenuhi unsur mempergunakan senpi tanpa hak sebagaimana yang diatur dalam UU Daraurat No 12 Tahun 1951.

“Itu hanya terkait culpa (kelalaian) saja, terdakwa diduga lalai tidak menyimpan kembali senpi yang dimiliki ke tempat semula” ujarnya Tajudian di Pengadilan Negeri Majalengka, Kamis sore (19/12).

Hal senada diungkapkan Kuasa Hukum Irfan , Kristiawanto.Menurutnya,berdasarkan keterangan ahli dipersidangan kliennya tidak ada niat (tidak ada mens rea) untuk meletuskan senpi, akan tetapi letusan tersebut terjadi karena perebutan/ tarik menarik antara pihak korban dan terdakwa sehingga terjadi pergumulan.

“Saat itu terjadi perebutan laras menghadap ke atas sesuai fakta persidangan, jadi ya karena ketidak sengajaan dan senpi dimaksud legal ada ijinnya” ujarnya.

‎Kristiawanto menegaskan ,adapun terkait pengeroyokan kliennya (terdakwa) tidak pernah memerintahkan memukul korban dan atau ikut serta memukul korban, tetapi hal tersebut dilakukan kepada pihak korban atas inisiatif Udin dan Sholeh.

“Hal tersebut terungkap dalam persidangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ahli terkait visum dr. Anindito Sidhy Andaru menjelaskan terkait permintaan visum at repertum permintaan dari Polres Majalengka, dijelaskan tidak ditemukan kelainan pada bagian belakang badan dan anggota gerak bawah korban, masih bisa melakukan aktifitas sehari-hari dan luka ditanggannya termasuk luka ringan.

“Terjadinya luka pada tangan tidak adanya faktor kesengajaan dan saat persidangan ditunjukan oleh korban luka pada tangan dimaksud sudah sembuh seperti semula dan dapat melakukan aktifitas secara normal,” ungkapnya.

Kristiawanto menuturkan sidang akan dilanjutkan pada Senin yang akan datang, mengingat masih ada satu saksi ahli lainnya.

“Satu ahli belum bisa hadir, karena masih sibuk di luar kota. Jadi dilanjutkan Senin.” ungkapnya.

Sementara itu, Hakim Anggota, Kopsah SH mengatakan, hingga saat ini pihaknya telah melaksanakan tahapan persidangan sesuai prosedur dan aturan. Sementara pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU), Agus Robani enggan diminta wawancara oleh pihak media. Usai sidang menjelang Maghrib, dia langsung pulang. Sementara tersangka, Irfan Nur Alam (INA) tampak hadir didampingi para koleganya.( S.03).

3,877 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + ten =