Jefry Romdonny, Penerus Tahta Raja Bola Majalengka

Siapa yang tak kenal dengan bola sepak produksi PT. Sinjaraga Santika Sport (Triple S) , bukan hanya di dalam negeri, bola buatan putra-putri Majalengka itu sudah terkenal hingga mancanegara. Di setiap ajang perhelatan piala dunia bola buatan pabrik bola yang beralamat di desa Liangjulang Kecamatan Kadipaten itu selalu mendapat pesanan dari FIFA.
Ada nama besar dibalik kesuksesan yang diraih oleh PT. Sinjaraga Santika Sport yakni H. Irwan Suryanto yang merintis usaha bola ini mulai dari nol sejak thun 1994. Kini perusahaan bola itu semakin besar dan sudah dipercayakan kepada penerusnya H. Jefri Romdonny yang tiada lain adalah anak bungsu dari tiga bersaudara dari H. Irwan.
Mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk mengelola pabrik bola yang sudah mempunyai nama di luar negeri tidaklah mudah. Jefry telah belajar banyak dari ayahnya dan hingga kini mengaku masih belajar dan menimba pengalaman dari ayahnya tentang bagaimana kiat-kiat jitunya dalam upaya memajukan perusahaannya.

IMG-20160210-WA0009
Bersama mantan presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

Jefry yang mengusai teknologi dan mempunyai kelebihan dalam penguasaan bahasa asing seperti bahasa inggris, arab dan mandarin banyak membantu untuk lebih mengembangkan perusahaannya terutama untuk pasar luar negeri. Untuk itu ia kerap kali mengikuti sejumlah pameran yang diadakan di luar negeri. Biasanya berawal dari pameran itulah  perusahaannya sering mendapatkan order.
Sebelum mendapat kepercayaan dari ayahnya, Jefri yang mempunyai hobi olahraga beberapa cabang olahraga beladiri ini mengaku mendapat gemblengan yang keras dari ayahnya. Pertama kali terjun ke bisnis keluarga pada 2002, Jefry  lebih dulu kerja di pabrik mempelajari bagaimana proses produksi pembuatan bola sepak.
“Saya tidak langsung mendapat kepercayaan, tapi digembleng dulu di pabrik diantaranya belajar   menjalankan pekerjaan layaknya karyawan lain, seperti membuat panel, menggabungkan panel, menyablon, finishing, distribusi, dan masih banyak lagi,” tutur Jefry.
Menurut Jefry, bola produksi perusahaannya sudah teruji kualitasnya hingga memperoleh sertifikasi dari FIFA. Untuk mendapatkan sertifikasi dari federasi sepakbola Internasional itu tentunya tidaklah mudah harus melalui seleksi yang sangat ketat.
Selain kualitas bahan, pengujian dilakukan juga bagaimana daya pantul bola tersebut. Kemudian diukur juga seberapa besar lingkar bola apabila terkena air, bagaimana daya pantulnya bila terkena air dan sederet kriteria kualitatif lainnya.
“Bola buatan kita telah mendapat sertifikat FIFA, bahkan bola kita  juga pernah dipakai beberapa kali pada ajang Piala Dunia,” ungkap Jefry .
Untuk menjaga kepercayaan dari customer, kata Jefry yang merupakan lulusan pesantren Gontor itu, ia selalu menjaga kualitas agar tetap dipercaya oleh para konsumen baik dari dalam maupun luar negeri.
Ia selalu melakukan seleksi yang sangat ketat sebelum  bola yang diproduksinya dipasarkan baik terhadap bola yang dihasilkan oleh pabriknya secara langsung maupun yang diproduksi oleh para pengrajin yang banyak tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Majalengka.

jefry dan prabowo
Bersama Ketua Umum Partai Gerindra H. Prabowo Subianto

Menurut Jefry, saat ini pabriknya mempekerjakan sekitar 100 orang tenaga kerja pembuat bola sepak. Selain itu ada sekitar 2.000 perajin yang tersebar bukan hanya di Kabupaten Majalengka juga terdapat di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kuningan dan  Kabupaten Indramayu.
Butuh Kreatifitas
Menurut lulusan pasca sarjana dari Universitas Majalengka ini, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan persaingan usaha yang semakin ketat, maka  dalam menjalankan usaha diperlukan kreatifitas. Menurut pria yang  kini tengah belajar menjadi dosen itu dibutuhkan upaya kreatif dalam rangka memenuhi selera konsumen.
Seperti yang pernah ia lakukan terhadap konsumen di Jepang misalnya, karena ia tahu persis anak-anak Jepang yang keranjingan karakter animasi. Maka, ketika Triple S pameran di Jepang, bolanya dihiasi oleh karakter animasi Naruto dan sejenisnya. Respons pasar Jepang pun menjadi cukup baik.
Selain itu selain digunakan untuk olah raga, bola juga bisa digunakan untuk souvenir atau hadiah sebagai alat promosi perusahaan. Sudah ada beberapa perusahaan yang telah bekerjasama dengan PT. Triple S seperti perusahaan otomotif dan elektronik.
Terbosan lainnya adalah tidak saja memproduksi bola sepak tapi juga kini sudah dikembangkan memproduksi bola futsal. Pesanan untuk bola futsal kini mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk pasar lokal.
Sementara pangsa pasar luar negeri yang kini masih menjadi adalan adalah pasar ke negara Afrika Selatan. Ekspor ke negara tersebut cenderung  membaik, jika sebelumnya hanya 1-2 kontainer ukuran 20 feet dalam setiap pengiriman dengan kapasitas 8.310  buah bola,namun kini  mengalami peningkatan hingga 4-5 kontainer per bulan.
Pesanan bola sepak juga datang dari sejumlah negara lain diantaranya Jepang, Malaysia, Uni Emirat Arab,  Singapura, Eropa, Argentina dan sejumlah negara di Timur Tengah lainnya. Namun diakuinya bahwa produksi bola saat ini sedang tidak stabil dan cenderung fluktuatif.
Menurut Jefry produksi bola akan mengalami peningkatan pada saat tahun genap atau musim-musim digelarnya even-even sepakbola tingkat dunia. Untuk menyiasati pangsa pasar luar negeri yang mengalami  penurunan maka dilakukan peningkatan untuk pangsa pasar dalam negeri, demikian sebaliknya apabila pasar dalam negeri tengah lesu maka dilakukan peningkatan untuk pasar luar negeri.
Saat ini dengan kapasitas produksinya yang mencapai sekitar 100 ribu bola/bulan sekitar 60 persen diantaranya untuk memenenuhi pasar dalam negeri seperti ke Bandung, Jakarta dan Medan dan sisanya untuk memenuhi pangsa pasar ekspor.
Bola sepak buatan Majalengka yang diproduksi PT. Sinjaraga Santika Sport (Triple S) kualitasnya sudah tidak diragukan lagi. Bola buatan anak negeri ini sudah terkenal di manca negara bahkan sudah mendapat sertifikasi dari federasi sepak bola dunia, FIFA. Namun sayangnya, di dalam negeri bola berkualitas internasional itu  tidak digunakan dalam event  pertandingan nasional yang digelar PSSI, bola yang digunakan justru bola buatan luar negeri.
Namun demikian lesunya persepakbolaan di tanah air saat ini akibat adanya kekisruhan antara PSSI dan pemerintah berdampak negatif terhadap produksi bola Majalengka. Diakui Jefry ada penurunan produksi yang cukup signifikan untuk pasar dalam negeri. ***

2,878 kali dilihat, 7 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/jefry-romdonny-penerus-tahta-raja-bola-majalengka/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *