Kasih Sayang Bunda

Dimataku drg. Aisyah adalah sosok wanita yang begitu tangguh, bersahaja, cantik dan pintar serta lembut, benar-benar gambaran umum seorang gadis Minang yang berpadu Sunda. Walaupun beliau dibesarkan di sebuah panti asuhan yang berada di wilayah Sukajadi Bandung, namun ia berhasil merampungkan pendidikan dokter gigi dari salah satu universitas terkemuka yang ada di kota Kembang.

Pagi itu beliau membuka bungkusan plastik yang berisi baju toga yang beliau ambil sendiri dari kampus putra semata wayangnya. Senyumannya melebar dan matanya berbinar saat baju toga itu beliau buka dari bungkusan plastik. Lalu beliau peluk baju toga itu seiring doa tersirat dihatinya.
“Ya Allah, putra hamba akhirnya kelarkan kuliahnya. Ya Allah, terimakasih aku sebentar lagi miliki putra insinyur. Subhanallah.”
“Nak, kelak kita jumpa bapakmu. Terlalu lama kita dilupakan dia, tapi bunda janji jaga kamu semampu bunda. Kasih sayang bunda akan terus aliri jiwa dan seluruh tubuh yang kau miliki. Nak, suatu saat ayahmu akan tersenyum untuk kita berdua. Terimakasih nak, kau obati sakit bunda dengan apa yang kau lakukan, bunda bangga lahirkan kamu dari rahim ini. Bunda bangga miliki putra sepintar dan setangguh kamu. Kau tahu nak, betapa tak sabarnya bunda melihat kau berjas dan kenakan baju toga? Kau pasti akan setampan ayahmu. Semoga ayahmu di negri jiran sana tersenyum bahagia seperti bunda.”
Beliau jahit beberapa jahitan yang terlepas dari baju toga itu. Dia elus dan rapikan, sampai tak terasa air matanya menetes jatuh mengenai baju toga putranya. Seketika berucap hatinya, “Pak, putra tunggalnya kita sebentar lagi akan menjadi seperti kamu. Pak, kau tinggalkan kami berdua. Kau pergi lama sekali, bahkan mungkin kau lupakan kami. Pak, luruh dan lantaknya hati ini,  namun hanya putra kita yang buat aku bertahan. Aku jaga selalu putra kita, anak kita untuk kamu dan cinta besar ini. Pak, lewat hati ini aku bercerita betapa kami berdua merindukanmu. Pak, putra kita sudah menjadi seperti yang kita harapkan”.
Puluhan tahun yang lalu, perutnya yang begitu besar dipeluk suami tercintanya, diciumi, dibelai lalu dibisikan kata-kata indah untuk si bayi di dalam perut istrinya itu,”Ya Allah jadikanlah putra yang ada di rahim istri hamba, putra yang sehat yang selalu menjaga ibunya dan selalu di jalan tuhan-Nya, aqidahnya. Jadikanlah putra yang berani dan memiliki banyak hal tentang kebaikan”.
Kenangan itu terus terpondasi kuat di hati bunda, kala tangan lembutnya memegang erat tangan ayah dari bayi laki-laki yang dia kandung. Tangan yang hangat.
Bibir yang merekah manis lalu mencium perutnya.
“Bunda, ayah titip putra kita. Mungkin saat dia lahir ayah tak ada di samping bunda. Ayah mungkin tak mampu mengumandangkan suara azan di telinga putra kita. Mungkin ayah tak mampu saksikan putra kita lahir ke dunia ini. Jaga dia untuk aku ya sayang”, bisiknya lirih sebelum beranjak menaiki anak tangga gerbong kereta yang akan membawanya pergi. Saat kereta bergerak ayah melambaikan tangannya dari jendela gerbong yang terbuka. Lambaian tangannya masih terlihat hingga kereta api itu benar-benar menghilang dari pandangan.
Datuk Syaril Abdilah, mengapa kau pergi terlalu lama? Lelah rasa hati ini menunggu mu. Datuk cinta hati dan surya hidup ku, aku lahirkan putramu tanpa kamu disisiku. Dia laki-laki sayang, dia sehat, pasti dia akan setampan kamu.Ya Allah berkahi dia, kelak bila kau ridhoi pasti kami akan berjumpa, kelak suatu saat Allah kembalikan suami hamba, ayah dari putra ku, ya Allah.”
Bunda setrika rapi baju toga itu, lalu dia mulai susun dan bersihkan beberapa bingkai foto yang sengaja disiapkan untuk memajang foto bunda dan putranya saat wisuda nanti. Terbayangkan olehnya di dalam bingkai itu terpampang foto dirinya yang berkebaya berpose berdua bersama putranya yang mengenakan toga. Sesimpul senyum tak bisa beliau sembunyikan saat pandangan matanya tertuju pada bingkai foto lain. Dalam bingkai itu, kelak akan diisi foto bunda, putranya dan suaminya, walau setelah puluhan tahun berlalu, ayah dari putranya yang berasal dari negeri jiran itu tidak pernah kembali.
Hari demi hari, beliau menangisi. Walau musim datang dan pergi silih berganti, namun beliau tetap menanti. Tetap menanti, menanti dan menanti. Pandangan matanya menatap ke jauh, penuh pengharapan akan seorang yang dinanti tak kunjung kembali. Yang dinantikan setiap saat tak akan kembali tepati janji, dia gugur di perjalanan. Biduk cinta suci tenggelam di perjalanan. Hatinya tak rela menerima semua ini.
Hari yang dinanti tinggal sekejap. Hari yang dimana adalah hari besar untuk putra kebanggaannya diwisuda di universitas teknik Bandung. Hari yang menjadi pengobat untuk hari-hari pedih, lara dan sendiri yang telah terlewati. Begitu bangganya bunda akan putranya. Di buku diary-nya selalu bunda tuliskan kebanggaan akan putra semata wayangnya yang menjadi insinyur. Di puskesmas, di pasar, bahkan saat berhadapan dengan pasien-pasiennya bunda selalu bercerita akan putranya. Tangisan selalu menjadi doa untuk harapannya.
“Bang!” seru bunda, ”Bunda ambil dulu kaitan kebaya bunda ya, untuk besok bunda kenakan di wisuda abang. Terus bunda mau beli bunga dan beberapa makanan kecil buat tetangga dan teman-teman bunda yang akan berkunjung ke rumah kita”.
“Oia Bang, bunda sudah masakan ikan dan makanan kesukaan abang, makan ya!” tambahnya.
Aku melihat bunda begitu semangat jelang hari esok, hari wisudaku. Aku lihat banyak hal yang beliau siapkan untuk hari besar itu. Bingkai-bingkai foto, bunga-bunga, pakaian yang akan bunda kenakan, wah begitu sempurna dan komplitnya persiapan semuanya. Terima kasih bunda, aku  sayang bunda. Terima kasih bunda sayang, aku tak akan pernah tinggalkan bunda.
“Abang…..,” ujar bunda, ”apa bunda masih pantas kenakan kain kebaya melayu ini? Kain ini dulu ayah bawakan saat ayahmu meminang bunda. Bunda baru jahit sekarang untuk bunda kenakan disaat putra bunda wisuda”.
Terima kasih ya Allah telah kau lahirkan aku dari wanita sehebat ini, setulus ini, sekasih ini, terima kasih ya Allah, aku bangga menjadi putranya.
Sore itu satu hari sebelum aku wisuda. Aku masih ingat, hari Selasa pukul 17.15 WIB. Aku melihat bunda membersihkan mobil tua kesayanganya. Beliau bersihkan sampai mengkilap, bersih sekali! Beliau lalu berujar, ”Bang nanti bunda yang stirkan mobil ini ke kampus abang ya?” Begitu berserinya, begitu bersemangatnya bunda menunggu hari wisudaku esok hari.
Sementara itu sejenak aku tinggalkan bunda dan mobil kesayangannya di garasi untuk membuatkan minum kesukaan beliau di dalam rumah. Aku buatkan minuman susu jahe kesukaanya, dengan senang hati. Dengan sayang dan doa.
Di dalam rumah tiba-tiba aku mendengar bunyi klakson datang dari arah garasi rumah kami. Awalnya tidak terdengar jelas namun kemudian bunyinya terasa semakin keras dan tak berhenti. Dengan tangan tetap membawa minuman susu jahe untuk bunda, aku bergegas mendatangi arah suara itu berasal. Aku berlari menuju garasi.

Ya Allah Maha Suci! Ya Allah Maha Besar!
Tersentak hatiku mendapati bunda tertunduk kepalanya di tengah stir mobil kami, dia tertunduk.
Ya Allah Maha Suci!
Aku lepaskan gelas minuman ditanganku. Aku buka pintu mobil tempat bunda duduk. Aku bangunkan beliau, aku peluk tubuhnya, aku panggil namanya, namun beliau tak menjawab. Beliau tetap diam, tidak bangun.
Ya Allah Maha Besar! Inalilahi wa inailaihirojiun. Ternyata Allah menghendaki ajal menjemput Bunda sebelum hari esok yang selalu beliau nantikan tiba. Bunda tinggalkan aku sendirian disaat esok aku akan menjalani wisuda. Bunda belum sempat mempertemukanku dengan lelaki yang selama ini dicintainya, yakni ayahku. Betapa besar pengorbanan bunda selama ini, betapa sabar bunda menanti dan membesarkanku. Belum sempat anakmu ini membalas budi bunda yang tiada batas, kini bunda pergi untuk selamanya.
Allah Maha Rencana, aku melihat wajah bunda tersenyum dengan mata tertutup dan meneteskan air mata di kedua ujung matanya.
“Ya Allah adilkah ini? Ya Allah,”
“Ya Allah,inalilahi wa inailaihirojiun”
“Bunda, jalan surga aku, bunda runtuh semua hati ini, terasa gelap semua pandangan ini,ya Allah,”
Mudah-mudahan kisah ini menjadi insprirasi bagi siapa saja yang saat ini masih mempunyai ibu. Kasih ibu tiada batas. Kita tidak bisa membalas segala jasa-jasa dan kebaikan yang telah bunda berikan kepada kita, maka jangan sia-siakan sisa waktu kita untuk selalu berbakti kepada bunda kita mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Allah Swt.***

498 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/kasih-sayang-bunda/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *