Kubuang Madu dan Kudapatkan Racun

Betul kata pepatah penyesalan selalu datang terlambat, dan itulah yang terjadi dalam hidupku yang kisahnya akan kubagikan pada para pembaca Sinarmedia untuk dijadikan bahan renungan dan pelajaran bagi siapa saja agar tidak tidak mengalami nasib seperti diriku. Kini Aku menyesal  telah membuat keputusan yang salah meninggalkan isteri tercintaku yang bertahun-tahun lamanya setia dan sabar menemaniku dan lebih memilih menikah lagi dengan wanita lain.
Arif sebut saja begitu namaku (tentu bukan nama sebenarnya). Aku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sebelumnya mempunyai jabatan dan harta yang cukup melimpah. Namun karena salah langkah bukan kebahagian yang kudapatkan justru kehancuranlah dimana harta dan karirku sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kurintis selama bertahun-tahun kini semuanya menghilang. Mungkin kalau diibaratkan aku telah membuang madu dan justru racun yang kudapatkan.
Ya….. mungkin itu akibat aku menyia-nyiakan anugerah yang telah Tuhan berikan kepadaku yakni seorang wanita sholehah dan cantik, hanya karena keegoisanku serta terbawa hawa nafsu sesaat hingga akhirnya aku meninggalkannya. Sebelumnya aku dan mantan istriku sebut saja Lisna (bukan nama sebenarnya) hidup bahagia, kami menikah sudah hampir 20 tahun lebih dan dikarunia dua orang anak bahkan anakku yang pertama tahun depan lulus kuliah. Dengan penghasilanku sebagai PNS yang menduduki jabatan lumayan strategis dan isteriku juga yang sama-sama PNS tentu kehidupan kami lebih dari kata cukup.
Namun sejak aku mengenal perempuan lain sebut saja Dewi (bukan nama sebenarnya) kesetiaanku terhadap mantan isteriku mulai diuji malah bisa katakan aku mulai goyah. Dewi adalah seorang mahasiswi disalah satu Universitas tempat aku kuliah S2. Tentu saja dari sisi penampilan dan usia Dewi jauh lebih muda dan cantik jika dibandingkan dengan mantan isteriku.
Aku mengenal Dewi saat aku menempuh pendidikan S2, kebetulan aku dan Dewi tinggal satu kontrakan saat aku kuliah. Aku pergi kuliah 2 sampai 3 kali dalam seminggu, biasanya aku berangkat hari Jumat sampai Minggu karena aku mengambil kelas Karyawan. Awalnya aku dan Dewi biasa-biasa saja, namun tentunya sebagai tetangga kos kami berdua saling kenal apalagi Dewi ditempat kosan yang aku tempati bisa dibilang kembangnya kosan karena dia memiliki paras yang cantik ditopang dengan kulit yang putih serta tinggi badan yang semampai menjadikannya primadona di kosan tersebut.
Singkat cerita kebetulan jurusan kuliah S2 yang aku ambil masih mempunyai korelasi dengan jurusan S1 yang sedang ditekuni Dewi sehingga saat aku mengobrol dengan dia merasa nyambung begitu pun sebaliknya terutama saat ngobrol tentang dosen dan referensi buku-buku kuliah.
Sebenarnya aku sama sekali tidak ada niatan untuk bisa mengenal Dewi lebih dekat lagi apalagi mempunyai hubungan sepesial mungkin itu sesuatu yang tidak mungkin, karena aku di Bandung untuk kuliah lagipula aku  sadar diri aku ini sudah tidak muda lagi dan sudah berkeluarga sementara Dewi itu kan muda cantik kaya dan banyak lelaki yang menginginkannya. Hal itu dibuktikan dengan selalu ramainya kamar kosan Dewi oleh teman-temanya terutama para kaum adam bisa dibilang dari 10 kamar yang ada mungkin kamar dia yang paling ramai tamunya bahkan tak jarang hingga larut malam.
Saat berada di kota tempat aku kuliah sesekali pergi mencari tempat hiburan malam dengan mengunjungi tempat pub atau karaoke pokoknya tempat-tempat hiburan yang ada sebagian besar aku pernah datangi. Terus terang aku mempunyai hobi yang kurang bagus yakni mencari hiburan malam untuk melepaskan kepenatan  setelah bekerja apalagi kalau di kantor sedang ada masalah.
Sebenarnya kebiasaan burukku tersebut sudah diketahui oleh isteriku sejak lama, bahkan aku beberapa kali ketahuan memiliki hubungan khusus dengan wanita-wanita yang berprofesi sebagai Sales Promotion Girl (SPG) oleh isteriku. Namun walaupun aku sudah tertangkap basah berselingkuh isteriku tidak meluapkan kemarahannya padaku hanya sebatas menanyakan saja “Siapa wanita itu?” setelah aku jelaskan isteriku pun diam, aku yakin walau isteriku tidak marah rasa kecewa pasti ada tapi dia tidak menampakkannya.
Memang selama ini isteriku tidak pernah memergoki perselingkuhanku secara langsung hanya melalui foto dan pesan singkat yang ada di handphone selulerku dan itu terjadi berulang kali dengan sejumlah wanita namun isteriku tetap sabar dan setia kepadaku.
Nah, saat aku main ke tempat hiburan malam tepatnya salah satu hiburan club aku bertemu dengan Dewi, kebetulan meja yang aku tempati bersebelahan dengan meja yang ditempati Dewi. Pada saat itu Dewi terlihat ditemani seorang lelaki perawakannya sudah tua, dia terlihat asik mengobrol sambil sesekali minum dari botol minuman keras yang ada diatas meja. Kalau dilihat dari cara mengobrol Dewi dengan lelaki itu keduanya mempunyai hubungan dekat, terlihat sudah tidak kaku berpelukan dan berciuman. Sebenarnya ingin rasanya aku menyapa Dewi, karena saya yakin dia juga melihatku karena dengan jarak mejaku yang bersebelahan dengan mejanya beberapa kali kami bertatap muka namun dia seolah cuek begitu pun aku sebaliknya tidak menyapanya.
Timbul dalam dugaan, apa mungkin atau jangan-jangan Dewi itu wanita “panggilan”. Dan memang benar saja saat aku tanyakan kepada salah seorang pelayan yang aku kenal disitu dia menceritakan bahwa Dewi memang wanita panggilan dia seorang mahasiswi dan tarifnya pun lumayan mahal mencapai 1 sampai 2 jutaan untuk bisa berkencan dengannya. Bahkan si pelayan menawarkan barangkali aku mau dia bisa menfasilitasinya “Kalau bapak mau, saya bisa memfasilitasinya nomer kontaknya ada pak,” ujar pelayan.
Selang beberapa lama kemudian Dewi dan teman kencannya tersebut bergegas meninggalkan club, sementara aku masih  menikmati minuman yang belum habis sambil mendengarkan alunan musik  yang menggetarkan ruangan. Keesokan harinya di kosan aku bertemu dengan Dewi, kemudian dia menghapiriku dan meminta maaf atas peristiwa semalam karena dia cuek tidak menyapaku, “Maaf ya semalam om, aku pura cuek ga kenal karena ga enak aku lagi sama tamu,” katanya.
Kepadaku Dewi menceritakan kisah hidupnya termasuk profesinya sampingannya yakni menjadi wanita panggilan, alasan dia melakukan side job tersebut sangat simple yakni tuntutan gaya hidup karena dia ingin bisa hidup layak seperti orang lain. Uang yang ia dapatkan untuk kebutuhan gaya hidup, maklum uang yang terima perbulan dari orang tuanya di kampung tidak mencukupi kebutuhannya tinggal di kota besar.
Sejak saat itu aku dan Dewi menjadi akrab bahkan kami berdua kerap jalan bareng ke tempat-tempat hiburan, bahkan tidak jarang saat kami berdua dan bersenang-senang ditempat hiburan diakhiri di tempat tidur. Hal itu kami lakukan berulangkali, dari mulanya hanya sekedar happy-happy dan tak kusadari lama kelamaan aku sepertinya jatuh cinta kepadanya. Dan hal tersebut juga ternyata dirasakan oleh Dewi, ia menyampaikan bahwa dia merasa nyaman saat bersamaku dan dia juga tidak peduli walaupun aku sudah mempunyai anak isteri.
Sejak kehadiran Dewi, aku jadi tambah semangat untuk pergi kuliah, selain untuk menempuh ilmu aku juga sekaligus menjalin kasih dengan Dewi. Namun celakanya karena semakin intimnya hubunganku dengan Dewi dan seringnya kami berhubungan badan, tanpa diketahui ternyata Dewi kini berbadan dua alias hamil. Dewi baru menyadari dia hamil saat usia kandungan menginjak empat bulan, tentu saja kabar tersebut membuat shock kami berdua.
Dewi sempat berfikir untuk menggugurkan kandungannya namun hal tersebut aku larang, bagaimana pun aku tidak setuju dengan ide gila seperti itu. Bagaimana pun aku tidak setuju apabila harus membunuh janin dalam kandungan, aku bersedia untuk menikahinya dan datang ke orang tuanya. Setelah aku rayu dan kuyakinkan berulangkali akhirnya Dewi menuruti kata-kataku, dan singkat cerita aku dan Dewi memutuskan secepatnya mengatur waktu untuk pulang ke kampung halaman Dewi di Sukabumi untuk menemui orang tuanya dan menceritakan kondisi anaknya sekaligus meminta restu untuk melangsungkan pernikahan.
Tentu saja awalnya kedua orang tua Dewi tidak menyetujui rencanaku mempersunting anaknya, dia justru marah kepadaku namun setelah aku dan Dewi jelaskan akhirnya kedua orang tuanya akhirnya mengerti dan merestui pernikahanku. Dengan hanya dihadiri keluarga terdekat Dewi kami berdua pun melangsungkan pernikahan, demi menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Dewi.
Aku dengan sangat terpaksa menghianati isteriku, karena menikah lagi dengan wanita lain tanpa sebelumnya meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Bagaimana pun aku harus bertanggung jawab, selain itu juga agar bisa menyelamatkan nasib dan masa depan Dewi yang sebentar lagi di wisuda.
Setahun lebih berlalu, aku berhasil menyimpan rahasia pernikahanku dengan Dewi kepada isteriku sampai akhirnya dia mengetahui sendiri setelah dia melihat foto aku beserta Dewi dan anak kami. Selain itu juga isteriku juga melihat obrolanku dengan Dewi di dalam pesan singkat yang lupa aku hapus di handphoneku. Saat isteriku mengetahui perselingkuhanku kali ini aku tidak bisa mengelak untuk mencari alasan, dan mungkin saat itu aku berfikir inilah waktu yang tepat aku berterus terang kepada isteriku atas pernihakanku dengan Dewi.
Dan kali ini isteriku benar-benar tidak memaafkanku, mungkin itu wajar karena dia merasa tersakiti dikhianati oleh suaminya yang ternyata telah menikah lagi dengan perempuan lain. Unek-uneknya selama ditumpahkan semua, bahkan karena dia tidak tahan dengan sakit yang dia alami isteriku  memintaku untuk menceraikannya.
”Selama ini aku tidak cemburu atau marah sama papah saat ketahuan berselingkuh dengan wanita lain, karena aku percaya itu hanya sekedar main-main tidak serius, namun kali ini mengetahui papah benar-benar sudah menikah dengan wanita apalagi sudah anak mamah nyerah,” ujar isteriku.
Mendengar perkataan isteriku aku hanya bisa diam, karena dari awal komitmen kami berdua memang tak akan ada poligami dan jika hal itu terjadi aku harus menceraikannya. Mungkin ini sudah menjadi konsekuensiku aku harus menceraikan isteriku yang masih sangat aku cintai, rumah tangga yang selama ini sudah kami bangun dengan susah payah, hingga kami sudah mempunyai rumah sendiri hancur sudah. Semua berawal dari kebodohanku tidak bisa menahan hawa nafsu.
Setelah resmi bercerai dengan isteriku aku otomatis meninggalkan rumah dan mengontrak, namun aku masih diperbolehkan sesekali pulang kerumah mantan isteriku untuk menemui anak-anakku dan menafkahinya.
Sementara aku dan Dewi walaupun sudah menikah kami berdua tidak tinggal serumah karena dia harus tinggal di kota menyelesaikan kuliahnya, sementara aku baru bisa bertemu isteriku hanya hari Sabtu dan Minggu. Dan walaupun isteriku sudah menikah dan mempunyai anak, sifat dan kebiasaannya lamanya belum bisa ia ditinggalkan. Dia masih keluar malam clubbing bersama teman-temannya, bahkan belakangan diketahui dia masih melayani panggilan dari lelaki lain.
Saat aku mengetahui perbuatannya tersebut tentu saja aku marah padanya, namun dia malah berani balik memarahiku. Menurutnya dia terpaksa melayani lelaki lain, karena uang yang aku kirim tidak cukup untuk membiayai dirinya apalagi sudah ada anak. Mendengar ocehan isteriku tersebut aku hanya diam, ingin rasanya menamparnya dan meninggalkannya namun aku teringat anakku yang masih bayi, sementara mantan isteriku kini sudah tidak menerima lagi. Oh tuhan betapa malang nasibku, kini aku hanya berharap agar aku bisa kembali kepada isteriku.***

12,171 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/kubuang-madu-dan-kudapatkan-racun/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *