Lagi, Pelayanan RSUD Majalengka Dikeluhkan

Majalengka,(Sinarmedia).-
Lagi, pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalengka dikeluhkan oleh pasien terkait sikap para perawat maupun dokter yang kurang  ramah, fasilitas serta persedian obat di apotik yang seringkali kosong, sehingga pasien diharuskan  membeli obat diluar  apotik rumah sakit tentunya dengan harga lebih mahal.
Keluhan seperti itu sebenarnya sudah berlangsung bertahun-tahun namun walaupun telah beberapa kali ganti direktur tetap saja tidak banyak berubah.Kondisi seperti itu mengakibatkan kurangnya kepercayaan masyarakat  hingga akhirnya banyak warga Majalengka yang memilih berobat keluar Kabupaten Majalengka seperti ke Kabupaten Sumedang, Kuningan dan Cirebon yang dianggap pelayanannya lebih baik.
Menurut salah seorang warga Edi (37), beberapa waktu lalu ia terpaksa membawa istrinya untuk dirawat di RSUD Majalengka karena mengalami sakit kepala dan muntah-muntah. Karena ruangan VIP penuh maka istrinya dirawat di ruang kelas 1. Pada saat dirawat itu pasien maupun keluarga tidak mengetahui   penyakit yang diidap pasien karena perawat atau dokter tidak memberitahukannya, mereka hanya memberitahukan tekanan darahnya mencapai 190.
Ia mengetahui bahwa pasien  didiagnosa mengidap penyakit stroke setelah diperiksa dokter lagi di ruangan VIP karena dokter menanyakan bagian tubuh yang terasa “lémpér” (mati atau kaku) layaknya pasien yang terkena stroke padahal pasien tidak merasakan ada bagian tubuhnya yang kaku. Ia kemudian diberi obat, namun setelah menimum obat malah menimbulkan efek yang tidak nyaman. Menyadari kondisinya bukan tambah baik setelah minum obat tersebut ia memilih pulang paksa dari rumah sakit.
Ada beberapa kejanggalan yang ditemukan selama perawatan di RSUD Majalengka diantaranya, awalnya pasien masuk rumah sakit kelas I dengan menggunakan fasilitas Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS), mengingat pasien merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebenarnya selama menginap diruang kelas I pihak keluarga tidak kesulitan untuk memperoleh obat-obatan yang diresepkan oleh dokter karena stok obatnya tersedia di apotik rumah sakit dan gratis karena sudah ditanggung BPJS.
Namun karena pasien merasa tidak nyaman menginap diruang kelas I kemudian meminta pindah keruang VIP. Karena BPJS hanya mencover pasien rumah sakit hingga kelas I akhirnya untuk biaya selama menginap di VIP ditanggung uang sendiri, dan lebih parahnya lagi justru saat pasien menginap diruang VIP tersebut beberapa obat yang dibutuhkan mendadak dinyatakan tidak ada di apotik rumah sakit justru harus ditebus di apotik yang ada diluar yaitu apotik milik dokter.
Bahkan dokter rumah sakit  justru memberikan resep obat yang harus ditebus di apotik milik pribadi dokter dan di luar rumah sakit.
“Saat membeli obat di apotik luar rumah sakit tersebut, harganya mahal sekali bahkan beberapa kali lipat dari harga yang ada di rumah sakit,” kata Edi sambil menunjukan nota pembayaran dari apotik.
Adapun beberapa jenis obat-obatan yang dianggap mahal diantaranya jenis Cernevit, Frego, Mertigo, Amlodipine, dan Piracetam.
Menurut Edi diduga dokter – dokter di RSUD Majalengka ikut bermain dalam meberikan resep obat-obatan, pasalnya kebanyakan dokter tersebut langsung menunjuk apotik milik pribadinya yang berada di tempat praktek yang dibuka di rumahnya. Menurutnya, bukan ia saja yang mengeluh sejumlah warga lainnya juga banyak yang mengeluh setelah mengetahui harus menebus obat dengan harga yang cukup mahal di apotik dokter itu.
Hal yang sama juga menimpa Arif (35) warga Jatiwangi, ia mengaku ada saudaranya yang  pernah dirawat di RSUD Majalengka dan dokter spesialis yang menanganinya memberikan resep obat yang harus ditebus di apotik luar rumah sakit milik pribadi dokternya dan tentunya dengan harga yang cukup memberatkan.
“Sekitar sebulan yang lalu saya mengantar keluarga saya dirawat di RSUD Majalengka, dan dokter yang menangani memberikan resep untuk membeli obat dari apotik ditempat prakteknya yang berada dirumahnya,” katanya sambil memperlihatkan nota resep dokter tersebut.
Direktur RSUD Majalengka, dr. H. Asep Suandi, saat dihubungi melalui telepon genggamnya mengaku tidak bisa memberikan jawaban dikarenakan sedang berada di luar kota menghadiri acara.
“Mohon maaf saya sedang berada di Batam jadi tidak bisa menjawab, silahkan hubungi salah satu staf saya dibagian pelayanan bernama dr. Dewi,” katanya sambil menutup telepon genggamnya.
Sementara itu, Saat dihubungi, dr. Dewi mengatakan berdasarkan aturan yang ada di internal rumah sakit sebenarnya dokter tidak boleh mengarahkan pasien untuk membeli obat-obatan selain di apotik yang ada di dalam rumah sakit. Karena seharusnya tugas dokter adalah memberikan resep obat saja, dan pasien bisa membeli obat tersebut di apotik yang tersedia di rumah sakit.
Sebenarnya pihak direksi rumah sakit kata Dewi, sering mengingatkan kepada para dokter yang ada dirumah sakit agar tidak mengarahkan pasien untuk menebus obat diluar apotik rumah sakit.
“Kalau berdasarkan aturan yang ada dinternal rumah sakit memang tidak diperbolehkan dokter mengarahkan pasien membeli obat selain di apotik yang ada dirumah sakit, namun memang fakta dilapangan masih sering terjadi dokter di RSUD Majalengka mengarahkan untuk membeli obat di apotik miliknya,” katanya.
Dewi menambahkan, saat ini pihaknya belum bisa memberikan sanksi kepada para dokter yang “nakal” menjual obat di apotik diluar rumah sakit, karena saat ini pihaknya hanya sebatas memberikan pembinaan.
“Untuk sanksi yang diberikan itu bukan kewenangan saya, karena itu menjadi kewenangan dan tanggung jawab direktur,” jelasnya

Fasilitas Buruk
Sementara itu selain banyak  mengeluhkan pelayanan sejumlah pasien di RSUD Majalengka juga mengeluhkan fasilitas yang ada. Beberapa ruang perawatan nampak tidak terawat hingga menimbulkan kesan kumuh, kotor dan tidak terawat. Bahkan atap beberapa ruang perawatan dikhawatirkan ambruk, bahkan sudah ada yang ambruk namun beruntung tidak menimpa pasien yang tengah dirawat.
Buruknya ruang perawatan bahkan juga tampak ada di ruang VIP, ruangan yang seharusnya memberikan kenyaman lebih karena bayar lebih mahal tidak sebanding dengan fasilitas yang ada. Beberapa fasilitas nampak rusak seperti  kamar mandi, wastafel, kursi yang sudah sobek, AC yang tidak berfungsi baik  serta dinding ruangan yang sudah kotor.
Setelah diteliti ternyata, sejumlah barang elektronik yang dipasang di ruangan VIP tersebut mereknya tidak sesuai dengan daftar inventaris barang yang terpampang  diruangan itu. Seperti AC misalnya, harusnya merk LG namun kenyataanya merk National, Kulkas seharusnya merek Sharp namun ternyata merk Sanyo demikian pula TV yang seharusnya merk Polytron  tapi yang ada merk Samsung.(S.02).

1,001 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/lagi-pelayanan-rsud-majalengka-dikeluhkan/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *