Membangun Profesi Guru Masa Depan di Kabupaten Majalengka

Permasalahan yang dihadapi guru dan dunia pendidikan guru merupakan permasalahan yang sangat kompleks dan memerlukan pemecahan yang komprehensif dan sistemik. Guru-guru dihadapkan pada masalah sistem insentif dan disinsentif yang kurang mendorong upaya pengembangan kemampuan professional yang dibutuhkan dalam mengajar. Masalah kekurangan guru di daerah terpencil, disparitas dalam distribusi penugasan guru yang kurang efisien dan adanya ketidaksesuaian antara bidang keahlian dengan tugas mengajar. Selain itu, adanya sorotan dari stakeholders mengenai kualitas mengajar sebagian guru yang belum memadai.

Berdasarkan beberapa permasalahan guru tersebut, maka kebutuhan akan pemenuhan guru yang professional untuk masa sekarang dan masa depan dirasakan sangat diperlukan. Agar dapat menghasilkan guru professional masa depan, maka diperlukan suatu model sistem pendidikan prajabatan guru masa depan dengan pendekatan manajemen strategik. Model sistem pendidikan prajabatan guru masa depan tersebut merupakan Conceptual-Frame Work administrasi pendidikan yang sistematis berbasis manajemen strategik sehingga guru-guru yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, dunia usaha dan bangsa serta negara.

Untuk menjamin efisiensi dan mutu pendidikan ke depan, harus terjadi transformasi model penyiapan guru di perguruan tinggi dari bleeding-supply menuju demand-driven, sesuai dengan perencanaan kebutuhan guru. Desain pendidikan guru yang professional untuk masa depan didasarkan pada pendapat Udin S. Sa’ud yang mengasumsikan bahwa peran guru secara umum dalam kehidupan masyarakat modern Indonesia terdiri dari tiga peran utama yang saling berkaitan, yaitu sebagai: 1) fasilitator belajar, 2) professional-leader, dan 3) agen pengembangan sosial kemasyarakatan. Peran utama ini dipilih dengan alasan bahwa diharapkan guru-guru masa depan secara efektif melaksanakan fungsi sebagai orang yang secara profesional memfasilitasi kegiatan belajar siswa sesuai dengan kebutuhan mereka, bekerja secara profesional dengan sikap profesionalisme yang tinggi di sekolah maupun masyarakat, dan dapat menjadi agen perubahan sosial, baik dilingkungan persekolahan maupun masyarakat. Sementara Darling-Hammond and Bransford (2005) mengatakan bahwa guru profesional perlu memahami dan menguasai minimal tiga pengetahuan dasar mengajar (knowledge-based of teaching) yang meliputi: a) pengetahuan tentang bidang studi yang akan diajarkan secara mendalam (mastering of contentknowledge), b) pengetahuan tentang pedagogiek (mastering of paedagogical knowledge), c) pengetahuan tentang pedagogiek khusus yang mendalam tentang bidang studi yang akan diajarkannya (mastering of paedagogical content knowledge). Kemampuan-kemampuan dasar mengajar tersebut di atas merupakan knowledge-base of teaching yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mempunyai profesi mengajar. Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut guru harus memiliki kemampuan berikut ini : (a) pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, (b) penguasaan bidang studi baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan, (c) kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, dan (d) kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelanjutan.

Seandainya mengajar boleh didefinisikan sebagai usaha menyampaikan informasi (teaching is telling), setiap warga negara pasti mampu menjadi guru. Namun tugas guru tidak sebatas bercerita atau sekadar menyampaikan informasi, sehingga tidak setiap warga negara bisa menjadi guru. Untuk menjadi guru profesional dibutuhkan panggilan jiwa sebagai seorang pendidik, memiliki minat dan bakat, karakter, serta pengalaman tertentu yang diperoleh melalui serangkaian program pendidikan dan atau pelatihan yang profesional. Untuk menjadi guru profesional dibutuhkan laku (proses mengalami) untuk menjadikan dirinya sebagai model panutan yang pantas diteladani (digugu dan ditiru). Oleh sebab itu, pendidikan calon guru yang mencerdaskan merupakan persoalan yang harus diupayakan melalui penataan dan perbaikan secara menyeluruh, terstruktur, dan sistemik.

Dalam pada itu, kompetensi guru merupakan sesuatu yang utuh sehingga proses pembentukannya tidak dapat dilakukan secara instan, karena guru merupakan profesi yang akan mendidik dan melayani individu-individu, yakni pribadi unik yang mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang. Pembentukan kompetensi guru merupakan kegiatan pendidikan yang memerlukan pengkajian, pelatihan, dan pembiasaan sehingga dapat mengambil keputusan dengan efektif dan efisien dalam situasi transaksional. Agar guru mampu melakukan hal-hal tersebut, diperlukan bukan saja persiapan yang bersifat akademik, namun juga pengalaman nyata yang intensif dalam menerapkan prinsip-prinsip akademik tersebut dalam situasi sebenarnya di sekolah.

Untuk kepentingan tersebut keterampilan yang sangat diperlukan untuk hari-hari kedepan dalam pengajaran dan pembelajaran efektif, guru harus memiliki keterampilan sebagai berikut :

  • Knowledge Skills (Keterampilan Berpengetahuan). Guru Profesional dan efektif adalah guru yang memiliki pengetahuan, sekalipun tidak ahli dalam materi yang dipelajarinya. Lebih penting lagi, mereka harus terampil mengkomunikasikan pengetahuan yang mereka miliki terhadap siswanya dan mendemonstrasikan bagaimana ilmu (pengetahuan) itu bisa digunakan di luar kelas. Pengetahuan ini tidak akan bisa diserap siswa ,jika siswa tidak mengetahui tujuan dari pembelajaran yang mereka lakukan untuk apa mereka mempelajari pengetahuan itu. Guru yang baik akan selalu memperlihatkan tentang belajar untuk hidup dan belajar untuk belajar. Guru Profesional dan efektif adalah guru yang profesional yang selalu menjaga dan mengembangkan model-model pembelajaran yang up to date dengan penekanan pada proses pembelajaran,
  • Management Skills (Keterampilan Mengelola). Guru Profesional dan efektif harus pandai menyusun, kurikulum secara umum. Program Pengajaran ( migguan, atau program tahunan ) yang harus disusun disesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa.Merencanakan strategi pembelajaran yang efektif dalam membantu siswa dalam mendapatkan materi secara cepal dan tepat guna. Mengelola kelas dengan baik dengan menciptakan lay out kelas yang baik, menetapkan prosedur dau peraturan yang akan diterapkan terhadap siswa dan sejak permulaan tahun pelajaran. Misalnya minggu pertama siswa harus melakukan apa, pekerjaan rutin apa yang harus dilakukan siswa untuk mengembangkan kelas selalu berinteraksi secara lebih efektif dan efisien, menjaga aktifitas kelas dengan menciptakan situasi dan kegiatan yang bervariasi, seperti belajar dalam kelompok kelas, kelompok kecil tutor sebaya, atau bekerja sendiri . Siswa mengetahui apa yang mereka harus kerjakan dan bantuan apa yang mereka perlukan dari guru, apakah mereka harus meniggalkan kelas, dan harus rnembentuk kelompok, kerja kelompok, atau bahkan mereka lupa tidak mangerjakan Pekerjaan rumah (PR) dan membawanya ke sekolah, dan
  • Questioning Skills (Keterampilan Bertanya) Bertanya merupakan peran utama dalam proses pembelajaran dan penggunaan pertanyaan jangan menjadi latihan yang “hit and miss” ( memukul dan teitinggal ) aitinya memberi pertanyaan jangan yang mernbuat siswa terpukul sehingga menjadikan siswa tertinggal pembelajaran bahkan tidak membuat belajar lagi. Guru Profesional dan efektif harus merencanakan pertanyaan yang efektif yang meliputi, berapa banyak pertanyaan kognitif yang tingkat tinggi, dan berapa kogmtif yang rendah.

Esensi guru adalah sebagai pendidik yang penuh kasih sayang, bukan sekadar pegawai atau pekerja sebagaimana umumnya. Jiwa dan kepribadian guru demikian harus dibentuk dan dibangun di dalam sistem among yaitu: asah, asih, dan asuh. Legitimasi pendidik dalam konteks pendidikan adalah kewibawaan, dalam arti pendidik tampil sebagai sosok yang disegani, bukan karena ditakuti dan berkuasa menentukan hidup-matinya peserta didik yang berada di bawah tanggung jawabnya. Melainkan karena mampu berperan sebagai orang tua kedua, dan bisa menjadi warga masyarakat yang demokratis, dan mampu membangun hubungan emosional yang baik, di samping tetap memiliki kompetensi atau keahlian serta integritasnya dalam melaksanakan tugas mengelola pembelajaran yang mendidik.

Guru masa kini dan masa depan harus benar-benar menyadari bahwa telah terjadi pergeseran dalam menetapkan tujuan pendidikan, yang semula pendidikan bertujuan menyiapkan lulusan siap pakai, harus digeser menuju lulusan yang mandiri, mampu berkolaborasi sebagai anggota masyarakat, mampu menalar, mampu menggunakan teknologi informasi, mampu memanfaatkan, dan mengembangkan aneka sumber belajar. Artinya, tujuan pendidikan tidak lagi semata-mata penyesuaian diri, melainkan juga peningkatan kemampuan dan kemauan mengubah masyarakat menuju mutu kehidupan yang lebih baik serta mampu berpikir antisipatif ke masa depan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, peran guru yang semula sebagai sumber otoritas ilmu pengetahuan harus bergeser menuju perannya yang baru, yaitu sebagai fasilitator atau mediator yang kreatif, serta pergeseran dari mengajar sebagai suatu pembebanan menuju mengajar sebagai suatu proses negosiasi (Bodner, 1986).

Oleh : Drs. H. Iman Pramudya Subagja, MM. (Penulis Adalah Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka)

687 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/membangun-profesi-guru-masa-depan-di-kabupaten-majalengka/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *