Pasien BPJS Merasa “Dianak Tirikan”

Majalengka,(Sinarmedia).-
Sejumlah warga Majalengka mengeluhkan pelayanan rumah sakit umum Cideres yang membeda-bedakan perlakuan terhadap pasien. Pasien peserta BPJS kesehatan mengaku sering diperlakukan tidak adil dan terkesan dianak tirikan ketimbang pasien umum non BPJS oleh pihak rumah sakit. Warga meminta pemerintah untuk menindak tegas terhadap oknum pegawai rumah sakit yang tidak memperhatikan pasien peserta BPJS yang kebanyakan berasal dari golongan ekonomi lemah itu.
Perlakukan diskriminatif yang dilakukan oleh pihak rumah sakit kepada pasien peserta BPJS menurut Sumpena salah seorang warga desa Gunung sari, mulai terasa ketika pasien datang ke rumah sakit, petugas rumah sakit sering menanyakan kepada keluarga pasien apakah peserta BPJS atau bukan, apabila ternyata peserta BPJS sering diabaikan bahkan sering disebut ruang perawatan sudah penuh.
Selain itu menurut mantan anggota DPRD itu, ia banyak menerima pengaduan dari masyarakat terkait pembelian obat yang tidak tersedia di rumah sakit hingga terpaksa harus membeli ke apotek di luar rumah sakit dengan harga yang lebih mahal. Pasien peserta BPJS bahkan  banyak yang terpaksa membeli obat yang tidak terdaftar dalam obat  yang ditanggung oleh BPJS.
Sumpena yang kini menjadi sekretaris DPD partai Gerindra itu menduga buruknya pelayanan terhdap pasien BPJS itu terkait dengan besarnya tunggakan Kabupaten Majalengka terhadap BPJS yang kini mencapai Rp. 109 Milyar. Ia berharap masalah tidak patuhnya Pemda Majalengka tidak membayar iuran BPJS tidak berdampak buruk terhadap pelayanan terhadap masyarakat.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cideres, dr. H. Ambar Syabari Dzamhur membantah  pihaknya telah membeda-bedakan pelayanan kepada pasien rawat inap. Menurutnya semua pasien baik menggunakan biaya umum maupun BPJS sama saja, dan sudah menjadi tugas utama RSUD Cideres untuk melayani semua pasien secara professional dan maksimal.
“Dalam memberikan pelayanan kita tidak ada kata membeda-bedakan baik itu pasien peserta BPJS maupun pasien umum semua pasien sama kita akan layani semuanya dengan semaksimal mungkin,” kata Ambar saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini.
Ambar didampingi Kabid Pelayanan, dr. Rizal menjelaskan, apabila ada pasien baik itu umum maupun BPJS yang tidak tercover atau tidak kebagian kamar rawat inap itu bukan berarti pihaknya pilih-pilih terhadap pasien, namun memang benar-benar kondisi kamar yang penuh karena banyaknya pasien.
Setiap harinya pasien yang datang ke RSUD Cideres ini sangat banyak dan membludak, bahkan dari 243 tempat tidur yang tersedia sudah tidak bisa menampung pasien yang datang. Untuk itu pihaknya berupaya meberikan solusi dengan menyediakan ruangan lantai 2 dan 3 di Unit Gawat Darurat (UGD) sebagai tempat sementara pasien untuk mendapat pelayanan kesehatan dari tim dokter.
“Kami sengaja menyediakan ruangan kepada pasien yang belum mendapatkan kamar, yakni di ruang UGD lantai 2 dan 3. Tujuannya agar pasien yang jauh-jauh sudah datang ke RSUD Cideres segera mendapatkan tindakan medis dari dokter, jangan sampai pasien yang datang karena kamar penuh akhirnya pulang lagi,” ungkapnya.
Menurut Ambar, untuk pemberian obat kepada pasien BPJS dan pasien umum memang ada perbedaan. Karena sesuai dengan UU No 40 tahun 2004 menyatakan bahwa daftar dan harga obat serta bahan medis habis pakai yang dijamin oleh BPJS, dan keputusan menteri kesehatan RI tentang formularium nasional (Fornas) sebagai acuan dalam pelaksanaan jaminan kesehatan nasional. Dimana setiap pasien peserta BPJS akan mendapatkan pelayanan obat jenis fornas, obat fornas ini pasien akan mendapatkan obat terpilih yang rasional, berkhasiat, bermutu dan aman.
Namun untuk mendapatkan obat Formas ini sangat susah terutama pada awal tahun, karena obat  ini dipesan bukan hanya oleh rumah sakit saja, melainkan seluruh dinas kesehatan seluruh Indonesia untuk disalurkan ke setiap puskesmas. Dan yang menjadi permasalahan biasanya pada awal tahun obat fornas ini stoknya dari pusat terbatas, sementara pasien yang membludak sehingga di apotek sering kehabisan stok obat.
“Apabila stok obat  di apotek ini kosong, bukan berarti kami tidak menyediakan obat tersebut akan tetapi karena bernar-benar stoknya habis. Sehingga pihaknya terpaksa menyarankan agar pasien  membelinya ke apotek diluar rumah sakit yang notabene apotek mitra rumah sakit agar harnganya tidak terlalu mahal,” pungkasnya (S.02).

1,131 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/pasien-bpjs-merasa-dianak-tirikan/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *