Pelayanan Dua Rumah Sakit Milik Pemda Majalengka Masih Dikeluhkan

Majalengka,(Sinarmedia).-

Pelayanan dua Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Majalengka yakni RSUD Cideres dan RSUD Majalengka dinilai masih buruk dan banyak dikeluhkan masyarakat. Selain mendapat pelayanan tidak ramah dari paramedis  dan perawat yang bertugas, banyak keluhan datang dari masyarakat  pasien tidak mampu dan peserta BPJS Kesehatan.

Seperti disampaikan Ujang (34) warga Desa Dawuan, ia mengaku kecewa dengan pelayanan RSUD Cideres. Menurut dia, beberapa bulan yang lalu anggota keluarganya dirawat di RSUD Cideres dengan menggunakan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS), dimana setiap pasien pemegang kartu KIS ini seharusnya tidak dipungut biaya alias gratis apabila menjalani pengobatan di rumah sakit, namun faktanya saat hendak pulang ia dimintai uang untuk biaya administrasi sebesar Rp. 400 ribu.

“Katanya apabila menggunakan kartu KIS biaya rumah sakit bisa gratis karena ditanggung pemerintah, namun kok tetap saja membayar alasannya untuk biaya administrasi. Bagi kami keluarga miskin uang 400 ribu itu sangatlah besar, tentu saja kami kecewa tapi kami rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Ujang kepada Sinarmedia.

Ujang mengaku sebenarnya untuk biaya rumah sakitnya mulai dari biaya kamar dan obat gratis, namun saat hendak pulang dan membereskan persyaratan administrasi yang diperlukan, justru petugas rumah sakit meminta uang dengan alasan sebagai biaya pengganti adiministrasi.

“Pada waktu hendak pulang saya dimintai uang oleh petugas rumah sakit, dimana ia menyampaikan bahwa seharusnya bapak ibu ini membayar Rp4 jutaan tapi karena pakai kartu KIS jadi gratis,” katanya.

“Ini mah minta pengertiannya saja dari bapak ibu kepada kami sebagai penggati biaya pengurusan administrasinya daripada ibu harus membayar 4 juta,” ungkap Ujang sambil menirukan bicara petugas RSUD Cideres kepadanya.

Hal senada disampaikan Ratna (45) warga Sumberjaya yang mengaku kecewa dengan pelayanan RSUD Cideres khususnya di Unit Gawat Darurat (UGD), saat itu ia tengah mengantar ibundanya yang sakit dan perlu perawatan segera dari tim medis. Namun saat datang di UGD pasien yang sudah tua renta terkesan dibiarkan tidak mendapatkan penanganan medis dari dokter di UGD, selain itu untuk dapat ruang kamar inap ia harus menunggu seharian dengan alasan kamar sedang penuh.

“Kami sangat kecewa dengan pelayanan di RSUD Cideres, dimana para perawat dan dokter yang ada di unit UGD tidak cepat tanggap dan terkesan tidak ramah. Belum lagi untuk bisa mendapatkan kamar inap pihak UGD terkesan tidak pro aktif atau memperjuangkan kondisi pasien, semestinya dengan pasien yang sudah tua seperti ibu saya ini mendapatkan prioritas jangan dibiarkan begitu saja,” ungkapnya kepada Sinarmedia.

Ratna menambahkan, selain itu pelayanan mengecewakan juga dirasakan saat diberada di ruang inap, dimana saat meminum obat hingga membetulkan selang infus suster atau perawat yang jaga bekerja sangat lambat. Sehingga kita pasien dibuat menunggu lama, bahkan tidak jarang untuk keperluan pasien harus diurus sendiri.

“Pelayanan di RSUD Cideres mah tidak seperti pelayanan rumah sakit di Cirebon, walaupun rumah sakit umum daerah namun pelayanan di sana jauh lebih baik perawat maupun dokternya pun sangat tanggap kepada pasien. Kami mohon kedepannya pelayanan RSUD Cideres ini bisa diperbaiki,” tambahnya.

Sementara itu ditemui terpisah Drektur RSUD Cideres, dr. H. Asep melalui Kabid Pelayanan, dr. Ega mengatakan, pihaknya berterima kasih atas laporan yang diterimanya kedepan laporan tersebut akan menjadi koreksi didalam menejemennya. Menurutnya pihaknya saat ini tengah membersihkan praktik-praktik pungli yang terjadi di tubuh RSUD Cideres, terutama terhadap pasien tidak mampu. Ia tidak menampik bahwa ia sebelumnya menerima laporan serupa.

“Tentu saja ini akan menjadi PR utama yang harus segera dikerjakan, terus terang saat ini memang pihaknya tengah gencar-gencarnya melakukan penertiban dari hal-hal tersebut. Bahkan pihak menejemen telah mempersiapkan sanksi yang tegas apabila karyawannya kedapatan melakukan pungli terhadap pasien,” kata Ega saat ditemui Sinarmedia di halaman pendopo kantor bupati Majalengka.

Lebih lanjut kata Ega, pihaknya menerima kritik dan saran dari siapapun baik dari pasien melalui hot line nomor telepon yang terpampang ditiap ruangan maupun dari masyarakat langsung termasuk rekan-rekan media. Tentunya kata Ega, hal tersebut dibutuhkan untuk membangun system menejemen rumah sakit yang lebih baik, sehingga pelayanan kepada pasien dapat lebih maksimal.

“Saya ingin membereskan persoalan-persoalan yang ada di RSUD Cideres, tujuanya satu yakni menciptakan pelayanan prima kepada pasien dan masyarakat,” pungkasnya.

 

Pelayanan RSUD Majalengka

Pelayanan yang tidak memuaskan tidak hanya terjadi di RSUD Cideres akan tetapi juga terjadi RSUD Majalengka, dimana para pasien terutama yang menggunakan fasilitas BPJS banyak mengeluhkan soal stok obat yang seringkali habis di dalam rumah sakit, sehingga pasien diharuskan menebus obat di apotik luar rumah sakit dan pasien tentunya harus membelinya dengan harga mahal padahal apabila stok obat ada didalam rumah sakit tersedia pasien mendapatkan obat secara gratis.

Menurut Maskun (32) warga Leuwimunding mengaku kecewa terhadap pelayanan di RSUD Majalengka karena stok obat yang ada didalam apotik seringkali habis. Menurutnya ia sangat mengantar anggota keluarga yang sakit dan dirawat di RSUD Majalengka, resep obat yang diberikan dokter seringkali tidak ada didalam apotik sehingga pihak keluarga diharuskan membeli obat dari luar rumah sakit seperti di Apotik Mitra yang lokasinya bersebelahan dengan RSUD Majalengka.

“Ini sungguh aneh, pasalnya selama dirawat di RSUD Majalengka hampir setiap hari kami keluarga pasien selalu saja diharuskan membeli obat dari luar untuk menebusnya. Jangankan untuk menebus obat kami ini kan keluarga miskin untuk makan pun susah dan dirawat pun menggunakan fasilitas BPJS, tentu saja kami sangat keberatan apabila harus tiap hari menebus obat yang harganya mencapai Rp200 ribu bahkan pernah Rp500 perharinya,” ungkap Maskun.

Hal sama juga dirasakan Iis (39) warga Majalengka Kulon, ia pernah mengantar anaknya ke RSUD Majalengka karena anaknya sakit lambung. Namun sesampainya di depan UGD pasien tidak langsung mendapatkan pelayan, tidak ada petugas atau perawat yang menyambut pasien untuk dibawa ke dalam ruangan UGD hingga kelaurga pasien yang membawa kursi roda sendiri.

“Kami kecewa dengan pelayanan RSUD Majalengka terutama di unit UGD yang terkesan lambat dalam menangani pasien, selain itu para perawatnya pun tidak ramah. Kami meminta kepada pihak RSUD agar memperbaiki pelayanannya agar kami masyarakat yang ingin memperoleh pelayanan kesehatan dapat merasa nyaman dan tenang,” katanya.

Menurut Iis pelayanan RSUD Majalengka sangat berbeda dengan rumah sakit swasta yang ada di Cirebon, ketika ada pasien yang datang ke ruang UGD langsung disambut petugas dengan membawa   blankar. Kemudian pasien diperiksa oleh dokter sebagai tindakan awal. Mestinya RSUD Majalengka belajar kepada rumah sakit lain yang lebih baik.

Direktur RSUD Majalengka, dr. Rizal mengatakan pihaknya menerima dengan tangan terbuka setiap ada keluhan dari masyarakat terutama terkait pelayanan yang ada dirumah sakit yang ia pimpin. Menurutnya pihaknya siap dikritik bahkan apabila ada buktinya, tentu kami akan melakukan pembenahan atas kritikan tersebut.

“Untuk itu kami minta bukti-bukti dari pelanggaran yang ada di tubuh RSUD Majalengka, hal itu penting untuk kami lakukan pembenahan dan bila perlu kami akan diberikan sanksi tegas terhadap karyawan yang bekerja tidak maksimal,” tegasnya. (S.02).

282 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/pelayanan-dua-rumah-sakit-milik-pemda-majalengka-masih-dikeluhkan/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *