Penyesalan Seorang Istri

Sebut saja namaku Wati bukan nama sebenarnya, usiaku saat ini genap menginjak 35 tahun dan usia pernikahanku sudah menginjak 15 tahun lamanya dari hasil pernikahanku dengan Budi (bukan nama sebenarnya) aku dikarunia dua orang anak yaitu laki-laki dan perempuan yang masih kecil
Sebenarnya pernikahanku dengan Budi sangat harmonis, penghasilan Budi yang berprofesi sebagai pedagang kain dipasar sudah lebih dari cukup untuk membiayai keluargaku dan anak-anakku. Dalam menjalin hubungan rumah tangga selama 15 tahun kami nyaris tidak mempunyai masalah yang berarti. aku hidup dengan harmonis dan bahagia bersama suamiku dan kedua anakku.
Namun, petaka di dalam keluargaku mulai muncul tatkala aku mengenal facebook (FB). Gara-gara jejaring sosial inilah impianku untuk membangun rumah tangga dengan suamiku yang utuh hingga kakek nenek kini berantakan. Aku yang sehari-hari hanya sebagai ibu rumah tangga tergoda dengan rayuan lelaki lain melalui FB.
Cerita ini berawal ketika 2012 lalu aku diperkenalkan oleh temanku tentang facebook. Saat itu, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun senang karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah. Sebulan mengenal facebook, aku menilai tak ada yang istimewa pada jaringan sosial ini. Namun, setelah mengenal chat (ngobrol), aku mulai menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku.
Aku sengaja memajang foto yang paling menarik sebagai foto profil akun facebookku. Akibat foto tersebut tidak sedikit teman-teman di facebook yang mengira aku masih lajang. Padahal saat ini usiaku sekitar 35 tahun, dengan fotoku yang menarik membuat banyak orang tertarik untuk berkenalan lebih jauh denganku.
Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami. Sehingga, mereka tidak pantas untuk menyukaiku. Dan aku pun bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook.
Namun, sampai akhirnya aku mengenal seorang laki–laki sebut saja Jaja (nama samaran) semuanya berubah. Jaja adalah salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemerintahan Majalengka, dia memiliki jabatan dikantornya. Jaja mampu menggoyahkan iman dan kesetianku pada suami. Bahasa yang romantis dan selalu perhatian kepadaku saat di facebook telah membuat hati ini luluh.
Hampir setiap hari kami ngobrol lewat facebook, bahkan kami saling bertukar pikiran tentang rumah tangga kami masing-masing. Karena Jaja sebenarnya sudah memiliki isteri dan anak hanya saja ia tidak bahagia menjalani hubungan rumah tangganya. Ya, bisa dibilang kami berdua saling curhat-curhatan. Akibat sering curhat inilah perasaan aneh muncul, baik aku maupun Jaja entah kenapa merasa nyaman saat mengobrol seolah kami tanpa beban setelah saling bercerita satu sama lain.
Hari berganti hari tak terasa aku sudah menjalin hubungan terlarang melalui dunia maya dengan Jaja sudah sebulan lamanya, sampai akhirnya tanpa aku duga Jaja mengutarakan isi hatinya kepadaku bahwa dia mencintaiku. Tentu saja seharusnya ini tidak boleh terjadi aku mengetahui Jaja telah memiliki keluarga begitu juga denganku.
Selain menyatakan cintanya kepadaku, Jaja pun menyampaikan keinginannya untuk bisa bertemu denganku. Tentu saja aku bingung untuk mengabulkan semua keinginan dari Jaja, pasalnya aku sudah memiliki suami dan anak yang aku sayangi selain itu juga aku tidak mungkin bisa bertemu dengan Jaja karena hari-hariku dihabiskan didalam rumah bersama anak-anakku. Walalupun aku mempunyai pembantu aku tidak mungkin meninggalkan anak bungsuku karena dia masih kecil dan selalu tidak bisa lepas dariku.
Jujur dalam hati kecilku mengatakan sebenarnya aku juga ingin bisa menemuinya, karena penasaran dengan sosok Jaja yang selama ini ada dalam bayanganku. Namun aku masih belum bisa meninggalkan anak-anakku dirumah bersama pembantu. Walaupun aku sudah beberapa kali berupaya menolak keinginan Jaja yang ingin bertemu denganku, rupanya Jaja tidak patah semangat. Dia terus merayuku lewat chat untuk bisa menemuiku secara langsung.
Lama kelamaan akhirnya pendirianku pun goyah, dengan diliputi rasa penasaranku yang begitu besar terhadap sosok Jaja aku kemudian menyetujui permintaannya untuk bisa bertemu denganku. Akhirnya kami berdua pun sepakat untuk bertemu disalah satu pusat pembelajaan yang ada di daerah Jatiwangi, saat itu Jaja datang sendirian sementara aku datang dengan putra bungsuku, maklum aku tidak ingin menimbulkan fitnah jadi aku putuskan untuk membawa anakku.
Setelah bertemu, Jaja kembali mengutarakan perasaannya kepadaku. Bahkan dia seolah sangat menyakinkanku dan siap untuk menikahiku apabila aku menerima cintanya, tidak hanya itu dia pun bersedia menceraikan isterinya karena menurut pengakuannya hubungan rumah tangganya dengan istrinya sudah tidak harmonis lagi dan diujung kehancuran.
Sejak pertama bertemu dengan Jaja perasaanku deg–degan tidak karuan, ditambah lagi saat dia menyatakan keseriusannya yang akan mempersuntingku apabila aku menerima cintanya tentu perasaanku menjadi tambah tidak karuan lagi. Aku sadar pada saat itu aku sedang merasakan jatuh cinta lagi, mungkin kalau anak muda jaman sekarang bilang aku sedang mengalami galau berat.
Tak bisa dipungkiri setelah melihat Jaja secara langsung, aku juga merasakan hal yang sama yakni jatuh cinta padanya. Namun walaupun aku menyukainya aku tak ingin langsung menyatakan hal sama kepada Jaja, aku berupaya sekuat tenaga untuk tidak merespon keinginan Jaja yang ingin menikahiku. Karena bagaimana pun aku harus mempertimbangkan masak-masak keputusanku, aku sudah memiliki suami dan anak.
Memang secara fisik dan materi Jaja jauh lebih unggul dibandingkan dengan suamiku, namun bagaimana pun aku dan suamiku sudah menjalani bahtera rumah tangga belasan tahun dan apakah harus kandas begitu saja. Apalagi suamiku selama ini sayang kepadaku dan dia belum pernah macam-macam. Pertimbangan lainnya adalah kehadiran kedua anakku semakin menambah berat aku untuk memutuskan begitu saja.
Pertemuan dengan Jaja di pusat perbelanjaan bukanlah yang terakhir kali karena sejak pertemuan itu hubungan kami berdua menjadi semakin dalam walaupun hanya melalui media social. Bahkan kami berdua pun mulai sering melakukan pertemuan, tentu saja aku mencari waktu luang yakni apabila saat suami sedang sedang berada dipasar atau saat suami berbelanja kain untuk dagangannya. Maklum suamiku setiap hari pulang dari pasar selalu sore hari jadi aku mengatur waktu ketemu dengan Jaja pada pagi hari sampai siang hari. Sementara Jaja pun biasanya mengatur waktu untuk bisa membolos dari kerjanya.
Bahkan saat bertemu Jaja aku terkadang tidak membawa anak bungsuku alias seorang diri. Biasanya saat bertemu kami manfaatkan untuk makan, jalan-jalan dan shoping. Jaja seolah memberikanku kehidupan baru yang jarang aku lakukan bersama suamiku, maklum suamiku terlalu sibuk dengan usahanya hingga dia tidak sempat membahagiakan isterinya.
Walaupun aku sering bertemu dengan Jaja akan tetapi sikapku di rumah tetap seperti biasa. Aku tetap melayani suamiku ketika ia baru pulang dari pasar, termasuk mengurus pakaian dan makanannya bahkan saat diatas ranjang karena itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang isteri.
Tak terasa aku sudah menjalani hubungan dengan Jaja sudah 5 bulan lamanya, entah kenapa aku seolah ingin selalu dekat dengan Jaja. Aku sadar kini aku sudah takluk oleh Jaja dan aku pun tidak bisa menolak ajakan Jaja untuk bertemu di hotel yang berada di Kadipaten. Tidak hanya itu dikamar hotel aku tak kuasa saat Jaja memeluk tubuhku dan melakukan hubungan suami isteri. Pada saat itu aku tidak bisa menolak, aku rela melakukan hubungan suami isteri dengan lelaki yang bukan suamiku sendiri. Aku kini telah terjebak dengan godaan syetan bagaimana tidak aku seolah menikmati berhubungan dengan Jaja, dan sejak saat itu kami berdua sering melakukan hubungan terlarang.
Namun, hatiku tidak bisa dibohongi setiap setiap hari aku rasanya ingin berteriak, tanpa sadar aku telah mengkhianati suamiku yang sudah memberiku dua orang anak. Apalagi suamiku selama ini baik kepadaku dan disenangi oleh keluargaku.
Bulan berganti bulan, kehidupanku tak ada yang berubah termasuk hubungan dengan Jaja juga masih berlanjut. Namun, peribahasa yang mengatakan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga dan itu akhirnya terbukti kepada diriku. Sepandai-pandainya aku menyembunyikan hubunganku dengan Jaja, akhirnya ketahuan juga oleh suamiku. Aku ketahuan selingkuh setelah suamiku tanpa sengaja membaca SMS yang berisi ajakan untuk ketemuan dihotel. Dan suamiku pun langsung menginterogasiku dan memaksaku untuk mengakui perbuatanku.
Aku saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi suamiku langsung menghubungi nomor ponsel Jaja. Awalnya Jaja membantah, dan mengatakan bahwa ia dan diriku hanya berteman. Namun, setelah diancam oleh suamiku, akhirnya Jaja mengakuinya dan meminta maaf. Namun, suamiku sudah terlanjur sakit hati dan ia pun menceraikanku.
Kini aku hanya bisa menyesali perbuatanku, aku selalu berdoa dan memohon maaf kepada Allah SWT, kepada suamiku, kepada anak-anakku dan kepada keluargaku karena aku telah menyia-nyiakan cinta mereka. Aku ikhlas menerima ini semua atas konsekuensi dari perbuatanku sendiri.
Sejatinya teknologi diciptakan untuk mempermudah manusia dalam kehidupannya sehari hari, tapi sayang, kenyataannya kita sendiri yang menyalahgunakan teknologi tersebut untuk hal-hal yang tidak baik.Waspadalah selalu karena setan akan terus menggoda untuk menyesatkan diri kita semua. Gunakanlah jejaring sosial untuk mendapatkan keberkahan silaturahim, mencari ilmu yang bermanfaat atau untuk syiar, dan terutama bagi wanita, janganlah memasang foto yang memperlihatkan aurat sehingga menarik perhatian lawan jenis.***

19,121 kali dilihat, 25 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/penyesalan-seorang-istri/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *