POLITIK dan PERADABAN Oleh : H.Asep Eka Mulyana

Kata ‘politik’ kerap kita dengar atau baca dalam keseharian kita. Bisa jadi kata ‘politik’ menjadi salah satu kata yang pasti kita dengar atau baca, setidaknya satu kali dalam sehari. Hal ini berkaitan erat dengan tingkat komunikasi masa yang berkembang pesat. Perilaku komunikasi masyarakat yang haus informasi, ditunjang dengan teknologi informasi yang semakin canggih.
Kata ‘politik’ selalu terkait dengan pemberitaan-pemberitaan tentang penyelenggaraan pemerintahan atau negara. Namun diantara kita mungkin belum memahami betul, apa sesungguhnya arti secara harafiah atau makna kata ‘politik’, setidaknya berdasarkan terminologi.
Mengacu pada Wikipedia ‘politik’ secara terminologi dapat diartikan sebagai berikut; Pengertian pertama, menunjuk kepada satu segi kehidupan manusia bersama dengan masyarakat. Lebih mengarah pada politik sebagai usaha untuk memperoleh kekuasaan, memperbesar atau memperluas serta mempertahankan kekuasaan (politics). Misal: kejahatan politik, kegiatan politik, hak-hak politik.
Kedua, menujuk kepada “satu rangkaian tujuan yang hendak dicapai” atau “cara-cara atau arah kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu”. Lebih mengarah pada kebijakan (policy). Misal: politik luar negeri, politik dalam negeri, politik keuangan.
Ketiga adalah menunjuk pada pengaturan urusan masyarakat dalam segala aspek kehidupan. Pemerintah mengatur urusan masyarakat, masyarakat melakukan koreksi terhadap pemerintah dalam melaksanakan tugasnya (siyasah). Singkatnya, politik dapat disimpulkan sebagai sebuah kekuatan.
Sementara itu, masih menurut laman Wikipedia istilah kata ‘peradaban’ sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan dan kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”.
Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah deskriptif yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial dan beragam kegiatan ekonomi dan budaya.
Dalam bagian lain Wikipedia menjelaskan bahwa peradaban dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan, istilah “peradaban” dapat digunakan sebagai cara normatif baik dalam konteks sosial yang rumit dan budaya manusia yang dianggap lebih unggul disbanding budaya manusia lainnya, konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya (baca: moral) keunggulan dari kelompok tertentu.” Mungkin, konsep ini pula yang mengilhami Hitler menempatkan bangsa Arya sebagai bangsa super dibanding bangsa lainnya.
Dalam artian yang sama, peradaban dapat berarti “perbaikan pemikiran, tata krama, atau rasa”. Masyarakat yang mempraktikkan pertanian secara intensif; memiliki pembagian kerja; dan kepadatan penduduk yang mencukupi untuk membentuk kota-kota. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat pencapaian manusia dan penyebarannya (peradaban manusia atau peradaban global).
Istilah peradaban sendiri sebenarnya bisa digunakan sebagai sebuah upaya manusia untuk memakmurkan dirinya dan kehidupannya. Maka, dalam sebuah peradaban pasti tidak akan dilepaskan dari tiga faktor yang menjadi tonggak berdirinya sebuah peradaban. Ketiga faktor tersebut adalah sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan ilmu pengetahuan.
Sebagai sebuah kekuatan, sejarah telah mencatat bahwa politik dapat mengubah potret dunia. Banyak jejak-jejak sejarah yang tetap bertahan hingga kini menunjukkan betapa hebatnya sebuah kekuatan politik (baca; kekuasaan) dalam mewujudkan hal-hal yang luar biasa.
Dimulai dengan sejarah Mesopotamia (periode tahun 2500 SM), lokasi Mesopotamia saat itu berada di wilayah selatan Irak saat ini. Pada saat itu bangsa Sumeria sebagai penduduk Mesopotamia telah berhasil membuat sistem irigasi dan kanalisasi pengendali banjir sungai Efrat.
Di wilayah Eropa pada periode 753 SM – 1453 M tercatat dikuasai oleh Kekaisaran Romawi. Kekaisaran Romawi merupakan salah satu kekuatan politik paling berpengaruh pada masanya. Filosofi politik pada masa itu banyak mengilhami filosofi politik modern saat ini. Bukan hanya sebagai kekuatan politik, Kekaisaran Romawi juga meliputi kekuatan ekonomi, budaya, dan militer.
Menurut Wikipedia, kekaisaran ini menjadi kekaisaran terbesar pada masa antikuitas klasik dan salah satu kekaisaran terluas dalam sejarah dunia. Pada masa pemerintahan Trajanus, luas wilayah Kekaisaran diperkirakan mencapai 5 juta kilometer persegi. dan menjadi penguasa bagi hampir 70 juta penduduk, atau 21% dari keseluruhan penduduk dunia pada saat itu. Usianya yang panjang dan wilayahnya yang luas mengakibatkan pengaruh Kekaisaran Romawi seperti bahasa Latin dan Yunani, budaya, agama, penemuan, arsitektur, filosofi, hukum, dan bentuk pemerintahan bertahan abadi di negara-negara penerusnya.
Di wilayah Asia, tembok besar Tiongkok yang panjangnya mencapai ribuan kilometer menjadi saksi sejarah komitmen dan konsistensi Kekaisaran (Dinasti) Cina, melewati empat masa kekaisaran, dimulai di masa Dinasti Pra Qin, Dinasti Qin, Dinasti Han dan Dinasti Ming. Tembok Besar Tiongkok yang dalam Bahasa mandarin disebut “wanli changcheng” merupakan bangunan terbesar yang pernah dibangun di muka bumi. Tembok besar ini dibangun sebagai benteng pertahanan dari musuh-musuh yang mengancam Tiongkok pada masa itu.
Dalam sejarah Indonesia, bukti kekuasaan sebagai manifestasi dari kekuatan politik atau kepentingan diantaranya meninggalkan situs sejarah berupa candi. Candi terbesar yang pernah ada adalah Candi Borobudur. Candi atau kuil Buddha terbesar di dunia ini dibangun pada wangsa Syailendra. Dibangun sekitar tahun 800 Masehi. Tentu hal yang mendasari dibuatnya candi ini adalah persamaan kepentingan kepercayaan.
Sebaliknya, sejarah pula mencatat bagaimana kekuatan politik dapat dengan mudah dan cepat menghancurkan sebuah peradaban. Pemahaman tentang terminologi ‘politik’ pada bagian awal tulisan ini, seolah membenarkan bahwa sebagai sebuah ‘kekuatan’, politik dapat ber-metamorfosis menjadi apapun, khususnya kekuasaan. Celakanya kekuasaan tidak pernah luput dari kepentingan. Perbedaan kepentingan antar dua peradaban inilah yang akhirnya dapat saling menghancurkan. Atas nama kepentingan, kekuasaan seolah “mengijinkan” penindasan nilai-nilai kemanusiaan serta penghancuran kebudayaan.
Sejarah mencatat bagaimana peperangan demi peperangan manapun dalam sejarah manusia- telah memorak-porandakan bukti-bukti peradaban masa sebelumnya. Bukti peradaban Kekaisaran Romawi banyak hancur dalam periode perang dunia kesatu hingga perang dunia kedua. Bahkan dalam era modern pun, hilangnya bukti peradaban masa lampau tetap terjadi. Invasi Amerika atas Irak, disinyalir memusnahkan beberapa bukti peradaban masa Babylonia dan Mesopotamia.
Sebagai sebuah kekuatan, kekuatan politik saat ini masuk dalam kehidupan bernegara. Ber-transformasi menjadi kebijakan-kebijakan. Sebagai contoh kasus terdekat, dalam tatanan lokal bagaimana kearifan lokal Kasundaan dalam bentuk situs-situs sejarah di wilayah Jatigede dan sekitarnya harus ikut “tenggelam” demi terwujudnya kepentingan bersama bernama bendungan Jatigede.
Perlu dipahami, bahwa konteks peradaban tidak melulu dalam wujud fisik. Namun, peradaban sesungguhnya ada dalam batiniah manusia. Manusia, satu-satunya mahluk Tuhan yang diberi kelebihan akal dan nurani. Manusia menjadi pelaku sejarah, sebab hanya ras manusia yang menuliskan sejarah dari masa ke masa.
Maka sudah seharusnya, dalam tatanan politik, keterlibatan akal serta nurani menjadi mutlak. Sejati-nya setiap proses politik adalah untuk membangun peradaban, bukan menghancurkannya. Oleh sebab itu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dalam urusan politik sangat dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan sebuah peradaban.
Nilai-nilai budaya di masa lampau, terbukti dapat menjaga peradaban dalam bentuk batiniah. Dalam lingkup lokal, cacandran kolot baheula telah menggambarkan akan adanya burung besi (pesawat) di wilayah utara Majalengka. Kelak, sejarah akan mencatat, bahwa konsensus peradaban masyarakat Kertajati dan Jatitujuh telah menghadirkan Bandara Internasional Jawa Barat. Diharapkan kehadiran bandara ini akan memberikan dampak positif bagi pembangunan manusia disekitarnya.
Dampak langsung mungkin hanya bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar bandara, namun dampak tidak langsungnya akan dapat dirasakan oleh masyarakat Talaga, Cikijing atau masyarakat yang berada di wilayah selatan Majalengka lainnya. Meningkatnya sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari wilayah utara Majalengka, seyogyanya dapat dirasakan oleh masyarakat di wilayah selatan Majalengka.
Tumbuhnya kawasan bisnis di wilayah utara Majalengka, dapat digunakan untuk membiayai pembangunan sarana layanan publik di selatan Majalengka. Rumah sakit misalnya, karenan layanan kesehatan berbentuk Rumah Sakit di wilayah selatan Majalengka sangat dinantikan kehadirannya. Itulah salah satu bentuk konsensus politik terhadap peradaban. Sekali lagi, sejatinya politik adalah untuk membangun peradaban. Manusia boleh datang dan pergi, namun nilai-nilai kebaikan akan abadi. Insya Alloh .***( Penulis Adalah Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Majalengka).

238 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/politik-dan-peradaban-oleh-h-asep-eka-mulyana/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *