Prof. Sutarman: Pendidikan Kita Belum Hebat

Majalengka,(Sinarmedia).-
DUNIA pendidikan Indonesia belum hebat. Dunia pendidikan di negeri ini dinilai masih belum berhasil oleh sebab banyak faktor yang melingkupi dunia pendidikan kita itu sendiri seperti regulasi yang belum kuat, daya dukung masyarakat, dana pendidikan yang masih minimal dan sebagainya.
Analisa tajam tersebut dilontarkan Rektor Universitas Majalengka (Unma), Prof. Dr. Ir. H. Sutarman, M.Sc, ketika dimintai komentarnya terkait kiprah dunia pendidikan di Indonesia dikaitkan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2018, Rabu (2/5), di kantornya.
Disebutkan Prof. Sutarman, salah satu rujukan pada kesimpulan tersebut adalah data Organization for Economic Competion and Development (OECD). OECD melakukan penilaian melalui Programm for International Student Assigment (PISA) yang meneliti anak usia 15 tahun (setingkat siswa sekolah lanjutan tingkat pertama, SLTP) tidak satu pun ranking bagus ditempati Indonesia. Program tersebut meneliti kemampuan siswa dalam tiga mata pelajaran yakni sains (IPA), matematika dan membaca.
Disebutkannya, dari sejumlah 570 ribu siswa yang diteliti di 34 negara anggota OECD dan 31 negara nonanggota OECD, Indonesia berada pada ranking ke-64. “Itu berarti Indonesia hanya menduduki ranking kedua terakhir dari seluruh anggota OECD dan negara-negara nonanggota OECD yang berjumlah 65 negara itu. Ranking terakhirnya ditempati negara Peru,” katanya.
Yang menarik, katanya, para siswa di Indonesia menempati ranking pertama dalam kategori siswa paling bahagia. “Itu artinya siswa di Indonesia tidak stres dalam belajar, atau boleh jadi tidak bersemangat dalam belajar, atau juga bisa berarti bahwa siswa di negeri kita ini tidak mau repot-repot dalam hal belajar,” ujarnya.
Menurutnya, banyak hal yang menjadi penyebab masih belum hebatnya dunia pendidikan kita. Namun yang utama, katanya, masalahnya ada pada sistem pendidikan yang kita miliki. Sistem pendidikan yang dimaksudkannya adalah sistem yang melingkupi seluruh nilai dan sarana untuk kebutuhan peningkatan pendidikan kita. “Semua belum fokus pada upaya-upaya besar meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Pendukung ke arah peningkatan mutu pendidikan itu banyak, beberapa di antaranya adalah penguatan regulasinya, daya dukung pemerintah dan masyarakatnya, juga dananya. Kita memang sudah menetapkan 20% uang APBN kita untuk pendidikan, tapi itu kan angka minimalnya,” katanya.
Pendidikan di negeri ini, katanya, belum berhasil sejak mulai dari tingkat awal hingga akhirnya. Untuk menuju peningkatan mutu pendidikan di negeri ini, salah satunya harus dimulai dengan mengubah karakter para pengelola pendidikannya, juga dengan memperkuat sistem pendidikannya yang merupakan kewajiban dantanggung jawab negara. “Kita sering menyaksikan ganti menteri ganti pula model pendidikannya. Perubahan-perubahan itu memang diperlukan karena memang dunia pendidikan itu dinamis. Tapi itu tidak boleh mengubah desain besar model pendidikan yang menjadi kebutuhan negara-bangsa ini,” katanya.
Dikatakannya, kita masih harus terus belajar pada negara-negara lain, sebut misalnya negeri China. Pendidikan di negeri China, katanya, lebih maju. Di China para siswa belajar dalam lingkungan yang sangat serius, mereka belajar di sekolah berasrama. “Saya pernah ke China. Ternyata keberhasilan China membangun mutu pendidikan itu dilandaskan pada politik pendidikan yang merupakan bagian integral dari revolusi besar negara tersebut. Membangun pendidikan sebagai sebuah revolusi kemudian disusul dengan revolusi industri dan revolusi-revolusi bidang lainnya,” ungkapnya.
Pembangunan bidang pendidikan terhebat, katanya, dimiliki Finlandia. Di negeri itu pembangunan pendidikan sudah diterapkan sejak warganya hendak menikah. “Ketika sepasang warganya mau menikah, mereka sudah memiliki paket pendidikan yang akan diterapkan menyongsong kelahiran generasi barunya. Jadi, anak belum lahir saja, mereka sudah menyiapkan program-program pendidikannya dengan baik,” ungkap Prof. Sutarman.
Disebutkannya, pembangunan pendidikan itu berujung pada pembangunan karakter yang paripurna. Prof. Sutarman menyebutkan, dalam sidang Forum Rektor Indonesia dirinya kerap mengusulkan pendidikan karakter itu harus jelas road-map-nya. “Peta jalannya itu harus jelas, tahapan-tahapannya juga harus jelas agar kita bisa mengukur progress-nya,” katanya.
Apalagi, katanya, Indonesia mencanangkan tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka, sebagai momentum kelahiran Generasi Emas Indonesia. “Target pencanangan ini jelas memerlukan persiapan dan pelaksanaan pembangunan bidang pendidikan yang sangat serius, holistic dan terintegralisasi,” katanya.
Terkait dengan peringatan Hardiknas yang setiap tahun diselenggarakan di negeri ini, Prof. Sutarman menyebutkan peringatan itu bermakna tiga hal. Pertama, peringatan Hardiknas merupakan sebuah refleksi, sudah sejauh mana capaian dunia pendidikan kita. Kedua, peringatan Hardiknas juga merupakan wahana kontemplasi (mengenang) kita pada sosok dan jasa-jasa para tokoh pendidikan kita. “Ketiga, memperingati Hardiknas juga merupakan momentum melakukan evaluasi terkait dengan keberhasilan atau kegagalan kita dalam bidang pendidikan,” ungkapnya. (Arif/SM)

9 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/prof-sutarman-pendidikan-kita-belum-hebat/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *