Remaja 18 Tahun, Sofian Anwar: Tak Punya Anus Sejak Lahir

BANYAK orang menikmati hidup secara menyenangkan, bahagia dan membanggakan. Namun juga tidak sedikit orang yang merasakan hidup dalam keprihatinan yang sangat.
Beberapa orang hidup menderita, baik oleh sebab kemiskinan maupun karena deraan suatu penyakit atau ketidaknormalan lainnya. Yang paling menggiriskan tentu adalah hidup yang sangat memprihatinkan oleh sebab kombinasi ketiadaan materi alias kemiskinan dan sekaligus juga diperparah dengan adanya penyakit atau ketidaknormalan lain yang melekat pada fisik atau pun jiwanya. Bila tidak sabar-sabar amat, orang yang yang disergap kombinasi “dua penyakit” pasti akan menyerah dan kalah pada keadaannya.
Seorang anak (laki-laki atau perempuan) tidak bisa memilih akan menjadi seperti apa bila kelak ia dilahirkan. Namun semua orangtua dipastikan akan menghendaki anak yang lahir sempurna dan selanjutnya (juga) menjadi anak yang sempurna dalam pertumbuhan fisik maupun kejiwaannya. Bila kemudian ada sebagian anak mengalami keadaan sebaliknya, tentu itu juga harus diterima sebagai takdir Tuhan yang harus dijaga dan dirawat sebaik-baiknya. Bagaimanapun kondisi anak itu harus diyakini sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
Bila takdir menentukan bahwa seorang anak mengalami ketidaknormalan fisik, tentu kesabaranlah yang harus lebih dikuatkan. Tapi tentu harus pula dilakukan ikhtiar sekuat tenaga untuk mengembalikannya pada keadaan normal sebagaimana yang diharapkan.
Kondisi dan perasaan semacam itu teralami serta terasakan oleh Sofian Anwar. Sofian adalah seorang remaja warga Blok Pangumbahan RT 04 RW 01 Desa Pakubeureum Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka yang harus menerima ketidaknormalan dalam hidupnya. Sejak dilahirkan pada 7 Mei 2005 ia tidak memiliki anus sebagaimana lazimnya dimiliki orang kebanyakan. Karenanya sejak dilahirkan hingga sekarang, lulusan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Karangsambung Kadipaten itu harus terus merasakan keprihatinan dan kesusahan, khususnya setiap kali ketika ingin buang hajat.
Sejak ia masih sangat bayi, terhadap Sofian Anwar (sebuah nama hadiah dari Bupati Majalengka, Hj. Tutty Hayati Anwar) sebenarnya sudah dilakukan beragam upaya medis agar ia bisa menjalani hidupnya dengan normal. Atas bantuan Bupati Majalengka, Hj. Tutty Hayati Anwar, pihak Kodim Majalengka dan Kuwu Desa Pakubeureum saat itu, Ade Mulyawan, Sofian secara bertahap melakukan pengobatan di dua rumah sakit di Kota Bandung.
Tabloid Sinarmedia juga pernah menurunkan tulisan terkait kondisi Sofian pada Edisi Juli 2009. Saat itu Sofian baru berusia sekitar sepuluh tahun dan sedang duduk di bangku kelas dua madrasah ibtidaiyah (MI) –setingkat sekolah dasar– di desanya.
Pada Kamis (22/3/2018) lalu Sinarmedia kembali menyambangi rumah keluarga kurang mampu itu. Awalnya diharapkan Sofian sudah mendapati penanganan medis yang maksimal dan karenanya ia tidak lagi bermasalah berkaitan dengan proses buang hajatnya. Namun apa hendak dikata, ternyata Sofian masih mengalami kesusahan dan keprihatinan yang sama seperti sejak pertama dilahirkan.
Menurut ibunya, Eloh Salsilah (47), setidaknya Sofian telah mengalami empat tindakan medis hingga ia kini berumur 18 tahun. Tindakan pertama dilakukannya ketika Sofian masih berumur 18 hari. Pemeriksaan dan tindakan medis saat itu dilakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berkat jasa dan bantuan Bupati Majalengka saat itu, Hj. Tutty Hayati Anwar. Pada usia bayi masih merah itu Sofian membuang kotorannya lewat mulut. Karenanya di RSHS perut bagian kiri bawah Sofian dan ususnya dibuka (dilubangi) agar kotoran bisa keluar dari situ.
Kemudian pada sekitar tahun 2011, ketika Sofian duduk di bangku kelas 3 MI, Sofian dibawa kembali ke rumah sakit. Kali ini Sofian dibawa ke RS Dustira Bandung berkat jasa dan bantuan Kodim Majalengka. Tindakan medis yang dilakukan di RS Dustira itu adalah mengusahakan membuat lubang anus buatan. Setahun kemudian, Sofian kembali didatangkan ke RS Dustira untuk melakukan pengecekan kondisi anus buatannya.
Semenjak itu Sofian sebenarnya disuruh datang ke RS setiap beberapa minggu sekali. Namun karena ketiadaan dana untuk keperluan transportasi dan penopang kebutuhan lainnya, keluarganya tidak bisa berangkat ke Bandung. Karenanya lubang anus buatan itu lantas kembali rapet, hingga kini.
Pada tahun 2015, ketika dia duduk di bangku kelas 2 MTs, Sofian kembali dibawa ke RSHS Bandung. Kali ini keberangkatannya ke RSHS berkat jasa dan bantuan Kuwu Pakubeureum, Ade Mulyawan. Pada kunjungan kali ini terhadap Sofian hanya dilakukan pembersihan segala kotoran yang ada dalam perutnya melalui lubang hasil pembukaan di perutnya. “Kotoran-kotoran yang sudah mengeras dalam perut saya dikeluarkan melalui lubang perut dengan sebuah alat dan cairan tertentu,” kata Sofian dengan nada lirih.
Jadi Guru Mengaji
Meski dengan kondisi yang tidak normal seperti itu, kini Sofian meniti hari-harinya dengan tetap semangat dan dipenuhi optimisme. Kendati juga diakuinya, ia kerap mengalami perasaan minder karena kekurangannya itu. Setelah lulus MTs, Sofian lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk mengaji dan memberikan pelajaran agama kepada sejumlah santri kecilnya di pondok pesantren sekitar rumahnya di bawah pimpinan Ustad Royandi.
“Kalau pagi saya di rumah saja. Usai salat Dzuhur hingga sore saya memberi pengajian kepada anak-anak di lingkungan blok ini,” ungkap Sofian yang juga anggota Barisan Serbaguna Ansor (Banser) Kec. Kertajati ini dengan nada merendah.
Sofian memberi pengajaran agama untuk kelas dan materi yang bervariasi. Jam-jam pertama ia akan menghabiskan waktunya mengajari anak-anak kecil tentang pelajaran agama tingkat awal. Kemudian selanjutnya ia akan mengajari anak-anak yang lebih tua membaca kitab-kitab gundul semacam Kitab Safinah, Kitab Ta’lim, Kitab Taqrib dan sebagainya. “Sejak kecil saya memang mengaji pelajaran agama dari kitab-kitab itu di pondok yang dipimpin Ustad Royandi,” katanya.
Ketika ditanya bagaimana perasaannya dengan kondisi sakitnya itu? Sofian menjawab enteng saja, “tidak ada rasa sakit atau semacamnya. Namun masalah muncul ketika ingin buang hajat, atau pada saat kondisi perut tidak sehat.”
Menurutnya, bila buang hajat ya keluar begitu saja dari bukaan perutnya. Begitu juga kalau buang angin (kentut), keluar lewat lubang yang sama di perut. “Saya terganggu dengan kondisi ini sebenarnya, namun ya karena keadaannya memang begini, saya pasrah saja,” katanya.
Meski demikian, Sofian merasa tidak galau menghadapi masa depannya. “Saya sih optimis saja, ada Allah SWT bersama saya,” ungkapnya dengan mata berbinar. (arif/sinarmedia)

73 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/remaja-18-tahun-sofian-anwar-tak-punya-anus-sejak-lahir/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *