Saat Istriku Selingkuh……

Selingkuh sejatinya tidak boleh terjadi di dalam suatu hubungan apalagi jika kita sudah menikah, kesetiaan dengan pasangan merupakan harga mati jika ingin punya keluarga yang utuh dan tidak dipisahkan dengan perceraian.

 

Perselingkuhan juga tidak hanya identik dilakukan oleh seorang lelaki atau suami saja, mengingat tidak sedikit kaum hawa atau isteri juga berselingkuh. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan di dalam sebuah rumah tangga, salah satunya adanya komunikasi yang tidak lancar karena kesibukan sang suami yang begitu padat sehingga waktu dengan isteri sangat sedikit kemudian sang isteri yang kesepian mencari  kasih sayang dengan di luar rumah dengan pria idaman lain (PIL).

Seperti kisah hidup yang aku alami, tak kusangka disaat aku sibuk dengan pekerjaanku ternyata isteriku di rumah yang merasa kesepian mencari hiburan dengan pria lain. Namun aku menyadari perbuatan yang dilakukan istriku bukan sepenuhnya kesalahanya, mungkin itu juga akibat ulahku sendiri yang jarang meluangkan waktu dengan isteri dan anak-anaku karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga istriku mencari hiburan untuk menghilangkan kesepian.

Sebut saja namaku Agus (bukan nama sebenarnya) aku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu dinas di Kabupaten Majalengka. Sementara isteriku sebut saja Diah (bukan nama sebenarnya) hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi kedua anakku. Sebenarnya hubunganku dengan isteriku harmonis dan tidak ada masalah, namun setelah aku mendapatkan promosi jabatan menuntut pekerjaanku menjadi ekstra sibuk walhasil waktuku dengan keluarga banyak tersita.

Kejadian ini terjadi sekitar tiga tahun yang lalu, tepatnya saat aku mendapat promosi jabatan. Dengan jabatan baruku ini memang beban pekerjaanku pun kini meningkat bahkan seringkali aku pulang malam karena harus menyelesaikan pekerjaan di kantor, selain itu juga terkadang aku tidak pulang ke rumah karena harus keluar kota atau lembur.

Walau pun beban pekerjaanku kini lebih berat namun aku terima karena itu sudah menjadi konsekuensi di dalam sebuah pekerjaan, dan memang dari awal isteriku merasa keberatan dengan kondisi seperti ini karena kini waktuku dengan keluarga menjadi sangat terbatas. Apabila biasanya setiap hari sepulang dari kerjaanku aku biasanya menyempatkan waktu itu bercengkrama menemaninya main dengan kedua buah hatiku yang masih kecil dan setiap akhir pekan aku menyempatkan untuk keluar bersama keluargaku walau hanya sebatas untuk makan bareng kini sudah jarang kami lakukan. Namun setelah aku jelaskan dan diberikan pemahaman lama kelamaan akhirnya dia mau mengerti dan sudah terbiasa dengan pekerjaan baruku.

Tak terasa hampir enam bulan lamanya aku bekerja dengan jabatan baruku itu artinya aku sudah enam bulan kurang perhatian terhadap keluargaku, setiap harinya waktuku untuk berkomunikasi dengan isteri dan anak-anak sangat terbatas tidak lebih dari 3 jam saja. Mulai dari bangun tidur aku hanya memiliki satu jam bisa mengobrol dengan isteri dan kedua anakku sebelum aku berangkat kerja, kemudian saat pulang kerja sekitar jam 6 sore sejak aku mendapat promosi jabatan aku jarang pulang jam 3 – 4 sore, bahkan terkadang aku pulang malam hari dimana isteri dan kedua anakku sudah tidur. Itu artinya pemanfaatan waktu di kantor lebih banyak daripada di rumah, tentu saja kondisi tersebut membuat  komunikasiku dengan dengan mereka menjadi terputus akibat pekerjaanku yang ekstra sibuk.

Awalnya aku merasa beruntung karena memiliki isteri yang shalehah yang mau mengerti dengan pekerjaanku. Walaupun banyak waktu berkumpul bersama isteri dan anak-anakku kini tersita akibat kesibukan pekerjaanku namun ia mau mengerti dan tidak marah.

Namun dibalik itu semua, ternyata isteriku merasa kesepian dan dia mencari hiburan dengan curhat dengan pria lain. Memang aku belum pernah memergoki isteriku berselingkuh dengan mata kepalaku sendiri, namun setidaknya aku pernah tanpa sengaja melihat handphone isteriku dimana di dalam kontak Blackberry Messenger (BMM) penuh dengan kontak teman lelakinya, bahkan aku pernah melihat langsung dalam chatingan pesan dia mengobrol akrab dengan lelaki sebut saja Indra (bukan nama sebenarnya). Dimana isi dalam obrolan tersebut isteriku curhat tentang konidisinya yang kesepian karena suaminya sibuk dengan pekerjaannya.

Menyakitkan memang mengetahui istri yang sangat kita cintai ternyata di belakang berselingkuh dengan pria lain walau hanya lewat media sosial atau dunia maya. Maraknya perselingkuhan dan perceraian dalam sebuah rumah tangga justru berawal dari handphone dan media sosial, tentu saja melihat pesan BBM dari isteriku aku rasanya ingin marah kepadanya.

Saat aku mengetahui isteri selingkuh aku mencoba untuk menahan diri dan menjaga emosi, aku mencoba intropeksi diri dan menbicarakannya baik–baik dari hati kehati kepadanya, karena bagiku tidak terbiasa dengan segala bentuk kekerasan dan segala permasalahan bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Kemudian aku pun menanyakan kepada isteriku apakah alasan dia berselingkuh dengan pria lain walaupun aku hanya baru mengetahui melalui handphone, apakah isteriku sudah tidak ingin menjalin hubungan rumah tangga denganku. Karena bagiku apabila isteriku berselingkuh itu artinya dia sudah tidak mencintaiku lagi, maka aku akan segera menceraikannya.

Setelah aku mengobrol dengan isteriku dia akhirnya mengaku kepadaku bahwa dia selama enam bulan terakhir ini merasa kesepian, karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Dia juga mengaku baru sebulan terakhir menjalin hubungan dengan lelaki yang bernama Indra yang merupakan teman sewaktu SMA dulu, dan itu pun baru sebatas lewat BBM-an. Dengan penuh penyesalan dia mengakui kehilafannya dan meminta maaf kepadaku serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Walaupun isteriku sudah meminta maaf, aku lantas tidak begitu saja memaafkan isteriku. Sebagai seorang lelaki dan suami tentu saja aku memiliki rasa ego yang tinggi karena bagaimanapun isteriku sudah jelas ketahuan berselingkuh dengan lelaki lain dan itu artinya harga diriku sebagai seorang suami telah diinjak oleh isteriku.

Sejak saat itu pikiranku campur aduk tidak karuan, rasanya aku ingin marah dan sempat terbesit dalam pikiranku ingin menyudahi hubungan rumah tangga dengan isteriku dengan perceraian. Namun satu sisi aku kasihan dengannya apalagi dia juga sudah meminta maaf, lagipula aku juga merasa bersalah karena selama enam bulan terakhir ini aku terlalu sibuk dengan kerjaan sehingga isteri dan kedua anakku merasa kesepian.

Sejak kejadian itu hubunganku dengan isteriku  menjadi renggang, aku menjadi semakin tidak betah di rumah selain itu juga aku mulai malas mengobrol dengan isteriku yang telah menghianatiku. Aku pun mencoba untuk melampiaskan kekecewaan terhadap isteriku tersebut dengan mencari hiburan diluar rumah, aku mulai mengenal dunia malam dan bertemu dengan gadis-gadis ABG. Selepas pulang kerja aku tidak langsung pulang kerumah namun aku mencari hiburan terlebih dahulu  untuk melupakan sejenak semua masalah keluarga yang tengah menimpaku dengan mencurahkanya kepada wanita lain.

Aku sadar apa yang kulakukan ini jelas salah dan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, namun setidaknya aku dapat mengurangi atau menghilangkan ingatan akan perselingkuhan isteriku walau hanya sesaat.

Apalagi isteriku sudah meminta maaf ribuan kali kepadaku atas kehilafannya, rasanya tidak adil apabila aku tidak memaafkan isteriku. Bahkan untuk menyakinkanku dan menebus dosa yang dia telah perbuat dia kini menghancurkan handphone BB miliknya dan dia juga tidak lagi menggunakan media sosial lainnya karena dia sadar dengan kecanggihan teknologi tersebut membuat banyak celah untuk kita berhubungan dengan siapa saja yang secara tidak langsung menjadi pintu gerbang perselingkuhan.

Sebulan lamanya aku menghianati isteriku dengan berselingkuh dengan wanita lain, mungkin itu aku lakukan sebagai balas dendam sakit hatiku diselingkuhi oleh isteriku. Namun aku jujur tidak bisa membohongi hati nuraniku, bahwa aku masih mencintai isteriku terutama pada kedua anakku. Rasanya aku salah apabila aku harus bercerai dengan isteriku, apalagi dia sudah meminta maaf dan telah merubah semua perbuatannya.

Apalagi bagaimana pun kita harus ingat dengan janji suci saat dulu berakad nikah, dan yang paling terpenting adalah ingat dengan masa depan anak dan ingatlah pada sang Khalik bagaimanapun perceraian adalah perbuatan yang memang diperbolehkan namun seseungguhnya perceraian dibenci oleh Allah SWT.

Tidak ada kata terlambat untuk kembali membangun cinta, membangun rumah tangga yang harmonis sakinah, mawadah dan warrahmah. Karena bagiku dalam membangun sebuah rumah tangga apalagi yang mau dicari karena sesungguhnya pencapaian yang hakiki adalah apabila kita mampu menciptakan  kebahagian kemesraan dan romatisme antara suami isteri dan juga mengasuh anak-anak karena itulah yang akan mengantarkan pada kebahagian yang diridhai-Nya.

Aku sadar bagi suami yang mempunyai pekerjaan yang super sibuk seharusnya juga melakukan intropeksi diri, bukankah kewajiban suami adalah tidak hanya memenuhi nafkah lahir melainkan nafkah batin sang istri juga harus terpenuhi. Ketika hanya satu sisi yang terpenuhi sementara sisi lain dilupakan, berarti suami belum menjalankan tugasnya secara lengkap. Walaupun suami sibuk, seharusnya tetap bisa memberikan sedikit waktu luang dari jadwal padatnya untuk sekedar membahagiakan istri maupun anak-anaknya sebentar.

Selain itu juga seharusnya bagi isteri harus bisa menjaga kesetian serta kehormatan dan martabat sang suami, sesibuk apapun pekerjaan suami sudah seharusnya isteri harus bisa mengerti dan apabila merasa kesepian tidak lantas melampiaskanya dengan lelaki lain selain suami. Seorang isteri sudah menjadi kewajibanya untuk menerima segala kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki oleh suaminya.***

14,801 kali dilihat, 62 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/saat-istriku-selingkuh/
Twitter

2 thoughts on “Saat Istriku Selingkuh……

  • 29 Maret 2016 at 3:11 PM
    Permalink

    Apapun alasannya,selingkuh perbuatan salah,apalagi selingkuhnya istri yang kemudian sadar dan kembali ke jalanNya,dibalas selingkuh oleh suami krn dendam,mau jadi apa rumahtangga?
    Naiknya karir,diikuti oleh kurangnya waktu untuk keluarga,itu lazim terjadi dimanapun,toh membangun komunikasi dengan teknologi saat ini memungkinkan,mengapa tidak dibangun komunikasi dng istri ditengah kesibukan,sms ,wa,telpon langsung yang sifatnya mendekatkan suami pada istrinya.
    Jangan salahkan FB,BB dan saudara2nya,yang salah pakai kan manusianya,selain menyalah gunakan teknologi untuk membangun zina juga menyalah gunakan cinta sbg anugerAH Illahi menjadi musibAH rumahtangga dengan membangun zina.
    Suami membuat kedudukan thd istrinya 1-1 ,sama2 zina, yang ada dua-duanya menimbun dosa dan sdh sama2 pas : perempuan pezina utk laki2 pezina atau musyrik,begitu juga kebalikannya,jadi mau apa lagi selain tobAT sebelum umur melompAT dari raga?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *