Saat Kuterpuruk Istriku Meninggalkanku

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin pepatah tersebut menggambarkan kisah hidup yang aku alami sekarang. Dimana setelah aku hilang jabatanku alias di non job kan dari Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan kini aku ditinggalkan pula oleh isteriku wanita yang selama ini aku cintai karena menggungat cerai.

Sebut saja namaku Budi (bukan nama sebenarnya), saat ini aku masih tercatat sebagai PNS dilingkungan pemerintah Majalengka, jabatan terakhirku adalah pejabat eselon IV sebelum akhirnya aku di non jobkan alias menjadi staf kembali akibat kesalahan yang aku perbuat.

Saat masih punya jabatan disalah satu dinas aku tak sengaja bertemu dengan teman lama sebut saja Rudi bukan nama sebenarnya yang notabene seorang pebisnis, dia kemudian mengajaku untuk ikut berbisnis investasi yang tengah digelutinya. Karena tergoda dengan presentasi untung yang menggiurkan kemudian aku pun mencoba untuk ikut berinvestasi dengan uang tabungan yang aku miliki bersama isteriku. Sebulan berselang aku sudah mendapatkan hasil yang sesuai dengan dijanjikan, setelah berjalan beberapa bulan aku kemudian mengajak teman-teman, saudara serta msyarakat lainya untuk ikut bisnis investasi.

Tak terasa dalam waktu setahun saja aku memiliki nasabah yang banyak hingga ratusan dengan nilai investasi mencapai milyaran rupiah lebih. Sampai pada akhirnya kurang lebih setahun setengah berjalan bisnis investasi yang sedang aku geluti ini dinyatakan bermasalah dan bangkrut. Mendengar informasi tersebut aku terasa shok, bagaimana tidak uang tabungan bersama isteriku bagaimana kelanjutanya apakah bisa kembali atau tidak belum lagi uang dari nasabah yang merupakan teman, saudara, tetangga dan masyarakat lainya yang telah mempercayakan menitipkan uangnya untuk berinvestasi.

Dan sudah bisa ditebak, setelah mengetahui perusahaan investasi bermasalah tentu saja mereka para nasabah ini datang kepadaku dan menuntut uang yang dititipkan untuk berinvestasi minta dikembalikan. Tentu saja aku juga yang dalam hal ini juga menjadi korban merasa keberatan, karena aku sama sekali tidak memakan atau menggunakan uang para nasabah untuk keperluan sendiri melainkan dititipkan kepada temanku untuk dinvestasikan ke perusahaan.

Sementara saat aku mencoba untuk meminta pertanggung jawaban dari Rudi temanku ini mendadak hilang ,susah ditemui, bahkan nomor telepon yang dimilikinya mendadak sulit dihubungi dan tidak aktif. Aku pernah ketemu dengan Rudi, itu pun aku harus menemuinya di Cianjur dirumah isterinya, namun dia juga menceritakan kepadaku bahwa dia juga adalah korban dari perusahaan. Untuk bisa terhindar dari persoalanya tersebut di juga telah menjual seluruh aset yang dimilikinya untuk menutupi segala hutang uang nasabah.

Sebenarnya dalam setiap uang yang dititipkan ketemanku selalu dikukuhkan dengan bukti kwitansi sebagai bukti bahwa uang tersebut tidak aku gunakan untuk keperluan pribadi, namun ternyata bukti itu tidak cukup karena umumnya para nasabah yang telah menitipkan uang tahunya atas namaku.

Sehingga tak jarang masyarakat yang datang kepadaku menuntut uangnya dikembalikan sambil membawa aparat kepolisian karena menganggap aku melakukan tindak pidana penipuan, bahkan sebagian dari mereka yang kecewa membawa kasus tersebut keranah hukum. Belum lagi ancaman dan makian kerap aku dapatkan dari para nasabah yang kecewa kepadaku.

Bahkan akibat persoalan ini aku kerap bolak balik kekantor kepolisian untuk dimintai keterangan dan menjalani berita acara pemeriksaan, untungnya selama ini aku memegang kwitansi bahwa uang dari para nasabah ini memang benar-benar ku serahkan kepada temanku Rudi. Namun walau aku sudah menjelaskan dengan jujur dan sebenar-benarnya, akan tetapi tetap saja banyak dari mereka yang tidak mau tahu dan meminta uang tersebut dikembalikan dari uang pribadiku.

Terus terang aku menjadi stres ketika aku mengetahui bahwa temanku ternyata tega menipuku, belum lagi aku dipaksa harus menghadapi ancaman dari masyarakat yang menjadi nasabah ikut menanamkan modal investasi kepadaku yang memaksaku mengembalikan uangnya. Bukan hanya aku isteri dan kedua anakku juga harus menanggung semua persoalan yang sedang melilitku, isteriku sering diteror oleh orang, bahkan kedua anakku yang sudah dewasa mendapat ejekan dari teman-teman sekolah dan kampusnya karena ayah mereka seorang penipu.

Tentu saja permasalahan yang sedang melilitku ini merupakan sebuah ujian yang sangat berat dri sang maha kuasa yang harus aku jalani bersama keluargaku. Selain menanggung beban psikologis yang sangat berat, keluargaku juga dipaksa menanggung hal yang sama. Tidak hanya itu hubungan dengan isteriku sedikit demi sedikit mulai renggang akibat persoalan yang sedang menimpaku, dimana isteriku kecewa dan marah kepadaku.

Walau aku sendiri juga adalah merupakan korban, namun aku ingin secepatnya menyelesaikan persoalan ini walaupun aku harus berkorban menjual aset yang dimiliki. Karena bagaimanapun aku dan keluargaku ingin tenang dan tidak mau terus terlarut dengan persoalan ini, dan jangan sampai persoalan ini sampai melebar kemana-mana apalagi sampai kantor atasanku tahu pastinya aku akan mendapatkan sanksi.

Setelah hasil rembukan dengan isteriku, akhirnya aku terpaksa mulai menjual aset-aset yang dimiliki untuk menutupi sebagian hutang-hutang para nasabah terutama orang-orang yang terdekat, mulai dari sepeda motor, tanah hingga terakhir rumah pun tempat satu-satunya untuk tidur dan istirahat bagi aku isteri dan anak-anaku terpaksa aku jual dan kami tinggal dengan mengontrak rumah.

“Habis mau bagaimana lagi, karena harta yang saya punya cuma itu. Walaupun berat tapi saya terpaksa menjualnya agar secepatnya terbebas dari permasalahan ini,”

Walaupun aku sudah menjual semua harta kekayaan yang aku miliki, namun belum cukup untuk menutupi semua hutang-hutangku kepada para nasabah. Sampai akhirnya aku hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ketika ada sebagian nasabah yang belum hutang piutangnya belum aku beresi melaporkanku ke atasanku dan kntor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Majalengka.

Beberapa bulan kemudian aku pun dipanggil oleh BKD, aku pun mendapat teguran dan sanksi administrasi dari atasanku yakni berupa penurunan jabatan. Kini aku harus rela kehilangan jabatan sebagai , padahal untuk mendapat jabatan tersebut aku tentunya tidaklah mudah aku sudah mengabdi puluhan tahun lebih. Namun kini semuanya telah hilang, bukan hanya jabatan karena sebelumnya rumah dan aset yang aku miliki kini telah lenyap.

Untuk menghidupi keluargaku sehari-hari, terutama biaya sekolah kedua anakku hanya bisa mengandalkan bantuan dari saudara-saudaraku. Apalagi anak pertamaku tahun ini memerlukan biaya besar karena memasuki semester akhir perkuliahanya. Terus terang untuk biaya makan saja aku kesulitan apalagi untuk biaya sekolah, karena bagaimana pun walaupun pekerjaanku sebagai PNS nmun gaji yang diterimaku setiap bulanya sudah hampir minus, karena gajiku banyak dipotong oleh Bank Jabar akibat SK PNS dijadikan jaminan untuk pengajuan hutang untuk menutupi segala hutang. Bahkan untuk makan dan transportasi kekantor aku hanya mengandalkan belas kasihan dari teman-teman kantorku yang ngasih sebagian dari uang jajanya.

Penderitaanku akhirnya sampai pada puncuknya, dimana wanita yang aku cintai dan selama ini selalu menemaniku baik suka maupun duka kini telah memutuskan untuk pergi meninggalkanku dan menggugatku cerai. Saat pertama mengetahui keinginan isteriku yang ingin berpisah dariku rasanya seperti tersambar petir ditengah hari bolong, dunia ini serasa hancur mendadak.

Bagaimana tidak sebelumnya aku tidak mempunyai masalah dan hubunganku dengan isteriku baik-baik saja, walaupun memang sejak aku terlilit dengan masalah hutang ini isteriku memang sedikit berbeda ia memang marah dan kecewa kepadaku yang dianggapnya teledor dan aku menganggapnya hal itu wajar. Aku mencoba untuk berbicara dengan isteriku agar membatalkan rencananya tersebut, namun rupanya keputusan isteriku sudah bulat. Bahkan setelah beberapa kali mencoba membujuknya namun ia “keukeuh” pada keputusanya.

Walaupun usia pernikahan kami terbilang sudah lama hampir menginjak 21 tahun, namun itu semua tidak bisa menjadi jaminan dan menyelamatkan mahligai rumah tangga yang sudah lama terbangun. Isteriku tetap pada pendirianya yakni menceraikanku, ia pulang kerumah orang tuanya meninggalkanku dan kedua anakku disaat aku sedang terluka.

Apapun masalah yang sedang menimpaku, aku mencoba menerima dengan lapang dada. Karena mungkin ini sebuah ujian dari Allah yang harus aku hadapi dan diselesaikan. Karena bagaimanapun tuhan saat memberikan ujian kepada umatnya tentu dengan kadar kemampuanya, dan ku meyakini bahwa saat ini Allah tengah mengujiku bukan karena benci kepadaku melainkan Allah sayang kepadaku. Hanya terkadang ada kalanya kita tidak mampu bertahan dan bersabar dalam menghadapi ujianya.

Dalam surat Al Baqorah : 286 menyebutkan “ Allah tidak membebani seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya, ia mendapat pahala kebajikan yang diusahakanya dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang dilakuknya,”.***

270 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/saat-kuterpuruk-istriku-meninggalkanku/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *