Susahnya Memberantas Korupsi

34Yusuf EDIT
Oleh: Yusuf Effendy

Belakangan ini marak sekali tayangan di sejumlah televisi nasional mengenai tertangkapnya para koruptor mulai dari kelas teri hingga kelas kakap.Kasus korupsi terkini yang tengah menyedot perhatian masyarakat adalah terbongkarnya kasus suap terhadap ketua Mahkamah Konstitusi ( MK) Akil Muhtar dan korupsi yang menyeret penguasa banten yakni Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Ratu Atut yang sebelumnya tampak tegar saat beberapa kali dipanggil KPK, namun saat dijebloskan rutan Pondok bambu Gubernur wanita pertama di Indonesia itu nampak tidak tegar lagi dan akhirnya menangis setelah disoraki penghuni rutan lainya.Sebelumnya, kita juga sempat menyaksikan ketegaran seorang Angelina sondakh  (Anggota DPR RI) saat menjalani sidang-sidang sebelumnya  namun akhirnya dia menangis sebelum jatuh pingsan ketika menghadapi kenyataan ia divonis 12 tahun penjara oleh Mahkamah Agung.

Dua orang ratu yakni Ratu Atut dan mantan Ratu kecantikan (Putri Indonesia) Angelina Sondakh pasti tak pernah  membayangkan dirinya bakal menjalani hidup di hotel prodeo dalam waktu yang cukup lama.Adalah hal yang tidak pernah terbayang dalam benaknya apa yang telah dilakukanya akan berbuah hukuman yang sangat berat.

Pada bulan Desember ini ada dua momen yang diperingati oleh segenap bangsa indonesia yakni tanggal 9 desember diperingati sebagai hari anti korupsi dan tanggal 22 desember  adalah hari ibu. Kedua momen penting itu apabila dikaitkan mengingatkan kita bahwa korupsi bukan hanya dominasi kaum laki-laki buktinya kedua ibu yang lemah lembut ini juga  melakukanya apabila ada kesempatan .

Korupsi bukan hanya dominasi laki-laki, bukan dominasi wanita dan bukan pula dominasi kaum tua nyatanya kini kita dapat menyaksikan politisi-politisi muda yang menjadi harapan bangsa juga  banyak yang terjerat kasus korupsi.Artinya korupsi sudah merasuki semua golongan dan semua sendi kehidupan.Dalam catatan sejarah,pemerintah indonesia entah serius atau tidak telah melakukan upaya  pemberantasan korupsi.

Bahkan pada tahun 2002 untuk meningkatkan daya gedor dalam memberantas korupsi Pemerintah indonesia membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) yang ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.Komisi independen ini dibentuk untuk mengatasi, menanggulangi, dan memberantas korupsi.

Sejak kehadiran KPK sudah banyak kasus korupsi  yang berhasil diungkap termasuk menyeret pelaku-pelaku korupsi kelas kakap yang tidak pernah terjadi pada masa pemerintahan orde baru.Namun kehadiran KPK tidak membuat tingkat korupsi di tanah air menurun , terbukti kasus-demi kasus terus bermunculan bahkan KPK menerima ribuan pengaduan kasus korupsi dari seluruh indonesia namun belum sempat ditangani.

Keterbatasan tenaga lembaga yang dipimpin oleh Abraham Samad itu menjadi kendala dalam mengungkap kasus-kasus korupsi di daerah.Gagasan Abraham samad yang akan membuka kantor cabang KPK di daerah merupakan ide yang harus diapresiasi dalam mempercepat pemberantasan korupsi yang menyangkut pejabat daerah yang kini masih marak.

KPK sebagai lembaga anti rasuah yang masih dipercaya masyarakat  nampaknya akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memberantas korupsi  di indonesia yang bukan lagi  membudaya, tapi sudah menjadi suatu seni berkorupsi. Seorang koruptor kini tidak hanya sekedar meraup uang negara karena hal tersebut sudah sangat mudah dilakukan. Kini koruptor sudah mengemas hasil korupsi tersebut agar lebih terlihat indah sehingga KPK pun susah membedakan antara haram dan halal. Bahkan seorang profesor ekonomi terkenal menyebutkan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari life style.

Memang hampir tidak ada negara di dunia ini yang lepas dari pengaruh korupsi. Tapi, prestasi Indonesia dalam hal korupsi sungguh “membanggakan”. Khusus di kawasan Asia pasifik saja, Indonesia berhasil menyabet medali emas sebagai negara paling korup. Data ini dikeluarkan oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong setelah melakukan survey terhadap 2174 eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat yang menjalankan usaha di 16 negara terpilih. Sementara untuk di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia “melorot” di posisi ke-5 negara terkorup.                                                                              .

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, label sebagai negara terkorup ikut memengaruhi imej Islam di mata negara-negara non-Islam. Mereka, khususnya yang anti Islam, makin memiliki “senjata” untuk menyudutkan Islam. Mereka membentuk opini dunia bahwa ternyata Islam itu mengajarkan korupsi. Buktinya Indonesia menjadi negara terkorup dimana pejabat-pejabat yang melakukan korupsi sebagian besar beragama Islam.                                                  .

Susahnya memberantas korupsi di Indonesia selain karena sudah mendarah daging juga karena definisi korupsi yang tidak jelas.Definisi korupsi dalam bahasa Indonesia adalah tindakan menyalahgunakan jabatan yang mengakibatkan kerugian negara. Dengan definisi ini, jika seorang pejabat menyalahgunakan jabatannya, tapi tidak merugikan negara maka tidak bisa dikatakan korupsi. Contohnya, seorang kepala gudang sembako menjual sembako yang ada di gudang lewat toko miliknya, lalu setelah laku ia kembalikan modal sembako tersebut ke gudang, sedangkan keuntungannya diambil oleh toko. Maka, tindakan seperti ini tidak bisa dikategorikan korupsi karena negara tidak dirugikan. Hal-hal seperti inilah yang menjadi korupsi terselubung, yang tidak bisa dituntut secara hukum.                                                             .

Namun, bila kita menggunakan definisi korupsi yang dikeluarkan WHO, yang  dalam salah satu kalimatnya disebutkan bahwa yang masuk perbuatan korupsi bila mengandung unsur “mengambil yang bukan haknya” maka tindakan di atas sudah termasuk kategori korupsi.

Sementara definisi korupsi (ghulul) menurut Islam adalah penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan cara sariqoh (pencurian), ikhtilas (penggelapan), al-Ibtizaz (pemerasan), dan suap (risywah) sebagai perbuatan mengkhianati amanah yang diberikan masyarakat kepadanya. Intinya, setiap perbuatan mengambil yang bukan haknya, baik secara terang-terangan atau tersamar termasuk dalam perbuatan korupsi.

Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa Haram terhadap korupsi. Larangan korupsi ditegaskan di dalam Al-Qur`an, Alloh berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfaal: 27)

Pada dasarnya korupsi tidak hanya mengambil yang bukan haknya dalam hal materi. Korupsi juga bisa dilakukan terhadap sesuatu yang tidak berwujud (nonmateri), seperti waktu. Seorang PNS bisa disebut korupsi waktu, tatkala ia tidak bekerja sesuai waktu yang telah ditetapkan. Atau ia sering menghilang dari kantor di    saat jam kerja untuk keperluan pribadi

Lalu bagaimana cara memberantas korupsi kelas kakap yang telah mendarah daging? Cara yang paling ampuh dan cepat adalah menggunakan hukum Islam, yaitu potong tangan. Tapi masalahnya, Indonesia bukan negara Islam sehingga tidak bisa menggunakan hukum Islam. Namun, bila kita menggunakan hukum yang ada sekarang maka cara yang paling tepat adalah ada kemauan kuat dari pemerintah untuk tobat, kemudian saling bekerjasama memberantasnya. Sebab, masalah korupsi di Indonesia disebabkan oleh perilaku kelompok, jadi untuk memberantasnya juga harus berkelompok.                                          .

Memberantas korupsi bisa dilakukan dengan tiga prinsip yakni promotif, preventif, dan kuratif. Promotif artinya pemerintah harus lebih intensif melakukan edukasi kepada generasi muda agar tidak ikut-ikutan budaya korupsi. Preventif maksudnya melakukan pengawasan secara ketat terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya korupsi. Tindakan ini lebih cocok dilakukan oleh BPK maupun KPK. Sedangkan kuratif, yaitu memberikan hukuman yang setimpal sebagai langkah penyembuhan pelaku korupsi.

Penerapan langkah ini disesuaikan apakah koruptor perorangan atau kelompok. Kalau dalam syariat Islam, tentu sudah jelas tindakan kuratif dengan cara potong tangan.
Inilah beberapa cara memberantas korupsi. Masalahnya bukan bisa atau tidak bisa untuk memberantas korupsi, tapi mau atau tidak mau.***

371 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/susahnya-memberantas-korupsi/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *