Tarsono Bantah Ijasahnya “Bodong”

Majalengka,(Sinarmedia).-
Penarikan ijasah S1 Tarsono D Mardiana dari berkas yang diserahkan ke KPU sebagai salah satu syarat daftar pencalonan wakil Bupati Bupati Majalengka mendampingi H.Karna Sobahi masih menjadi pertanyaan sejumlah kalangan.
Beberapa kalangan menduga bahwa ijazah S1 mantan ketua DPRD dan juga sekertaris DPC PDIP itu “Aspal” alias bodong.Alasan yang dilontarkan Tarsono menarik ijasah Sarjananya dari KPU dengan dalih Ijasahnya belum sempat dilegalisir dianggap tidak masuk akal.
Saat dikonfirmasi Sinarmedia melalui telepon selulernya, Tarsono membantah tuduhan bahwa ijazah sarjananya “bodong”. Menurutnya ia siap mempertanggung jawabkan ijasahnya karena ia benar-benar kuliah.
Dijelaskanya,ia awalnya kuliah di Universitas Terbuka (UT ) Unit Belajar Jarak Jauh (UBJJ) Bandung dan dilanjutkan ke STIA YAPPANN.Menurutnya ia kuliah di UT tahun 1992 sampai tahun 1997 dan baru menyelesaikan 20 SKS dan pindah ke STIA YAPPANN tahun 2010-an .
“Astagfirullah…saya kuliah di UT tahun 92 sampai tahun 97,baru selesaikan 20 SKS an, pindah/alih kredit tahun 2010 an ke STIA YAPPANN,” kata Tarsono.
Menurutnya di UT Unit belajar jarak jauh Bandung tidak mengenal tahun akademik atau Drop Out (DO) dan Di STIA ia tinggal menyelesaikan tiga mata kuliah .
“ Di UT tidak mengenal tahun akademik atau drop out ,saya di STIA (YAPPANN-red) tinggal perbaikan tiga mata kuliah,” jelas Tarsono.
Seperti diberitakan sebelumnya, Tarsono tiba-tiba menarik ijazah S1 dari KPU dan hanya menggunakan ijasah SMA sebagai persyaratan mendaftar ke KPU menjadi calon wakil Bupati untuk ikut Pilkada tahun 2018.
KPU sendiri sempat melakukan krarifikasi kepada Tarsono terkait penarikan ijasah S1 nya itu,namun KPU tidak mempermasalahkan karena sebagai persyarakatan mendaftar ke KPU cukup dengan menggunakan ijasah SMA saja.
Penarikan ijasah S1 Tarsono itu terjadi setelah di media sosial ramai beredar tentang kejanggalan masa kuliah Tarsono yang diselesaikan selama 20 tahun yakni masuk tahun 1992 dan lulus tahun 2012.
Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Majalengka DR.Otong Suhada SH.MH. masa perkuliahan untuk meraih gelar S1 selama 20 tahun memang terasa janggal karena batas maksimal kuliah adalah 7 tahun.
Ditambahkan Otong,apabila sudah melebihi tujuh tahun bisa dinyatakan Droup Out (DO) kecuali cuti itupun tidak bisa selama itu dan mesti ada alasan yang jelas.(S.01).

77,336 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/tarsono-bantah-ijasahnya-bodong/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *