Terancam Masuk Bui, Istri Minta Cerai

Apabila ada pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah nasib yang aku alami saat ini. Kisah hidupku ini sama seperti pepatah tersebut bahkan aku tidak hanya jatuh dan tertimpa saja melainkan aku juga terperosok kejurang. Ya bagaimana tidak saat aku pensiun dari jabatanku sebagai kepala desa, isteriku yang telah puluhan tahun menjadi pendamping hidupku kini minta cerai disaat aku tengah menghadapi masalah hukum.

Sebut saja namaku Budi (bukan nama sebenarnya) kini aku sudah menjadi  mantan Kepala desa (Kades) di wilayah Kabupaten Majalengka. Namun sejak setahun yang lalu aku sudah pensiun. Delapan tahun lalu aku mempunyai isteri sebelum akhirnya bercerai, sebut saja namanya Lisna. Selama 25 tahun aku menikah dengan mantan isteriku aku dikarunia 3 orang anak, dan anak sulungku beberapa bulan lagi akan melangsungkan pernikahan .
Sebenarnya hubunganku dengan isteriku baik-baik saja, hal itu bisa dibuktikan dengan usia perkawinanku yang bisa bertahan hingga mencapai 25 tahun lamanya dan nyaris hampir tidak ada masalah yang berarti hingga akhirnya isteriku tetap ngotot meminta cerai. Jujur sebenarnya aku menolak keinginan isteriku tersebut, bagaimanapun aku masih mencintainya dan aku kasihan kepada anak-anakku apalagi kepada si sulung yang sebentar lagi akan menikah tentu mengharapkan aku yang menjadi walinya saat ijab kabul pernikahannya nanti.
Saat itu aku sempat menanyakan kepada isteriku apa alasannya hingga tetap ngotot ingin berpisah dariku, apakah ada lelaki lain atau karena materi. Dan saat aku tanyakan kedua pertanyaan tersebut kepada isteriku hanya diam saja tidak menjawabnya, yang keluar dari mulutnya adalah dia ingin berpisah tidak lebih.
Memang selama mengarungi bahtera rumah tangga denganku mantan isteriku hidup dengan segala keterbatasan, dan dari awal pun isteriku sebenarnya sudah menerima segala kekuranganku termasuk kesederhanaan keluarga kami. Lantas kalau memang karena materi kenapa baru sekarang ia mengungkapkannya tidak dari dulu. Kemudian apakah ada lelaki lain, rasanya tidak mungkin karena aku tahu betul sifat dari  isteriku, apalagi usia kami berdua sudah tidak muda lagi jadi sangatlah tidak mungkin apabila alasan isteriku ingin bercerai ada lelaki lain .
Belakangan diketahui bahwa ternyata keinginan perceraian diantara kami berdua  karena ada intervensi dari pihak ketiga yakni bapaknya yang tak lain adalah mertua saya sendiri. Bapaknya menginginkan anaknya untuk meninggalkanku, karena aku dianggap menelantarkan cucu-cucunya karena aku diluar suka bermain perempuan. Tentu saja alasan itu sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin aku tega menelantarkan ketiga anak-anakku justru yang ada adalah sebaliknya aku tidak mau berpisah dengan  isteriku itu alasan kuatku adalah karena tidak mau berpisah dengan ketiga anakku.
Memang selama aku menikah dengan Lisna segala kebutuhan rumah tanggaku sering disuplai atau dibantu oleh mertuaku yang merupakan pensiunan perusahaan BUMN dan tokoh masyarakat di desaku. Termasuk kebutuhan sekolah dan lainnya ketiga anakku seringkali dipenuhi oleh kakeknya, aku pikir hal tersebut hal yang wajar karena kasih sayang seorang kakek kepada anaknya. Karena aku selaku bapaknya selalu ingin memberikan yang terbaik kepada anak-anakku.
Dan yang paling aku tidak terima adalah saat aku dituduh mempunyai hubungan dengan seseorang wanita, tidak dipungkiri selama menjadi kepala desa ada seorang perempuan janda sebut saja namanya Dewi (Bukan nama sebenarnya), dia seorang guru disalah satu sekolah dasar tercatat sudah PNS kabarnya suka kepadaku, dia menyampaikan perasaannya melalui salah satu pamongku.
Aku sempat menceritakan hal tersebut kepada  isteriku, sengaja tidak aku tutup-tutupi dan bahkan tidak sedikit warga yang mengetahuinya, mantan isteriku tidak mepermasalahkanya yang terpenting aku tidak mempunyai hati kepada perempuan tersebut. Belakangan diketahui ternyata tanpa sepengetahuanku  mertuaku tersebut mendatangi Dewi, dan berdasarkan pengakuan perempuan tersebut bahwa aku sempat menggodaku lewat telepon dan mengirim pesan singkat.
Aku sudah puluhan kali bahkan ratusan kali menjelaskan serta menyakinkan bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Dewi namun tetap saja  mertuaku tidak mempercayainya bahkan aku menantang agar aku dipertemukan dengan perempuan tersebut untuk diklarifikasi namun tetap saja sia-sia. Mertua sudah bulat meminta anaknya untuk menceraikanku, dan anehnya  isteriku pun diam saja dan menuruti keinginan ayahnya tersebut seolah tidak ada upaya lagi untuk mencoba mempertahankan keutuhan rumah tangga kami berdua.
Ya, sudah aku ikhlas kalau memang keinginan isteriku sudah bulat yang menginginkan bercerai denganku. Walaupun berat namun aku menerimanya dengan lapang dada, saat  isteriku minta cerai  pada saat itu aku baru saja pensiun dua bulan dari jabatanku sebagai kepala desa. Tentu saja kejadian itu sangat nyesek banget, seolah tidak bisa diterima.
Ujianku tidak sampai disitu, setelah aku pensiun jadi kades kemudian aku diceraikan oleh isteriku dan kini harus berurusan dengan hukum karena difitnah merekayasa penjualan tanah desa kepada investor.
Sebelum memasuki masa pensiun di desaku ada pembebasan lahan untuk pabrik, luasnya sekitar 10 hektar lebih. Tentu saja aku merasa senang karena dengan adanya pembebasan tanah warga yang dibeli oleh investor ini setidaknya aku sebagai kepala desa tentu akan mendapatkan fee yang rencananya akan aku jadikan sebagai bekal saat aku pensiun nanti.
Karena sadar pada waktu itu jabatanku sebagai kepala desa akan berakhir hanya menyisakan dua bulanan lagi, sehingga aku menyerahkan segala proses jual beli tanah warga kepada investor dari Korea ini kepada salah satu perangkat desa sebut saja namanya Nana (bukan nama sebenarnya). Bahkan tidak hanya proses administrasinya saja yang ditangani oleh Nana melainkan proses pembayaran juga diurus semua oleh Lambang.
Walaupun saat ini aku menjabat sebagai Kades namun khusus soal proses pembebasan lahan aku selalu menuruti saja saran dari Nana yang merupakan bawahanku, karena dari awal aku sudah mempercayakan kepada dia dan notaris termasuk saat berhubungan dengan para investor. Kebetulan di samping lahan yang dibebaskan terdapat tanah milik desa yang juga turut dibebaskan.
Namun tak menyangka kepercayaan yang telah aku berikan kepada Nana, malah menjadi bumerang kepadaku. Ternyata tanpa aku ketahui dalam proses jual beli tanah tersebut belakangan diketahui menyalahi aturan, yakni dalam proses penjualan tanah kas desa yang dijual ke investor admnistrasinya menyalahi prosedur dan kini kasus tersebut mencuat ke publik bahkan hingga ditangani pihak kepolisian.
Aku yang pada waktu itu menjabat sebagai Kades tentu saja aku ikut terseret dalam kasus tersebut, aku beberapa kali dipanggil pihak kepolisian untuk menanyakan sejauh mana keterlibatanku. Tidak hanya sampai disitu setiap hari aku juga selalu didatangi oleh wartawan untuk konfirmasi perihal kasus tersebut. Pada saat itu aku merasa sudah tak tahan lagi karena banyaknya tekanan, dimana seolah-olah akulah biang kesalahan semua ini. Saking tidak tahannya aku sampai ganti nomor telepon genggam dan pergi meninggalkan kampung halamanku.
Padahal dari awal aku telah mempercayakan segala proses pembebasan kepada anak buahku, namun kini anak buahku justru melemparkan kasus tersebut dengan beralasan kasus penjualan tanah desa merupakan tanggung kepala desa bukan dirinya.
Tentu saja ini sangat menyakitkan bagiku, dimana aku yang dulu telah menaruh kepercayaan penuh ternyata dibalas dengan fitnah kepadaku. Mungkin semua ini sudah menjadi suratan takdir dalam cerita hidupku yang harus jalani dan hadapi. Aku mempunyai keyakinan bahwa semua permasalahan yang menimpaku adalah ujian dari Allah, dan aku juga menyakini bahwa seberat apapun cobaan yang diberikan Allah karena aku bisa melewatinya.***

6,073 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/terancam-masuk-bui-istri-minta-cerai/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *