Terimakasih Ya Allah

Bulan suci Ramadhan sering dikatakan sebagai bulan penuh hikmah dan maghfirah, setidaknya hal itulah yang aku rasakan.Di bulan ramadhan ini aku benar-benar bersyukur suamiku insyaf dan kembali ke jalan yang benar setelah menyadari kekeliruan yang dilakukanya selama ini. Keharmonisan rumah tanggaku kini hadir kembali di bulan suci Ramadhan ini.

Dan alhamdulillah pada bulan suci ramadhan tahun ini hubungan rumah tanggaku telah mendapatkan hidayah sebagai bulan penuh ampunan, dimana kini hubunganku dengan suamiku kembali rukun setelah sebelumnya sekitar  setahun lebih hubunganku dengan suamiku tidak harmonis dan penuh dengan prahara. Hal itu terjadi karena kehadiran orang ketiga ditengah-tengah keluargaku.

Sebut saja namaku Linda (bukan nama sebenarnya), sementara suamiku sebut saja namanya Mulyadi juga bukan nama sebenarnya. Suamiku bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil disalah satu kantor pemerintahan  di kabupaten Majalengka.

Sebenarnya usia pernikahanku dengan Mulyadi ini bisa dibilang sudah cukup lama yakni 25 tahun, kami sudah dikarunia 2 orang anak yang sudah dewasa, bahkan anak pertama kami pada akhir tahun ini akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihanya.

Sementara awal mula keretakan hubunganku dengan suamiku dimulai setelah suamiku diketahui mempunyai wanita lain, bahkan tidak hanya itu belakangan diketahui suamiku juga ternyata telah menikahi wanita tersebut secara sirih sebut saja namanya Lisna (bukan nama sebenarnya).

Lisna ini sebenarnya bukan orang asing bagiku, karena dia adalah pernah menjadi tetanggaku walau hanya beberapa tahun. Lisna dan suaminya pada waktu itu pernah mengontrak dirumah yang lokasinya tidak jauh dari rumahku pada beberapa tahun silam. Mereka tidak lama menjadi tetanggaku karena pindah lagi ke daerah lain ikut suaminya. Dan sejak saat itu aku sudah tidak pernah tahu lagi kabar Lisna, maklum saja selama menjadi tetanggaku aku termasuk jarang bergaul dengan tetangga lainya.

Singkat cerita selang beberapa tahun kemudian,aku mendapat kabar bahwa suamiku sering jalan bareng dengan Lisna yang belakangan diketahui telah bercerai dengan suaminya dan kini tinggal dirumah neneknya. Awalnya aku mendengar kabar tersebut dari tetanggaku yang pernah melihat suamiku dan Lisna berboncengan naik motor berhenti disalah satu tempat keramaian yang ada di Majalengka.

Saat mendengar kabar tersebut, awalnya aku tidak mempercayai apabila suamiku bermain hati dengan Lisna apalagi aku tahu bahwa Lisna sudah mempunyai anak dan suami. Tapi aku memaklumi mungkin saja benar suamiku berboncengan dengan Lisna dan tidak ada salahnya karena memang sudah saling mengenal sebelumnya.

Sejak ada informasi itu memang ada perubahan sikap dari suamiku tidak seperti biasa-biasanya, salah satunya kini suamiku sering pulang malam, dan aku pun sempat menanyakan kepada suamiku kenapa sering pulang telat. Saat ditanya  suamiku selalu berkilah bahwa pulang malam karena banyak pekerjaan di kantor  dan ada perintah dari pimpinanya.

Selain itu perubahan sikap  suamiku lainnya adalah telepon genggamnya kini menggunakan kode apabila ingin mengoperasikanya, padahal sebelum-sebelumnya suamiku tidak pernah memasang kata kunci pada handphonenya.

Namun pepatah mengatakan serapat-rapatnya kita menutupi bangkai lambat laun bau busuknya pasti akan tercium juga, begitu pun seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh suamiku serapat-rapatnya ia tutup-tutupi seiring berjalanya waktu akhirnya ketahuan juga. Sampai suatu saat saudaraku yang tinggal di desa tetangga tempat Lisna menetap memergoki suamiku yang tengah mampir kerumah Lisna, bahkan tidak hanya siang hari saja melainkan pada malam hari juga suamiku sering berada dirumahnya.

Mengetahui hal tersebut, akhirnya saudaraku merasa penasaran dan mencoba mencari tahu sebenarnya ada keperluan apa suamiku sering mampir kerumah Lisna, dan ternyata setelah mencari tahu dengan menanyakan langsung ke para tetangga Lisna justru jawaban mengejutkan dan tidak aku sangka ternayta sebenarnya Mulyadi suamiku adalah suami baru dari Lisna. Mereka berdua baru dua bulan melangsungkan pernikahan secara sirih, yakni hanya dihadiri oleh penghulu dan orang terdekat saja.

Mengetahui kabar tersebut kemudian saudaraku akhirnya melaporkan kepadaku, mendengar khabar tersebut tentu saja aku sempat shock berat, selama ini aku tidak tahu perbuatan yang dilakukan suamiku saat berada diluar rumah. Ternyata selama ini yang aku ketahui saat suamiku berada diluar rumah karena sedang bekerja, namun ternyata dia membohongiku apalagi sampai tega dia menduakan aku.

Semula aku mau menahan diri atas laporan yang diterima dari saudaraku dan tidak akan menanyakan masalah perselingkuhan yang dilakukan suamiku, karena aku faham betul watak suamiku yang keras apabila aku tanyakan pasti akan terjadi pertengkaran yang hebat. Namun lama-lama aku tak tahan juga menyimpan beban ini semua. Wajar saja aku adalah wanita biasa yang lemah dan tidak sanggup apabila menerima kenyataan lelaki yang selama ini aku percaya ternyata tega mengkhianatiku dengan menduakanku.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan dan benar saja saat aku tanyakan kabar perselingkuhan kepada suamiku, ia malah berbalik marah kepadaku dan seolah menyalahkanku karena aku selama ini tidak bisa melayani nafkah batin. Memang sejak tiga tahun lalu aku divonis menderita penyakit yang terdapat dirahimku, aku tidak bisa maksimal memberikah nafkah batin kepada suamiku. Namun apakah karena itu suamiku sampai tega mengkhiatiku dengan menikahi wanita lain, dan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku.

Sejak pertengkaran itu, hubunganku dengan suamiku menjadi renggang. Bahkan walaupun aku masih tinggal serumah dengan suamiku, namun komunikasi yang terjadi diantara kami berdua seolah terputus. Kini kami berdua jarang sekali mengobrol serius sebagai pasangan suami isteri, keharmonisan rumah tangga yang dibangun selama puluhan tahun pun seolah mulai sirna.

Memang pada saat itu suamiku sempat meminta izin kepadaku untuk merestui hubungan suamiku dengan isteri mudanya, namun jujur pada saat itu aku tidak memberikan jawaban apapun kepada suamiku. Apabila aku bisa memilih sebenarnya aku lebih baik berpisah dengan suamiku apabila aku harus mengijinkan suamiku berpoligami dengan wanita lain. Namun aku tidak bisa egois, karena bagaimanapun aku memikirkan anak-anakku, mereka tentu tidak menginginkan kedua orang tuanya melihat bertengkar apalagi harus bercerai.

Atas pertimbangan itu, akhirnya aku mencoba untuk tetap bertahan menjalin hubungan dengan suamiku walaupun sebenarnya batin ini terasa hancur. Memang suamiku juga tidak menginginkan apabila harus bercerai denganku, namun yang ia minta dariku adalah agar aku merestui hubunganya dengan istri mudanya. Dan justru permintaan dari suamiku tersebut rasanya sampai kapan pun sulit untuk aku penuhi.

Tak terasa kami berdua menjalin hubungan rumah tangga tanpa ada keharmonisan sudah setahun lamanya, aku juga sampai saat ini masih mencoba bertahan dan selalu menutupi kepada kedua anakku atas semua persoalan yang sedang terjadi terhadap kedua orang tuanya.

Bahkan saat anak pertamaku yang mempunyai niat untuk menikah dengan wanita pilihan hatinya, aku dan suamiku bersikap seolah rukun dan tidak ada masalah saat menemui keluarga calon isterinya untuk melamarnya. Memang pada saat anak pertamaku mempunyai niat hendak menikah sedikit mendinginkan hubunganku dengan suamiku yang selama ini sempat memanas.

Karena tak menemukan menemukan penyelesaian rumah tanggaku, akhirnya aku hanya bisa pasrah dengan tak henti-hentinya berdoa. Pada bulan suci Ramadhan ini aku memohon ampun dan berdoa memohon kepada Allah SWT agar suamiku diberikan hidayah hingga menyadari kekeliruanya.

Mungkin inilah hikmah di bulan suci Ramadhan,  pada malam memasuki hari ke tujuh belas bulan Ramadhan secara mengejutkan suamiku meminta maaf kepadaku atas kehilafan yang telah dilakukan selama ini, dan dia mengaku telah mengakhiri hubungannya dengan istri mudanya.

Mendengar ketulusan hati yang disampaikan suamiku hatiku terasa bergetar,  dahulu aku yang sempat marah dan kecewa karena telah menyakitiku seolah musnah seketika saat melihat ia meminta maaf dan menangis memintaku untuk kembali memulai hidup baru lagi mengarungi bahtera rumah tangga disisa umurku. Mungkin inilah salah satu hikmah dari Allah SWT yang aku dapatkan pada bulan suci Ramadhan tahun ini. Alhamdulilah Ya Rabb kau kabulkan doaku. Terimaskih ya Allah.***

390 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/terimakasih-ya-allah/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *