Terkait Pemberangkatan Calhaj di BIJB Masih Simpang Siur

BANDARUDARA Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati Kabupaten Majalengka disiapkan akan segera melayani penerbangan domestik maupun internasional mulai 8 Juni 2018 mendatang. Meski begitu, terkait bisa digunakannya BIJB sebagai bandara yang memberangkatkan calon jemaah haji (calhaj), khususnya asal Jawa Barat, masih simpang siur.
Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, menyebutkan rencana awal memang seluruh penerbangan calhaj asal Jawa Barat bakal diterbangkan dari BIJB. Namun, katanya, ternyata jadual yang sudah tersusun untuk penerbangan calhaj asal Jawa Barat semua melalui Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Pihaknya kemudian mengusulkan untuk memindahkan penerbangan calhaj asal Kabupaten Majalengka dan Sumedang bisa melalui BIJB.
“Saya sudah minta agar minimal untuk dua kabupaten, yakni Majalengka dan Sumedang, penerbangannya lewat BIJB. Ada tujuh flight dengan Airbus 330. Sudah dikoordinasi dengan Garuda untuk maskapainya. Mudah-mudahan bisa lebih,” ungkap Menhub usai meninjau BIJB Kertajati belum lama ini.
Menurutnya, hal itu diupayakan Kemenhub sebagai penghargaan dan apresiasi pihaknya kepada masyarakat Majalengka khususnya yang telah mendedikasikan ratusan hektar lahan mereka untuk dibebaskan dan dibangunkan salah satu proyek stretegis nasional ini. Disebutkannya, pada masa-masa awal pengoperasian, khususnya mudik, BIJB bisa melayani penerbangan domestik di lima kota, yakni Medan, Surabaya, Bali, Makasar dan Balikpapan.
Beberapa hari sebelumnya, Sinarmedia mendapatkan informasi tidak sepasti itu. Manajemen PT BIJB menyatakan tidak bisa memastikan para calhaj asal Jawa Barat untuk musim haji tahun 2018 ini sudah bisa diberangkatan melalui bandara ini.
“Sebenarnya kami sudah siap menjadi bandara yang memberangkatkan calhaj, khususnya asal Jawa Barat. Namun ada sejumlah pertimbangan dan alasan yang membuat kami tidak bisa memastikan BIJB jadi bandara keberangkatan haji tahun ini,” kata Humas UMP PT BIJB, Rizkita T Widodo, di kantornya di Kertajati, Selasa (3/4).
Menurutnya, salah satu alasannya adalah terkait dengan adanya permintaan Maskapai Saudia Airlines (yang menjadi maskapai pengangkut calhaj, Red.) yang menginginkan run-way bandara harus sepanjang 3.000 meter untuk kepentingan landing dan take-off pesawat mereka yang berjenis Boeing 777 dan A380 Airbus. Run-way yang sudah siap digunakan baru sepanjang 2.500 meter, masih ada kekurangan sekitar 500 meter dari kebutuhan pesawat-pesawat besar.
“Kita mendapat permintaan dari pihak maskapai pengangkut calhaj, khususnya Saudia Airlines, agar run-way bandara kita sepanjang 3.000 meter, sementara kita baru siap 2.500 meter. Saya optimistis tahun ini kita bisa menyelesaikan penambahan run-way sepanjang 500 meter lagi, namun kan pemberangkatan calhaj tahun ini dilaksanakan pada bulan Juli. Tahun-tahun selanjutnya kita siap menjadi bandara haji,” kata Widodo seraya menyebutkan penambahan panjang run-way itu merupakan prioritas yang harus segera diselesaikan.
Di sisi lain, BIJB sesungguhnya sudah sangat siap menerbangkan pesawat mulai bulan Juni tahun ini. Kesiapan tersebut khususnya terkait dengan pelayanan penerbangan pesawat-pesawat yang ukurannya di bawah Airbus A-380 atau Boeing 777. “Pihak PT Angkasapura II akan menyelesaikan penambahan run-way pada tahun ini,” katanya.
Menurut Widodo, PT BIJB telah membangun segala sesuatunya hingga rampung. Dua sisi pembangunan bandara telah rampung semuanya. Untuk pembangunan sisi udara pihaknya mengklaim telah selesai 90 persen. Pembangunan sisi daratnya juga demikian, terdiri dari pembangunan infrastruktur sudah hampir 100 persen, proyek pembangunan terminal sudah 93 persen, dan bangunan penunjang seperti gedung pemadam kebakaran dan sebagainya telah rampung 90 persen.
Menurut Widodo, kesiapan operasionalisasi BIJB pada Juni tahun ini tersebut sesuai dengan harapan dan permintaan yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Bapak Presiden meminta Juni 2018 kita harus sudah siap melayani penerbangan. Dan kita memang sudah siap melayani penerbangan baik domestik maupun internasional,” katanya.
Belum Ada Kepastian
Terkait hal yang sama, Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka, H Kiki Basuki Rachmat, menyatakan pihaknya hingga saat ini masih belum mendapat informasi pasti tentang keberangkatan calhaj, khususnya asal Majalengka, melalui BIJB pada Juli tahun ini. “Kami belum mendapat informasi tentang kepastian keberangkatan calhaj tahun ini melalui BIJB,” katanya saat ditemui Sinarmedia, Rabu (4/4) di kantornya.
H Kiki juga tidak memberikan penjelasan detail terkait hal itu karena persoalan calhaj berangkat dari bandara mana, itu merupakan kewenangan pusat. H Kiki menyebutkan sejumlah pejabat Kemenag baik dari Direktorat Haji dan Umrah Kemenag RI maupun Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat memang sudah meninjau BIJB. “Bagaimana hasilnya, itu ada di provinsi dan pusat. Itu bukan ranah kewenangan kami di sini,” ujarnya.
H Kiki mengaku pihaknya juga mengetahui kondisi kekinian yang telah dicapai BIJB. “Kami mengetahui juga soal run-way yang dianggap masih kurang panjang oleh maskapai penerbangan tertentu, sebagaimana juga disampaikan pihak BIJB. Kita sih di sini (Majalengka, Red.), hanya menunggu dan siap melaksanakan keputusan dari pusat,” katanya.
Meski demikian, kata H Kiki, ada hal yang diketahui masyarakat khususnya para calhaj. Disebutkan Kiki, bila nanti diputuskan calhaj asal Jawa Barat berangkat dari BIJB di Kertajati, maka tetap saja embarkasinya di Bekasi.
“Jadi calhaj tetap diberangkatkan ke Embarkasi Bekasi dulu sebelum kemudian terbang dari BIJB. Itu kalau nanti diputuskan calhaj bisa terbang dari BIJB pada musim haji tahun ini. Informasi ini penting diketahui para calhaj agar menjadi maklum dan tidak menimbulkan keraguan,” katanya.
Menurut Kiki, sejak pertengahan tahun 1990-an Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan Embarkasi Bekasi sebagai embarkasinya calhaj asal Jawa Barat. Embarkasi tersebut telah dilengkapi dengan segala fasilitas yang dibutuhkan terkait pemberangkatan calhaj ke Tanah Suci. “Di Embarkasi Bekasi, hotelnya saja bintang tiga lho,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah nanti pada saat BIJB telah resmi menjadi bandara pemberangkatan calhaj asal Jawa Barat di tahun-tahun selanjutnya lantas akan dibuatkan lagi embarkasi di sekitar bandara, H Kiki mengatakan dia tidak bisa menjawabnya. “Mohon maaf, itu bukan wilayah saya. Itu ranah kebijakan pusat,” ujarnya.
Meski demikian, secara pribadi Kiki berharap ke depan bisa dimungkinkan dibuatkan kembali embarkasi di sekitar wilayah yang berdekatan dengan BIJB di Kertajati. “Ini harapan pribadi lho. Ini keinginan pribadi saya, agar lebih dekat saja dengan bandara. Tapi, sekali lagi, itu kan urusan pusat,” katanya.
Usulan Maskapai
Humas UMP PT BIJB, Rizkita T Widodo, juga menyebutkan pembangunan BIJB akan terus dilakukan dan baru berakhir tahun 2032. Sejumlah fasilitas modern juga disiapkan di BIJB, selain tentunya sejumlah fasilitas penunjang yang harus ada di bandara seperti gudang kargo dan sebagainya.
“Bandara yang dibangun dengan biaya Rp 2,6 triliun ini ditargetkan akan dapat melayani 29 juta pengguna pesawat terbang setahunnya,” ungkapnya.
Disinggung mengenai kesiapan sumber daya manusia (SDM)-nya, Widodo menyebutkan pihaknya memprioritaskan menggunakan para pekerja yang berasal dari warga lokal Kabupaten Majalengka. Dikatakannya, BIJB telah melakukan dua kali rekruting. Yang pertama diikuti sekitar 7.000 pendaftar tapi hanya diluluskan 46 orang saja untuk tenaga keamanan (security). “Yang diterima itu semuanya orang Majalengka,” tegasnya.
Kemudian pada rekruting kedua, BIJB menerima sekitar 1.200 pendaftar. Dari jumlah itu hanya diterima sebanyak 52 orang saja. “Ke-52 orang itu semuanya warga di lima desa di Kecamatan Kertajati yang merupakan lokasi terdampak proyek BIJB. Mereka kini sedang dilatih di Curug Bandung sebagai tenaga nonteknik di area bandara seperti petugas front-office dan sebagainya,” ujarnya lagi.
Terkait dengan sejumlah kabar yang menyebutkan PT BIJB telah merilis sejumlah nama maskapai penerbangan domestik dan internasional (termasuk juga dengan jenis pesawat, frekuensi terbang dan tujuannya), Widodo, menyebutkan informasi yang sudah tersebar tersebut sesungguhnya masih merupakan usulan pihak maskapai penerbangan ke PT BIJB.
“Prosedurnya kan begini, dari manajemen maskapai penerbangan itu mengajukan usulan kepada BIJB. BIJB kemudian mengajukan nama-nama maskapai beserta segala macamnya ke Dirjen Udara Kemenhub. Nah Dirjen Udara inilah yang kemudian memutuskan usulan mereka,” kata Widodo.
Meski begitu Widodo mempersilakan informasi tersebut disebarkan namun tetap dengan catatan bahwa nama-nama itu baru merupakan usulan. “Silakan saja dimuat, tapi sebutkan pula itu baru usulan. Perlu saya katakan bahwa memang beberapa kesepakatan dengan para pihak maskapai sudah ada, termasuk juga dengan maskapai penerbangan asing,” ujarnya.
Berikut daftar usulan maskapai beserta jenis pesawat, frekuensi terbang dan tujuannya: Penerbangan domestik, yakni: Pesawat Wings Air, Tipe Pesawat ATR72-600 Frekuensi Terbang 6 Kali/Hari Tujuan Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Palembang, Tanjungkarang, Solo. Pesawat Citilink, Tipe Pesawat A320-200 Frekuanesi Terbang 6 Kali/Hari Tujuan Surabaya, Denpasar, Lombok, Batam, Makassar, Pontianak, Medan, Jogjakarta, Palembang Pekanbaru.
Pesawat Lion Air, Tipe Pesawat Boeing 737-900 Frekuanesi Terbang 3 Kali/Hari Tujuan Denpasar, Medan, Padang. Pesawat Batik Air, Tipe Pesawat Boeing 737-900 Frekuensi Terbang 3 Kali/Hari Tujuan Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya. Pesawat Garuda, Tipe Pesawat Boeing 737-800 Frekuensi Terbang 3 Kali/Hari Tujuan Denpasar, Medan, Padang. Pesawat Sriwijaya Air, Tipe Pesawat Boeing 737-800 Frekuensi Terbang 3 Kali/Hari Tujuan Makassar, Pontianak, Pelambang.
Penerbangan Internasional: Pesawat Carter Common (Umrah), Tipe Airbus A320-200 Frekuensi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Jeddah Saudi Arabia. Pesawat Carter Haji, Tipe Airbus A330-300 Frekuensi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Jeddah Saudi Arabia. Pesawat Air Asia, Tipe Airbus A32-200, Frekuensi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Singapura. Pesawat Malindo, Tipe Boeing 737-800, Frekuensi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Kualalumpur. Pesawat Silk Air, Tipe Boeing 737-800, Frekunesi Terbang 1 Kali/Hari Tujuan Singapura.
Pesawat Garuda, Tipe Boeing 737-800, Frekuensi terbang 1 Kali/Hari Tujuan Singapura. Pesawat Lion Air, Tipe Boeing 737-800, Frekuensi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Jeddah Saudi Arabia. Pesawat Batik Air, Tipe Airbus A320-200, Frekunesi Terbang 2 Kali/Hari Tujuan Singapura. Pesawat To Sister Province Airport, Tipe Boeing 737-800, Frekuensi Terbang 1 Kali/Hari Tujuan Jepang. (Arif/Sinarmedia)

99 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/terkait-pemberangkatan-calhaj-di-bijb-masih-simpang-siur/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *