Toto Sumianto : “Saatnya Guru Profesional”

toto
Dr. Toto Sumianto, M.Pd

Majalengka,(Sinarmedia).-
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PGRI ke 69  dan Hari Guru Nasional (HGN) ke 20 di Kabupaten Majalengka semestinya mempunyai arti tersendiri dibanding dengan peringatan hari guru di kabupaten lain. Keluarnya Surat keputusan Mahkamah Agung (MA) yang membebaskan guru Aop Saopudin dari jeratan hukum merupakan kado terindah yang tak ternilai bagi guru di Kabupaten Majalengka seperti yang disampaikan oleh salah seorang guru SD di Jatiwangi Aceng Kusmawan S.Pd.
Betapa tidak, makna yang tersirat dari keputusan MA tersebut adalah tindakan yang dilakukan oleh Aop selaku guru dalam merazia rambut muridnya yang gondrong merupakan tindakan yang tidak salah dalam menerapkan disiplin terhadap anak didiknya. Dengan demikian guru tidak perlu gamang dan ragu-ragu dan takut terjerat hukum dalam menegakkan disiplin di sekolah sepanjang berpedoman kepada rambu-rambu aturan serta dilandasi niat mulia dalam upaya mendidik anak.
Munculnya wacana untuk melakukan sujud syukur dalam acara puncak peringatan hari Guru 25 November lalu menurut Aceng tidak berlebihan. Momentum hari guru merupakan saat yang tepat untuk bersyukur kepada Allah atas kebebasan seorang guru yang teraniaya dan lebih dari itu untuk memberi semangat kepada guru-guru untuk bekerja profesional dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai pendidik untuk tidak takut dikenai sangsi hukum asalkan dilaksanakan sesuai aturan yang ada dalam upaya menegakkan kedisiplinan.
Aceng sangat menyayangkan acara sujud syukur dalam puncak peringatan hari guru tersebut tidak terlaksana akibat adanya pihak-pihak yang ketakutan dan menyebutnya kental dengan muatan politis. Padahal kata Aceng ia tidak mendapat argumen yang bisa dipertanggung jawabkan kalau sujud syukur dikategorikan  sebagai upaya politisasi.
Namun Aceng sangat mengapresiasi statemen Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka DR.H. Toto Sumianto, M.Pd. yang menyebutkan bahwa kebebasan Aop merupakan khabar baik bagi dunia pendidikan. Kasus Aop merupakan pelajaran berharga bagi para guru untuk tidak takut dalam menerapkan disiplin di lingkungan sekolah selama sesuai dengan koridor dan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, Dr. Toto Sumianto. M.Pd. mengatakan, peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-69 dan hari Guru Nasinal ke-20 diharapkan dapat dijadikan satu momentum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Majalengka.
Selain itu dengan HUT PGRI dan HGN dapat muncul perubahan karakter guru sesuai dengan kurikulum 2013,setidaknya untuk guru dapat memahami aplikasi dari krikulum 2013 serta bisa meningkatkan kedisiplinan, dan kreatifitas dalam pembelajaran .
“Setiap guru mampu membentuk karakter siswa sehingga tercermin kepada terbentuknya karakter siswa yang baik. Karena setiap mata pelajaran memiliki muatan inti yang harus diterima oleh setiap siswa, karena  setiap guru berkeinginan anak didiknya  berhasil meraih pendidikan yang baik,” katanya.
Toto menambahkan, dengan HUT PGRI dan HGN ini diharapkan guru tidak  ada yang malas bekerja, sebab pemerintah telah memperhatikan profesi guru dengan memberikan tunjangan guru yang meningkat dengan adanya sertifikasi serta tunjangan profesi guru.
“Intinya, ketika guru bekerja tulus dan ikhlas, baik dalam kinerja di sekolah maupun di masyarakat dan mensyukuri yang ada, maka kerjapun akan  semangat,” ujar Kadisdik. (Samsul).

476 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Google+
http://sinarmedia-news.com/toto-sumianto-saatnya-guru-profesional/
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *